Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Buku Sejaran???

Orang Islam sangat bangga dengan A-Qurannya. Salah satu penyebabnya adalah Al-Quran diyakini sebagai buku yang diturunkan langsung dari sorga. Menurut mereka Allah sendirilah yang mendiktekan kata-kataNya untuk diucapkan dan ditulis oleh Muhammad atau terutama pengikut Muhammad. Mereka berkeyakinan pula bahwa segala sesuatu yang tercantum di dalam Al-Quran pasti benar dari segi manapun. Dari sudut ilmu pengetahuan; orang Islam berpendapat bahwa Al-Quran adalah sumber segala ilmu. Yang paling mencengangkan adalah adanya keyakinan bahwa Al-Quran adalah sumber ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena Al-Quran adalah sumber segala ilmu maka buku ini diyakini pula sebagai sumber kebenaran sejarah dunia, terutama sejarah sejarah keimanan Yahudi dan Kristen. Al-Quran tampil sebagai “pengoreksi atau pembenar” atas Alkitab. Alkitab, misalnya, mengatakan bahwa Abraham mempersembahkan Ishak anaknya kepada Tuhan. Peristiwa sejarah itu tercatat sebagai kebenaran historis moleh orang-orang Kristen, terutama Yahudi selama ribuan tahun. Tak seorang pun, baik orang kafir maupun orang Yahudi meragukan kebenarannya.
Entah bagaimana, ternyata hal itu tidak benar menurut Allahnya Muhammad sebagaimana tercatat dalam Al-Quran. Allah beranggapan bahwa anak yang dipersembahkan oleh Abraham kepada Yahwe adalah Ismail dan bukan Ishak. Jadi, buku sejarah Islam (Al-Quran) benar, sedangkan buklu sejarah Yahudi (Alkitab PL) salah. Jika Allah orang Islam sama dan identik dengan Yahwe orang Yahudi; jika Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, maka tentunya Allah berkuasa dan sanggup mengendalikan orang Yahudi agar mencatat sejarah secara benar: “bahwa orang yang dipersembahkan oleh Abraham adalah Ismail dan bukan Ishak”. Jiaka Al-Quran dapat dipandang sebagai kitab sejarah yang benar, maka atas dasar apakah kita menerimanya sebagai kebenaran? Jika Muhammad benar, maka atas dasar apakah kita mengatakan bahwa Muhammad benar dan Yahudi salah dalam kasus Ishak ini?
Alkitab adalah kitab yang lahir bersamaan dengan lahirnya bangsa yahudi, sekalipun periode penulisannya berbeda: antara kelahiran bangsa Yahudi dan penulisan Alkitab. Namun apa yang ditulis (Isi, Sabda, Kisah dan Pengalaman Iman) sudah hadir bersamaan dengan lahirnya bangsa Yahudi; atau Alkitab adalah buku yang berisi sejarah lahirnya bangsa Yahudi. Al-Quran sangat lain. Kitab yang diturunkan dari sorga ini bukanlah kitab yang lahir bersamaan dengan lahirnya bangsa Yahudi; juga bukan kitab yang mencatat sejarah bangsa Yahudi. Al-Quran hanya mengklaim dan merekam ulang sejarah bangsa Yahudi (misalnya kisah Abraham, Ishak dan Yakub) secara salah. Al-Quran bukan buku sejarah, tetapi buku yang mengklaim (mengaku-ngaku tanpa bukti) kebenaran sejarah bangsa Yahudi. Sangat memalukan! Jadi, Al-Quran tidak dapat dipercaya sebagai kebenaran. Lagi pula kebenaran Al-Quran hanya mengandalkan seorang yang bernama Muhammad sebagai kebenaran, sedangkan Alkitab adalah seluruh manusia satu bangsa dan dari zaman ke zaman. Siapakah yang berani mengatakan bahwa seorang Muhammad benar? Dia pantas dicurigai sebagai pendusta yang menyesatkan banyak orang sebab kesaksian hanya datang dari dirinya sendiri. Orang Islam bisa saja berkata: “Allah adalah saksi”, tetapi apakah kata-kata itu dapat dibuktikan kebenarannya?

1 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More