Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Agama & Manusia

Semua orang Islam berpandangan bahwa agama adalah murni dari Allah dan bukan buah pemikiran manusia. Maksudnya, manusia sama sekali tidak campur tangan di dalamnya. Itulah sebabnya secara teologis, orang Muslim berkeyakinan bahwa Al-Quran murni turun dari Sorga; dengan segala kertas dan huruf-huruf bukunya. Belakangan, pandangan ini lambat laun ditinggalkan karena mereka merasa bahwa hal seperti itu amat sangat sulit dipertahankan dari segi akal sehat. Walaupun demikian, orang Muslim tetap bertahan pada pendapat yang rancu ini: Al-Quran tidak memiliki kesalahan; atau manusia tidak mempunyai andil dalam terbentuknya ayat-ayat Al-Quran. Namun, kita tahu bahwa Al-Quran penuh dengan pelbagai kesalahan dan kerancuan. Manusia terutama, Muhammad sangat berperan di dalamnya. Apa yang mau kami katakan adalah bahwa tidak ada agama tanpa manusia. Seandainya manusia tidak ada, maka agama juga tidak ada. Itu artinya; agama hadir dan ada terutama karena manusia ada. Dapat dicurigai bahwa semua agama dapat salah kalau mereka yang mengakui mendapat wahyu dari Tuhan adalah salah. Dalam kondisi ini; manusia berperan penting dalam terbentuknya agama. Tuhan memakai manusia yang penuh dengan keterbatasan; sekalgus Dia mau menunjukkan keagunganNya melalui orang-orang sederhana dan tak terpelajar. Contoh, Tuhan berkenan menjadi manusia melalui seorang perempuan saleh dan sederhana yakni Maryam atau Maria. Tanpa Maria, Tuhan tidak mungkin dapat menjadi manusia. Dengan kata lain; Maria berperan dalam terbentuknya agama Kristen.
Islam tidak mungkin ada tanpa Muhammad. Padahal kita tahu bahwa Allah tidak mungkin tidak ada; walaupun Muhammad tidak ada. Artinya Allah tetap ada sekalipun misalnya Muhammad tidak ada. Dengan lain kata: Muhammad sangat berperan dalam terbentuknya agama Islam. Jika manusia terlibat di dalamnya; maka dengan itu kita tahu bahwa Tuhan berkenan memakai keterbatasan manusia untuk kemuliaan namaNya. Itulah sebabnya kita tidak perlu heran kalau banyak kata, kalimat dalam kitab suci agama-agama di dunia ini, tidak terlalu sempurna jika ditinjau ‘ilmu logika modern”


37. Isa Pernah Mati

Menurut Muslim (lihat no 12); Isa tidak mati. Pernyataan ini mengandung kebenaran. Pada kenyataannya, Isa memang tidak mati; tetapi Isa pernah mati dan kemudian bangkit untuk hidup selama-lamanya. Apanya yang mati? Yang mati adalah tubuh fisikNya. Kenyataan seperti ini pasti dialami oleh semua manusia. Tetapi fisik mati, kemudian hidup kembali adalah khas Yesus; belum dialami oleh manusia (terutama mereka yang telah mati dan menolak Yesus). Sedangkan, mati dalam arti “dari ada menjadi tidak ada/lenyap tak berbekas” adalah tidak mungkin. Jiwa manusia bersifat kekal dan ia tidak mengalami kematian. Alkitab memberi penjelasan yang kuat kepada kita. Penjelasan ini tidak hanya dapat kita temukan dalam Perjanjian Baru; tetapi juga dapat dilihat dalam Perjanjian Lama. Kematian Yesus (fisik) telah diramalkan oleh nabi-nabi Perjanjian Lama.

“Tuhan Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku diantara mereka yang turun ke liang kubur” (Mzr 30:4). Tidak hanya itu, nabi Yesaya meramalkan pula kematianNya. “Sungguh ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umatKu ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya diantara orang-ornag fasik dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya” (Yes 53:8-9).

Jadi kematian Isa ini telah diramalkan 700 tahun sebelum Ia hadir ke dunia ini. Selain para nabi, Isa sendiri meramalkan kematiannya. (Silahkan baca keseluruhan keempat Injil). Ia uni dan Istimewa. Maut tidak menguasai Dia. Tanah yang terkutuk tidak sanggup menampung Dia sebab Ia berkuasa membangkitkan diriNya dari alam maut.


38. Muhammad dan Paulus

Muhammad menyebarkan agama Islam (sebahagian besar) disertai dengan pedang.

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat 9:5).

Ia mencaplok negeri orang kafir dan membunuh semua orang yang dijumpai yang tidak sepaham dengan dia. Reputasi Muhammad ini kemudian dipuji oleh Al-Quran sebagai lelaki teragung yang pernah ada dalam sejarah manusia. Demikian Muhammad menyebarkan ajaran Allahnya.

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman…”(Surat 9:14).

Allahnya Muhammad benar-benar menginginkan agar ajaran agamaNya disebarkan melalui perang. Tampaknya perang adalah kesukaan Allah. Ia tidak berbeda jauh dengan Kaisar Nero pada jaman Gereja Perdana di wilayah kekaisaran Roma dahulu. Lihat pernyataanNya berikut ini:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk” (Surat 9:29).

Muhammad berkata:

“Aku diperintahkan untuk memerangi ornag-orang kafir, kecuali jika mereka sudi bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kemudian mereka mendirikan salat dan membayar zakat. Apabila mereka sudah menjalankan semua itu, maka jiwa dan harta mereka aku lindungi, kecuali yang dipungut untuk kepentingan Islam maka Allah-lah yang menentukan perhitungannya” (Hadis Al-Bukhari no.25)

Berbeda dengan Muhammad, Paulus mewartakan ajaran Tuhannya dengan cara yang lain sekali. Paulus menyebarkan ajaran Tuhannya dengan membagikan karunia rohani. Jauh dari ancaman, kekerasan dan pedang

“Aku berdoa, semoga dengan kehendak Elohim aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu. Sebab aku ingin melihat kamu untuk MEMBERIKAN KARUNIA ROHANI KEPADAMU guna menguatkan kamu, yaitu supaya aku ada diantara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama; baik oleh imanmu maupun oleh imanku “ (Rom1:10-12).

Muhammad memakai cara Allahnya yang haus darah, sedangkan Paulus memakai cara Tuhannya yang butuh (haus) kepercayaan umatNya. Tuhan dari Paulus menghendaki manusia percaya kepadanya. Tuhan itu hanya “butuh” atau “haus” iman dari umatNya. Tidak lebih. Jika umatNya telah percaya maka segala sesuatunya menjadi mudah. Bandingkan pertobatan Kepala Penjara di Filipi berikut ini.

“Tuan-tuan apakah yang harus aku (Kepala Penjaran di Filipi) perbuat, supaya aku selamat? Jawab mereka (Paulus dan Silas): “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya….Dan ia sangat bergembira bahwa ia dan sisi rumahnya telah menjadi percaya kepaa Elohim”. (Kis 16:30.-32.34).

Di sini Penulis Kisah Rasul menyamakan percaya kepada Yesus sama dengan percaya kepada Elohim; dengan kata lain Yesus disamakan dengan Elohim (Bandingkan antara Kis 16: 30-31 dengan Kis 16:34). Satu hal lagi dapat kita tuliskan di sini mengenai pemberitaan Paulus.

“…Dengan pertolongan Elohim kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Elohim kepada kamu dalam perjuangan yang berat. Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. Sebaliknya karena Elohim telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Elohim yang menguji hati kita. Karena kami tidak pernah bermulut manis, hal itu kamu ketahui, dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi, Elohim adalah saksi, juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. TETAPI KAMI BERLAKU RAMAH DI ANTARA KAMU, sama seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawat anaknya. Demikianlah kami dalam KASIH SAYANG YANG BESAR AKAN KAMU, bukan saja rela membagi Injil Elohim dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi” (1Tes 2: 2-8).

Jadi, Paulus memberitakan ajaran Kristen dengan kasih dan cara hidup yang baik, saleh dan patut, sedangkan Muhammad memberitakan ajaran Islam dengan kekerasan dan sikap hidup yang jauh dari kepantasan (termasuk memiliki bini dan gundik yang berkelimpahan, mengawini isteri anak angkatnya sendiri dan lain sebagainya).

39. Percaya Alkitab

Kita baca apa yang ditulis oleh ahli Islam yakni Insan LS Mokoginta, dalam bukunya, Mustahil Kristen Bisa Menjawab:

“Alkitab yang diantaranya terdiri dari Taurat, Zabur dan Injil adalah nama-nama kitab suci yang banyak disebutkan oleh Al-Quran. Bahkan ummat Islam wajib mengimaninya karena kitab-kitab tersebut adalah kitab-kitab yang pernah Allah turunkan ke dunia ini. Taurat kepada nabi Musa, Zabur kepad Nabi Daud, dan Injil kepada Nabi Isa. Karena Al-Quran banyak menyebut-nyebut kitab-kitab tersebut, maka kami ummat Islam juga mempelajari apakah kitab-kitab yang dimaksud Al-Quran itu ialah seperti yang ada sekarang ini di tangan umat kristiani. Dalam mempelajarinya kami justeru menemukan begitu banyaknya ayat-ayat yang jelas-jelas berasal dari penulis kitab itu sendiri maupun orang lain…”

Insan Mokoginta secara tidak disadarinya bahwa pernyataannya tersebut menimbulkan banyak kesulitan bagi dirinya sendiri dan bagi ummat Islam pada umumnya. Pertama, jika ternyata Alkitab yang ada di tangan orang Kristen sekarang ternyata bukan Alkitab yang dirujuk oleh Al-Quran, maka orang Islam berkewajiban mencari Alkitab yang bersangkutan untuk diimani isi ajarannya. Jika Alkitab tersebut tidak ditemukan, maka pernyataan Al-Quran tidak dapat dipertanggungjawabkan atau omong kosong. Kedua, Jika, Al-Quran omong kosong belaka, maka Al-Quran pasti tidak berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sebab Tuhan Yang Maha Kuasa tidak mungkin berdusta.
Selanjutnya Insan Mokoginta berusaha membuktikan bahwa Alkitab tidak berasal dari Allah dengan menyebut sejumlah penulis Alkitab, antara lain Paulus, Yakobus dan Yudas. Insan kemudian menulis:

“Dalam meneliti, mempelajari dan mendalami kandungan Alkitab kami tidak menemukan adanya ayat yang menjamin bahwa Alkitab itu benar-benar diturunkan oleh Allah dan Dia yang menjaganya”.

Sekali lagi, kalau Alkitab tidak berasal dari Allah, seharusnya Insan membuktikan dimanakah keberadaan Alkitab yang dimaksud oleh Al-Qurannya, sebab Alkitab Kristen ternyata tidak berasal dari Allah Sayangnya, Insan dan ummat Islam pada umumnya tidak sanggup membuktikan bahwa memang ada Alkitab selain Alkitab yang dipegang oleh orang Kristen sekarang.
“Berbeda dengan Al-Quran, yang bisa bersaksi dan berbicara dari dirinya sendiri bahwa dia benar-benar berasal dari Allah”.

Menarik bahwa Insan Mokoginta memperkuat pernyatannya tersebut dengan mengutip sejumlah ayat yang justeru memperlihatkan kepada pembacanya bahwa orang yang berbicara dalam ayat tersebut bukan Allah tetapi makhluk lain.

1) a).Kita dapat merasakan dengan sangat baik bahwa orang yang berbicara dalam ayat ini bukan Allah. Kalau Allah yang berbicara, seharusnya Dia berkata: “Ini adalah ayat-ayatKu (SabdaKu), dan bukan “Ini adalah ayat-ayat AlKitab (Al-Quran). b)Kata-kata: “Ini adalah ayat-ayat AlKitab (Al-Quran)….dstnya menunjukkan bahwa orang tersebut sedang memperlihatkan “ayat-ayat Alkitab (Al-Quran” kepada pendengarnya. Jadi, dia yang menunjuk kepada ayat-ayat Al-Quran pasti bukan dia yang berada dalam “ayat-ayat Alkitab (Al-Quran), sementara pernyataan tersebut sudah menjadi bagian dari Al-Quran. Artinya, Al-Quran itu tidak murniberasal dari Allah.

2) “Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Surat 14:1) a)Kita dapat mengajukan pertanyaan: siapakah yang dimaksud dengan “Kami” dalam ayat ini? Yang pasti bukan Allah. b)Kata-kata (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu dstnya…bukan berasal dari Allah. Kalau dari Allah Allah, seharusnya Dia berkata: “(Ini adalah ) Kitab yang Aku (Kami) turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia….. dengan izinKu bukan dengan izin Tuhan mereka. Dengan demikian, kita dapat mengetahui secara pasti bahwa Al-Quran itu tidak murni berisi suara Allah, dan pasti tidak berisi kata-kata dari Tuhan, Yahwe Elohim. Dua ayat di atas kami ambil dari bukunya Insan. Point nomor 3 berikut ini dapat kita telusuri dalam Al-Quran sendiri. 3). “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. (Surat 33:37). “Tahanlah terus isterimu dan bertaqwalah kepada Allah”. Kata-kata ini tentu saja berasal dari Muhammad. Dengan ini kita tahu bahwa Muhammad telah memberi sumbangannya kepada terbentuknya Al-Quran. Jadi, Al-Quran tidak murni berasal dari Allah sebab ternyata di dalamnya terdapat juga kata-kata dari Muhammad. Kita tahu bahwa kalimat itu berasal dari Muhammad karena Allah memberikan laporannya kepada pembacaNya.




40. Leluhur Isa.

Seorang pembela Islam di Indonesia bernama Insan LS Mokoginta tak jemu-jemunya menghujat iman Kristen. Ia dengan begitu lihai, tak bedanya seorang teoris, memakai segala cara untuk menghina Isa Almasih, nabi yang diimaninya juga. Namun, bagi nabi Isa, penghinaan Insan bukanlah sesuatu yang baru. Nabi Isa bahkan telah membuat Insan menjadi seorang yang kaya raya di Indonesia karena mendapat keuntungan dari penjualan buku-buku anti Kristennya. Ia bahkan telah menyediahkan hadiah mobil BMW jika ada orang yang sanggup menjawab sejumlah pertanyaannya. (Lihat buku yang berjudul: Berhadiah Mobil BMW: Mustahil Kristen Bisa Menjawab, 2005). Insan membentangkan silsilah Yesus mulai dari Abraham sampai Yusuf (suami Maria).
Jika kita membaca Alkitab, kita akan berhadapan dengan seorang pribadi yang disebut Yahwe. Ia berbicara kepada kita tentang bangsa Yahudi apa adanya. Tidak ada kepalsuan. Semua kebobrokan nenek moyang bangsa pilihanNya itu diungkapkan secara jelas dan tuntas. Namun, Yahwe ternyata memakai juga orang-orang yang “kotor” itu untuk karya penyelamatanNya bagi segala bangsa. Semua manusia telah terjerat dosa. Untuk itulah Dia dikatakan “Yahwe” karena Dia sanggup membersihkan yang kotor. Dia sanggup memakai apa yang tidak patut menjadi layak. Jika Insan merasa jijik dengan keadaan nenek moyang bangsa Yahudi, maka perasaan itu lebih pada penolakan terhadap sesuatu yang nyata dalam sejarah bangsa Yahudi. Kita baca apa yang ditulis oleh Insan berikut ini:

“Sangat naif sekali pezinah seperti Yehuda dan Tamar yang melahirkan dua anak kembar Perez dan Zerah dijadikan orang-orang yang menduduki tempat terhormat dalam silsilah Yesus Kristus. Ini berarti bahwa anak-anak Perez dan Zerah pun termasuk anak-anak keturunan dari anak-anak haram, termasuk Yusuf suami Maria yang kemudian melahirkan Yesus Kristus”.

Kita dapat memahami keresahan Insan. Ia berharap bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang baik-baik saja sebagaimana digambarkan oleh Al-Qurannya. Pada kenyataannya, banyak dari nenek moyang bangsa pilihan ini bertindak bejat. Ini membawa kesulitan tersendiri bagi Insan dan ummat Islam seluruhnya. Di satu pihak mereka dituntut oleh Al-Quran untuk percaya atau mengimani Alkitab, di pihak lain mereka tidak sanggup menerima kenyataan bahwa ternyata nenek moyang bangsa Yahudi memiliki riwayat yang menyedihkan.
Jika Insan dan Islam percaya bahwa nenek moyang bangsa Yahudi ternyata orang-orang bejat, maka Al-Quran ternyata salah, sebab Al-Quran tidak memberikan gambaran yang sama dengan Alkitab. Al-Quran berkata:

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Yakub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik. (Surat 38:45-47).

Ayat-ayat Al-Quran yang lainnya membenarkan bahwa nenek moyang bangsa Yahudi adalah orang-orang yang baik-baik saja.

“Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Yakub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami lah mereka selalu menyembah” (Surat 21:72-73).


Sebaliknya, jika ayat-ayat Al-Quran tersebut memang benar, maka segala hujat/tuduhan Insan dan Islam kepada orang (iman) Kristen tidak memiliki dasar yang benar. Sangat naif rasanya kalau orang Islam menuduh kebobrokan nenek moyang bangsa Yahudi berdasarkan sumber yang tidak dapat mereka percayai kebenarannya. Jadi, orang Islam seharusnya mustahil beranggapan bahwa sebahagian nenek moyang bangsa Yahudi berlaku buruk. Jika Muslim menuduh berdasarkan laporan Alkitab bahwa nenek moyang bangsa Yahudi memang bobrok, itu artinya mereka menerima laporan Alkitab sebagai kebenaran. Kecuali kalau Islam hanya sekadar memfitnah, menuduh, mengejek dan mempermalukan orang-orang Kristen. Jika demikian, maka kita akan sangat bersyukur sebab kita tahu bahwa demikianlah hakikat Islam: hadir sebagai agama yang mengajarkan pengikutnya untuk menghina, memfitnah, mengejek dan menuduh agama lain. Itu artinya, agama Islam tidak dapat dipercayai sebagai agama yang diwahyukan oleh Yahwe, Tuhan Yang Perkasa. Orang Islam memang aneh: di satu pihak mereka mengakui bahwa nabi-nabi bangsa Yahudi adalah orang yang baik-baik; di pihak lain mereka menuduh sebahagian nabi-nabi Yahudi sebagai orang yang tidak bermoral.
Dengan gampang kita mengatakan bahwa orang Islam serba susah kalau memakai Alkitab untuk menyerang Alkitab dengan harapan menaikan pamor Al-Quran. Hasilnya nol besar. Mereka berharap bahwa dengan mengetahui kelemahan atau kekurangan agama Kristen maka otomatis agama Islam berada pada pihak yang benar. Nyatanya tidak. Jika orang Kristen memakai Al-Quran untuk menyerang Islam, maka Al-Quran tidak akan menjadi “senjatan makan tuan” sebab orang Kristen tidak percaya pada buku yang disebut Al-Quran itu. Apa pun hasil studi, seberapa pun buruknya Al-Quran, atau seberapa pun baiknya Al-Quran, sama sekali tidak menambah atau mengurangi otoritas Alkitab. Alkitab berdiri di atas kebenarannya sendiri. Berbeda dengan Islam, orang Kristen memakai Alkitab untuk membentengi dirinya terhadap gangguan agama lain sebab Alkitab sendiri menolak segala kemungkinan bahwa dalam Kitab Suci (Al-Quran) agama lain mengandung kebenaran. Alkitab tidak akan menjadi “senjata makan tuan”. Alkitab benar-benar “senjata yang dapat memberangus lawan”.


41. Buku Sejarah

Orang Islam sangat bangga dengan A-Qurannya. Salah satu penyebabnya adalah Al-Quran diyakini sebagai buku yang diturunkan langsung dari sorga. Menurut mereka Allah sendirilah yang mendiktekan kata-kataNya untuk diucapkan dan ditulis oleh Muhammad atau terutama pengikut Muhammad. Mereka berkeyakinan pula bahwa segala sesuatu yang tercantum di dalam Al-Quran pasti benar dari segi manapun. Dari sudut ilmu pengetahuan; orang Islam berpendapat bahwa Al-Quran adalah sumber segala ilmu. Yang paling mencengangkan adalah adanya keyakinan bahwa Al-Quran adalah sumber ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena Al-Quran adalah sumber segala ilmu maka buku ini diyakini pula sebagai sumber kebenaran sejarah dunia, terutama sejarah sejarah keimanan Yahudi dan Kristen. Al-Quran tampil sebagai “pengoreksi atau pembenar” atas Alkitab. Alkitab, misalnya, mengatakan bahwa Abraham mempersembahkan Ishak anaknya kepada Tuhan. Peristiwa sejarah itu tercatat sebagai kebenaran historis moleh orang-orang Kristen, terutama Yahudi selama ribuan tahun. Tak seorang pun, baik orang kafir maupun orang Yahudi meragukan kebenarannya.
Entah bagaimana, ternyata hal itu tidak benar menurut Allahnya Muhammad sebagaimana tercatat dalam Al-Quran. Allah beranggapan bahwa anak yang dipersembahkan oleh Abraham kepada Yahwe adalah Ismail dan bukan Ishak. Jadi, buku sejarah Islam (Al-Quran) benar, sedangkan buklu sejarah Yahudi (Alkitab PL) salah. Jika Allah orang Islam sama dan identik dengan Yahwe orang Yahudi; jika Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, maka tentunya Allah berkuasa dan sanggup mengendalikan orang Yahudi agar mencatat sejarah secara benar: “bahwa orang yang dipersembahkan oleh Abraham adalah Ismail dan bukan Ishak”. Jiaka Al-Quran dapat dipandang sebagai kitab sejarah yang benar, maka atas dasar apakah kita menerimanya sebagai kebenaran? Jika Muhammad benar, maka atas dasar apakah kita mengatakan bahwa Muhammad benar dan Yahudi salah dalam kasus Ishak ini?
Alkitab adalah kitab yang lahir bersamaan dengan lahirnya bangsa yahudi, sekalipun periode penulisannya berbeda: antara kelahiran bangsa Yahudi dan penulisan Alkitab. Namun apa yang ditulis (Isi, Sabda, Kisah dan Pengalaman Iman) sudah hadir bersamaan dengan lahirnya bangsa Yahudi; atau Alkitab adalah buku yang berisi sejarah lahirnya bangsa Yahudi. Al-Quran sangat lain. Kitab yang diturunkan dari sorga ini bukanlah kitab yang lahir bersamaan dengan lahirnya bangsa Yahudi; juga bukan kitab yang mencatat sejarah bangsa Yahudi. Al-Quran hanya mengklaim dan merekam ulang sejarah bangsa Yahudi (misalnya kisah Abraham, Ishak dan Yakub) secara salah. Al-Quran bukan buku sejarah, tetapi buku yang mengklaim (mengaku-ngaku tanpa bukti) kebenaran sejarah bangsa Yahudi. Sangat memalukan! Jadi, Al-Quran tidak dapat dipercaya sebagai kebenaran. Lagi pula kebenaran Al-Quran hanya mengandalkan seorang yang bernama Muhammad sebagai kebenaran, sedangkan Alkitab adalah seluruh manusia satu bangsa dan dari zaman ke zaman. Siapakah yang berani mengatakan bahwa seorang Muhammad benar? Dia pantas dicurigai sebagai pendusta yang menyesatkan banyak orang sebab kesaksian hanya datang dari dirinya sendiri. Orang Islam bisa saja berkata: “Allah adalah saksi”, tetapi apakah kata-kata itu dapat dibuktikan kebenarannya?


42. Agama Damai

Orang Muslim beranggapan bahwa Islam adalah agama damai. Allah, melalui Muhammad, datang membawa damai bagi seluruh umat manusia. Namun kita tahu kebencian untuk menumpahkan darah manusia, perang dan kekerasan adalah semangat Islam yang sejati. Allah bersabda:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Surat 2:216)

Itulah sebabnya tak satu pun negara Islam di dunia ini yang tidak memiliki pasukan terorisme. Kita ambil beberapa contoh: Jemaah Islamiyah beroperasi di Indonesia, Hamas di Palestina, Al-Qaidah di Afganistan dan seluruh daerah Timur Tengah dan kini sedang merambah ke seluruh pelosok dunia. Pada bulan-bulan ini (Mei-Juni 2007) negara kami sedang giat-giatnya menangkap sejumlah gembong teroris Islam. Kita baca tulisan sebuah koran nasional berikut ini:

“Penangkapan atas Yusron yang kemudian dipastikan sebagai Abu Dujana atau Ainul Bahri belum merupakan klimaks dari perburuan anggota jaringan teroris di Indonesia. Sebab sampai hari Rabu (13/6), gembong teroris asal Malaysia yang paling diburu , Noordin M Top, belum juga tertangkap” (Kompas, 14/6/2007).

Dua hari kemudian, koran yang sama melaporkan:

“Pemimpin tertinggi atau amir darurat kelompok Jemaah Islamiyah, Zarkasih alias Mbah (45), telah diringkus tim polisi antiteror di Daerah Istimewa Yogyakarta, selang sekitar enam jam sesudah penangkapan Abu Dujana (37) di Banyumas Jawa Tengah, tanggal 9 Juni lalu”. (Kompas, 16/6/2007).

Ada orang berpandangan bahwa pentolan Jemaah Islamyah itu adalah teroris. Pandangan seperti itu sebenarnya salah sebab hakikat Islam adalah kekerasan. Mereka hanya menjalankan perintah agama. Siapa yang melakukan kekerasan, atas nama Allah, adalah orang yang benar-benar Islam. Allah bersabda:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk” (Surat 9:29).

Sebuah hadis memberi kesaksian tentang tanggungjawab yang diberikan kepada Muhammad:

“Aku diperintahkan untuk memerangi orang-orang sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah suruhanNya, dan untuk menunaikan shalat lima waktu dan membayar zakat (HR Al-Bukhari dan Muslim)” (Buku Teroris Membajak Islam, Maret 2007).

Agama yang satu ini memang luar biasa. Selain Islam, semua agama mengejar kedamaian. Selain Islam, semua agama mencari cintakasih. Selain Islam, semua agama menolak pembunuhan, kekerasan, dan terorisme. Perhatikan pernyataan Syeikh Ahmad Yasin (bapak spiritual Gerakan Perlawanan Islam yang dikenal dengan nama Hamas) yang dikutip oleh M. Hasibullah Satrawi ini:

“Masa depan berada di tangan gerakan-gerakan politik keagamaan (Islam) dengan perlawanan dan jihad secara terus-menerus”

Satrawi kemudian menulis analisisnya:

“Pernyataan Syeikh Ahmad Yasin yang disampaikan empat tahun sebelum malaikat maut menjemputnya (2004) kini hampir sepenuhnya menjadi kenyataan. Saat ini gerakan-gerakan politik keagamaan banyak berkibar di dunia Arab. Mulai dari Palestina yang tidak pernah berhenti bergejolak hingga Mesir yang dalam beberapa tahun terakhir ini dikenal cukup “adem ayem”. (Kompas, 27/6/2007).

Koran yang sama melaporkan bahwa terdapat 1,4 persen (berarti 2.800.000) orang Indonesia menyatakan setuju bahwa ajaran Islam membolehkan aksi kekerasan dan 1,7 persen (3.400.000) menyatakan bahwa setuju mengusir dengan kekerasan warga non Muslim keluar dari lingkungan Muslim. Jumlah itu tidaklah sedikit. Kita tahu bahwa kekerasan pada intinya bertentangan dengan hakekat Tuhan Maha Kasih. Agama Islam pada hakekatnya tidak setuju dengan cintakasih.
Teroris tidak hanya orang Islam. Orang Hindu, Budha, Komunis-Ateis, dan bahkan orang Kristen pun dapat saja menjadi teroris. Namun, bedanya, teroris Islam adalah bentuk utama ketundukan/kepatuhan terhadap perintah Allah; sedangkan teroris non Islam adalah bentuk pembangkan terhadap Sabda Tuhan. Jadi, jauh bedanya. Orang Muslim berusaha menjadi orang saleh dengan jalan membunuh sesama manusia, sedangkan orang non Islam berusaha menjadi orang saleh dengan jalan mengasihi sesama dan menjauhi kekerasan dan pembunuhan. “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Hukum ini tidak dapat diterapkan dalam diri seorang Islam yang saleh sebab orang Islam saleh itu diwajibkan membunuh (sebab demikianlah kehendak Allah), sedangkan orang non Islam tidak boleh membunuh orang Islam sebab demikianlah agama mereka mengajarkannya. Jadi, dalam agama Islam tidak ada damai. Agama Islam tidak membawa sesuatu yang baru; sesuatu yang mencerahkan; kecuali kegelisahan, ketakutan, teror dan pedang.


43. Kerajaan Allah

Orang Muslim bisa menghabiskan banyak waktu untuk menganalisa “Kerajaan Elohim” yang dimaksud oleh Alkitab. Mereka menduga bahwa maksud dari “Kerajaan Elohim sudah dekat” (Mrk 1:15) dalam Alkitab adalah kedatangan Kerajaan Islam dan Muhammad adalah rajanya. Mengapa demikian? Mereka mengemukakan sejumlah keberatan, namun kita tampilkan dua pokok saja.

a). Kerajaan Elohim itu diambil dari bangsa Yahudi dan diberikan kepada suatu bangsa lain seperti kata Yesus dalam Alkitab.

“Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Elohim akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah kerajaan itu” (Mat 21:43).

b.) Seluruh daerah Timur Tengah praktis dikuasai oleh Kerajaan Islam. Ini bertentangan dengan Sabda Elohim dalam Alkitab:

“Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sunga yang besar itu, sungai Efrat…”(Kej 15:18-20).

Orang Islam juga memakai ayat lain dari Alkitab untuk membenarkan ramalannya.

“Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau (Abraham) serta keturunanmu turun temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Elohimmu dan Elohim keturunanmu. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Elohim mereka” (Kej 17:7-8)


Masih banyak hal lain yang diperdebatkan oleh orang Muslim dengan harapan agar orang-orang non Muslim tahu bahwa sabda Elohim dalam Alkitab ternyata sebenarnya menubuatkan kedatangan Muhammad. Atas harapan mereka itu, maka kita katakan tanpa ragu: Hal itu lebih baik bagi mereka sebab Al-Quran tidak memiliki dasar untuk berpijak. Berbeda dengan Al-Quran, Alkitab bersandar pada dua tiang penopang: Kitab Perjanjian Lama menjadi dasar pijakan untuk Perjanjian Baru, dan Perjanjian Baru adalah Penyingkapan (Pemenuhan) Perjanjian Lama.
Selanjutnya, apakah betul bahwa “Kerajaan Elohim” dalam Matius 21:43 adalah Kerajaan Islam (Artinya Yesus meramalkan kedatangan Kerajaan Islam?). Tidak! Yesus memberikan perumpamaan tentang orang Yahudi yang membunuh “Putera Elohim”. Pembunuhan ini menyebahkan “Kerajaan Elohim” diambil dari mereka (Yahudi). Kerajaan Elohim itu akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. Siapakah bangsa yang lain itu dan apakah yang dimaksud dengan ‘bangsa’? Yang pasti bukan Yahudi dan bukan bangsa Islam, tetapi bangsa yang menghasilkan buah Kerajaan itu. “Bangsa” adalah kumpulan orang yang beriman kepada Putera Elohim sebab perumpamaan itu berhubungan langsung dengan Putera Elohim. Muslim tentu tidak termasuk sebab Muslim sangat tidak percaya bahwa Yesus adalah Putera Elohim. Selanjutnya, kita harus tahu: apakah yang dimaksud dengan “Kerajan Elohim” dan apakah “buah Kerajaan Elohim:” itu:

1). ”Kerajaan Elohim” adalah tempat atau suasana dimana Elohim sendiri adalah Raja (Elohim meraja). Kerajaan Islam diperintah oleh manusia, sekalipun manusia yang disebut dengan Nabi Besar Muhammad, lelaki teragung.

2). Sesuai dengan konteks Matius 21:45; maka raja yang dimaksud adalah Putera Elohim yakni Yesus Kristus. Dialah yang memerintah atas dan atau dalam nama BapaNya. Karena jelas bahwa Yesus Kristus adalah rajanya, maka tidak mungkin Kerajaan Elohim itu adalah Kerajaan Islam.

3). Buah dari Kerajaan Elohim bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal KEBENARAN, DAMAI SEJAHTERA dan SUKACITA oleh ROH KUDUS (Rom 14:17). Kita tahu bahwa Kerajaan Islam adalah sangat bersifat duniawi, politis dan mengandung banyak ketidakbenaran, perang saudara terutama Islam Hamas dan Fatah di Palestina; Islam Syah dan Sunni di Irak. Kerajaan Islam tidak mungkin mengalami sukacita oleh Roh Kudus sebab mereka menolak Roh Kudus. Jadi, Kerajaaan Elohim itu bukan kerajaan Islam.

4).”Kamu sendiri melakukan ketidakadilan dan kamu sendiri mendatangkan kerugian dan hal itu kamu buat terhadap saudara-saudaramu. Atau tidak tahukah kamu bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Elohim. Karena begitu banyaknya ketidakadilan yang dibuat oleh kerajaan (negara Islam/Arab); maka Kerajaan Elohim itu pasti bukan kerajaan Islam

5).Kerajaan Elohim adalah soal Hidup Yesus; Sengsara Yesus, Wafat Yesus, Kebangkitan Yesus dan Kenaikan Yesus ke Sorga. Hidup Yesus menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Sengsara Yesus adalah penyatuan diriNya dalam seluruh perjuangan hidup manusia. Wafat Yesus adalah pemberian diriNya secara total kepada maut; dimana maut itu dialami oleh setiap manusia, dan dengan itu manusia mendapat kekuatan dari Sang Sumber Hidup; mauttelah dikalahkan dan terbitlah fajar hidup. Kebangkitan Yesus adalah penyataan kemenangan atas maut; pembenaran atas segala sesuatu yang telah dikatakan, diajarkan, dibuat dan dikerjakan oleh Yesus selama hidupNya. Semua orang yang mengikuti Dia akan mengalami hal yang sama. Manusia akan memperoleh hidup yang kekal. Kenaikan Yesus ke Sorga adalah Yesus kembali ke asalNya; asal segala sesuatu dan dengan itu semua manusia menjadi tahu bahwa segala sesuatu berasal dari atas, dari sorga, dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi, Kerajan Elohim bukan Kerajaan Islam yang, jangankan menyelamatkan orang lain, menyelamatkan orang Islam sendiri saja tidak sanggup.

Apakah betul Kejadian 15:18-20 dan Kejadian 17:7-8 adalah ramalan tentang Kerajaan Islam? Tidak! Nubuat itu telah digenapi ketika Yosua merebut daerah Kanaan dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Raja Daud. Kini “seluruh negeri” yang dimaksud tidak pernah menjadi milik orang lain, tetapi tetap menjadi milik Abraham dan keturunannya. Tanah itu sudah diberikan oleh Elohim sendiri kepada bangsa Yahudi. Pada kenyataannya “Kanaan” itu telah dirampok oleh teroris; diklaim oleh bangsa asing. Dikui sebagai milik oleh orang yang bukan pemilik adalah soal lain. Di dunia ini banyak kasus serupa. Tanah milik Si Paijo telah diberikan oleh ayahnya untuk selama-lamanya; tetapi kini tanah itu telah dirampas oleh “penguasa” dan diakui pula sebagai miliknya. Ketahuilah “tanah” itu tetaplah “tanah” Si Paijo untuk selama-lamanya walau pada kenyataannya telah dirampas oleh orang lain. “Seluruh tanah di bumi ini adalah milik Elohim; walau pada kenyataannya telah diklaim menjadi milik bangsa A; atau Manusia B dan sebagainya.
Di samping itu; jika panggilan Abram dari Ur Kasdim menuju tanah Kanaan; semata-mata dimengerti sebagai panggilan perpindahan tempat; maka perpindahan itu tidak memiliki nilai spiritual apa pun. Sebaliknya, panggilan Abram menuju Tanah Kanaan tidak semata panggilan untuk berpindah tempat tinggal, tetapi panggilan itu adalah suatu lambang perjalanan spiritual yang bermakna sangat dalam; bahwa manusia dipanggil dari dunia ini (dilambangkan Ur Kasdim; daerah yang tidak beriman) menuju Sorga (dilambangkan dengan Tanah Kanaan/Yerusalem Baru; daerah orang beriman, daerah para nabi, tempat tinggal para Kudus dan Yahwe Tritunggal)”. Abram dan seluruh keturunannya dijanjikan untuk memasuki Sorga dan menetap di sana selama-lamanya. Janji itu pasti dipenuhi oleh Elohim jika seluruh keturunan Abram menerima Putera Elohim. Jadi, hanya orang yang menerima Putera Elohim sajalah yang dapat tinggal disanak selama-lamanya.



44. Sunat

Semua orang Muslim pasti sudah dipotong kulit kulup penisnya. Mereka beranggapan bahwa dengan itu mereka melaksanakan perintah Allah. Namun, kalau Anda melihat Al-Quran, Anda tidak akan menemukan satu pun teks dimana Allah memerintahkan orang Muslim untuk disunat. Jika diselidiki lebih lanjut, ternyata sunat hanya mengikuti kebiasaan orang Yahudi. Dengan demikian, Muhammad tidak membawa sesuatu yang baru. Karena sunat tidak berakar dalam tradisi Islam sendiri, maka dari sudut teologi Islam, sunat tidak bermakna sama sekali. Bagi orang Yahudi, sunat adalah tanda perjanjian antara Yahudi dan Yahwe. Yahwe berjanji menjadi Tuhan Yahudi dan Yahudi adalah umatNya. Yahwe berjanji memberikan tiga karunia khusus kepada Yahudi yaitu berkat, keturunan dan tanah. Semuanya itu telah terpenuhi. Yahudi telah menempati tanah Kanaan, Yahudi telah mendapat berkat melimpah dan teurtama dari bangsa inilah telah lahir Sang Juru Penyelamat ; dan kini orang Yahudi berkembang dengan baik. Jadi, janji yang diikat dalam sunat ini tidak berhubungan dengan agama Islam yang baru lahir kemarin sore, bahkan orang Kristen pun tidak menerima janji itu secara langsung.
Sunat lebih sebagai tanda lahiriah. Orang Kristen tidak diwajibkan untuk disunat. Artinya kalau orang bersunat, ia tidak serta-merta menjalankan perintah Yahwe. Demikian juga kalau orang Kristen tidak melakukannya; itu tidak berarti bahwa dia melanggar perintah Tuhannya. Kalau ada orang Kristen mau bersunat, ya silahkan! Kalau tidak bersunat, juga tidak apa-apa. Orang Kristen lebih pada sunat bathin. Hati dan bathin setiap orang harus ditandai dengan darah Kristus. Setiap bathin atau hati yang ditandai dengan darah Kristus; maka dia wajib hukumnya untuk menjalankan perintah cintakasih: cinta kepada Yahwe dan kepada sesama. Inilah sunat yang paling pokok. Hati setiap orang harus dipimpin oleh Roh Kudus.


45. Allah Jujur

Semua orang Islam beranggapan bahwa Allah adalah Sesembahan yang jujur dan dapat dipercayai. Kata-kata atau sabdaNya dapat dipegang, dapat dipedomani. Namun, pernyataan tersebut tidaklah benar. Menurut Al-Quran, Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. (Surat 3:54).

Maksudnya, sehebat apa pun seseorang dalam urusan menipu, Allah masih lebih hebat lagi. Penipu ulung kaliber dunia sekalipun tetap tidak dapat menandingi Allah. Allah masih lebih hebat dalam hal menipu. Allah adalah Guru dari semua penipu. Kalau orang kafir menipu Allah, maka Allah membalas menipu juga. Kalau orang kafir berlaku jujur, maka Allah berlaku jujur juga. Kalau orang kafir membenci Allah, maka Allah membenci orang kafir juga. Tampaknya Allah banyak belajar dari orang kafir; atau mengikuti perilaku orang kafir saja. Ia tidak punya pendirian. Allah yang satu ini mudah diombang-ambingkan oleh angin sakal.


46. Semua Muslim Masuk Sorga

Orang Muslim di seluruh dunia berusaha keras agar Anda masuk Islam, mengikuti agama mereka. Mereka sangat yakin bahwa semua orang Islam akan masuk sorga. Asal masuk Islam maka segalanya jadi. Propaganda semacam ini menyesatkan Anda. Al-Quran tidak pernah berbicara secara demikian. Al-Quran justeru menetapkan bahwa semua orang Islam akan masuk neraka. Selanjutnya terserah Allah: mana yang akan masuk sorga dan mana yang akan tetap tinggal di neraka dalam keadaan berlutut.

“Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang lalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”. (Surat 19:71-72)

Untuk memperlunak teks ini, para pendebat Muslim biasa berkomentar: “Semua orang termasuk Muslim akan mendatangi neraka, jika tidak bertaqwa, akan disiksa meskipun sudah mengaku Muslim, apalagi non Muslim.” (Ini pengakuan Insan Mokoginta dalam bukletnya yang berjudul Debat Al-Quran Versus Bible Via SMS” 2005). Ternyata semua orang Islam akan mendatangi neraka. Mokoginta memperhalus, jika tidak bertaqwa. Kasihan bener orang-orang Islam. Selanjutnya Insan membela diri dan agamanya:

“Ayat tersebut bersifat umum, bukan khusus. Artinya berlaku kepada siapa saja. Maksudnya siapa saja walaupun dia itu orang Islam, bila tidak bertaqwa kepada Allah, pasti akan masuk neraka” (Insan, Ibid).

Penjelasan Insan ini lagi-lagi bukan kata-kata Al-Quran. Kata “dan tidak ada seorang pun daripadamu, dalam ayat di atas pastilah dimaksudkan untuk orang-orang yang menerima Al-Quran. Maksudnya: ketika Muhammad melantunkan ayat itu untuk pertamakalinya, pastilah ia berhadapan dengan orang-orang yang mau mendengarkan dia. Orang yang mendengar Muhammad tersebut tidak lain adalah pengikutnya. Nah, pengikutnya inilah yang dimaksud dengan “dan tidak ada seorang pun daripadamu”. Lain halnya kalau Al-Quran berkata: “dan tidak ada seorang pun manusia”; artinya berlaku bagi siapa saja yang disebut manusia. Jadi, kata “dan tidak ada seorang pun daripadamu” hanya ditujukan kepada orang Muslim dan bukan kepada semua manusia.



47. Injil Palsu

Semua orang Muslim fanatik berpraduga bahwa Injil adalah kitab palsu. Apa pun yang tertulis di dalamnya sudah tercemar. Injil tidak lagi mengandung kebenaran. Mereka kerapkali bertanya: “Dimanakah Injil yang ditulis Yesus?” Orang Muslim kemudian membuat sensai bahwa Injil yang asli adalah “Injil Barnabas”.
Kita tahu bahwa semua itu adalah bohong besar. Al-Quran mengakui bahwa Injil bernilai. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya yang menerangi. Setiap orang yang mengikutinya pasti selamat.

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Surat 5:46-47).

Kalau Al-Quran benar, maka pengakuannya harus dipertimbangkan oleh setiap orang Muslim yang saleh. Injil membenarkan kitab yang sebelumnya. Ia mengandung petunjuk dan cahaya yang menerangi. Pengikut Yesus diminta untuk diadili menurut Injil dan bukan menurut Al-Quran.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More