Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Isa Almasih Pembaharu

Dalam hal apakah Isa membawa sesuatu yang baru?. Terlalu banyak untuk dituliskan semuanya di sini. Kami hanya memberikan sejumlah hal pokok saja. Ingat, ada beberapa hal yang diyakini oleh umat Yahudi diyakini pula oleh umat Kristen. Sebaliknya ada banyak hal yang diyakini oleh umat Kristen tetapi tidak diyakini oleh umat Yahudi sebagai kebenaran. Beberapa hal pokok yang merupakan sesuatu yang baru; yang dibawa oleh Isa Almasih kami uraikan berikut ini.

1. Hakekat Tuhan. Hakekat Elohim tidak lagi hanya dimengerti secara tunggal/esa yang frigid; tetapi juga dimengerti sebagai Tritunggal Kudus yang berarti Satu dalam hakekat Keilahian; tetapi Tiga dalam realitas Kepribadian. (lihat Matius 28:19-20). Saya pernah ditantang oleh Mahasiswa Muslim bahwa Allah Yang Esa lebih hebat daripada “Allah Tritunggal”. Saya mengajukan pertanyaan sederhana kepada mahasiswa tersebut. “Manakah lebih besar: satu atau tiga? Manakah lebih besar 1000 atau 3000?” Hanya orang tolol saja yang menjawab bahwa 1000 lebih besar dari 3000. Namun demikian, Tuhan bukan soal angka. Selanjutnya, saya bertanya: apakah yang engkau maksud dengan “Satu”? Jika Allah dikatakan Satu; maka itu berarti bahwa Allah berada di antara ruang dan waktu. Jika Allah berada di antara ruang dan waktu; maka itu berarti Allah SANGAT TERBATAS. Padahal Allah menurut Muslim tidak terbatas. Demikianlah kalau kita memahami ALLAH SECARA MATEMATIS. Tritunggal Kudus yang dimengerti oleh orang Kristen bukan soal matematika. Bapa + Putera + Roh Kudus=3. Konsep ini sangat kerdil dan bukan doktrin iman Kristen. Dari segi penalaran logis Bapa + Putera + Roh Kudus tidak sama dengan 3. Bapa dan Putera dan Roh Kudus tidak dapat dijumlahkan, sebagaimana layaknya orang Islam dapat menjumlahkan angka 1+1+1=3. Bahkan 1+1+1=3 tidaklah logis; sebab seharusnya 1+1+1=1+1+1. Penalaran yang terakhir ini dapat menjadi 1+1+1+=1 dan BUKAN 1+1+1=3. Mengapa? Minimal unsur 1 di sebelah kiri terdapat juga di sebelah kanan. Sedangkan unsur 3 di sebelah kanan tidak mewakili salah satu pun unsur di sebelah kiri, jadi bagaimana mungkin dapat dikatakan SAMA DENGAN?. Jika Anda menambahkan satu (1) gelas air ke dalam ember, kemudian di tambahkan satu (1) gelas lagi dan ditambahkan satu (1) gelas yang terakhir, maka “AIR” itu tetaplah “AIR”. “AIR” itu tidak akan berubah menjadi “AIR TIGA GELAS”. HAKIKAT AIR tetaplah AIR. Hakikat AIR tidak akan berubah menjadi AIR TIGA GELAS. Namun semuanya itu adalah pemikiran logis manusia ala ilmu matematika. Sementara doktrin Tritunggal Kudus bukanlah ilmu matematika. Apa yang dikandung dalam gagasan TRITUNGGAL adalah mengenai Bapa dan Putera dan Roh Kudus yang adalah Pribadi Ilahi. Gagasan ini sama sekali baru untuk menyempurnakan gagasan Tuhan Yang Esa, yang sudah dikenal oleh orang Yahudi, jauh sebelum Muhammad lahir.

2. Hukum Balas Dendam diganti dengan Hukum Pengampunan. Al-Quran berkata:

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (Surat 4:104).

Bagi orang Islam, hukum balas dendam bertujuan menegakkan keadilan. Ini mirip dengan hukum dan doktrin Yahudi tentang “Pembalasan Di Bumi” bahwa Tuhan membalas setiap kebaikan manusia dengan berkatNya (sehat, kaya dll), dan membalas setiap kejahatan dengan kutuk (sakit, mati, kelaparan dll) selama di bumi. Doktrin Yahudi ini diterapkan secara kosisten oleh Muhammad. Dalam Surat Lebah dikatakan:

“[16.126] Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”

Dalam Surat Sapi Betina dikatakan secara panjang lebar dan mendalam:

[2.190] Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. [2.191] Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. [2.192] Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [2.193] Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang lalim. [2.194] Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum kisas. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. [2.195] Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Doktrin balas dendam dalam Islam di bagi dalam tiga tahap.

Tahap pertama adalah tahap Menahan Diri:

[2.109] Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Surat Sapi Betina, Al-Baqarah)

[4.77] Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun. (Surat Wanita/An-Nisa)

Tahap kedua adalah tahap Diizinkan Balas Dendam:

[22.39] Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (Surat Naik Haji/Al-Hajj)

Tahap ketiga adalah tahap Diwajibkan Balas Dendam Secarat Terbatas:

[2.190] Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Surat Sapi Betina/Al-Baqarah)

[2.191] Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. (Surat Sapi Betina/Al-Baqarah)

Tahap keempat adalah tahap Kewajiban Memerangi Seluruh Kaum Kafir/Musyrik

[9.5] Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat Pengampunan/At-Taubah)


[9.12] Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.


[9.13] Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.

[9.14] Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman,

[9.29] Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

[9.38] Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.

[9.39] Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudaratan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

[9.41] Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

[9.44] Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.

[9.45] Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.


[9.49] Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah". Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.

[9.73] Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.


Sebaliknya Alkitab berkata:

a. “5:38. Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. 5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. (Injil Matius)

b. “5:43. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Injil Matius)

c. 6:27. "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; 6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. 6:29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. (Injil Lukas)

d. “6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. 6:32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. 6:33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. 6:34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. 6:35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. 6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." 6:37. "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. 6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Injil Lukas)

e. 6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." …18:21. Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" 18:22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali…." 18:35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (Injil Matius)

3. Hukum Poligami menjadi monogami. Al-Quran berkata:

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (Surat 4:3).

Anda mungkin berkata: Yesus toh tidak melarang pologami; yang Dia larang adalah perceraian. Kami pastikan Anda salah dan sesat salah dalam memahami perkataan Yesus. Yesus melarang bercerai. Melarang bercerai berarti menyangkut dua hal yang kami sebut dengan “perceraian kuantitatif” dan “perceraian kualitatif”. Perceraian kuantitatif artinya seseorang “becerai” dari jumlah satu suami/isteri dengan satu isteri/suami menjadi satu suami/isteri dengan lebih dari satu suami/isteri. Jadi, suami atau isteri tetap memperistri/atau mempersuami pasangan yang lama; namun kini ditambah dengan lebih dari satu suami/isteri baru lagi. Komposisinya menjadi: 1:3 atau 1:4. Perceraian kualitatif artinya seseorang bercerai dengan pasangan lama tanpa hidup bersama dengan dia lagi. Hubungan benar-benar putus. Masing-masing suami/isteri dapat mencari pasangan baru yang disukainya tanpa terikat dengan pasdangan lama. Yesus melarang perceraian model apa pun.

4. Penyembahan dalam Pribadi. Orang Muslim menyembah Allah mereka melalui perantaraan Batu Qabah di Mekkah; sebagaimana Yahudi menyembah Tuhan mereka melalui Bait Tuhan di Yerusalem. Orang Kristen tidak lagi memilih satu pun tempat di dunia ini sebagai tempat yang layak untuk Yahwe. Orang Kristen menyembah Yahwe Elohim dalam diri Pribadi Putera Elohim Yesus Kristus; Penyembahan dalam Roh. Karenanya semua tempat di dunia ini tidak diperhitungkan sebagai sesuatu yang berfaedah di dahapan Tuhan. Tempat yang diperhitungkan adalah HATI SETIAP orang karena di sanalah Dia hadir dan bertahta.

5. Pengampunan dosa adalah karya Tuhan. Al-Quran tidak menjelaskan bagaimana sikap dan rencana Allah untuk menghapus dosa manusia. Allah tidak mampu mencintai orang berdosa, Allah tidak sanggup mencintai orang kafir. Allah hanya mampu mencvintai orang yang mencintai Dia. Lihatlah pernyataan Allah berikut ini:

“…Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (Surat 3:32)

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat” (Surat 2:6-7).

Allah hanya mampu mencintai orang-orang yang mencintai Dia (Surat 3:31);

Allah menyukai orang yang berperang dan beriman kepadaNya. [61.4]

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Surat 61:4)

Pernyataan Allah ini di luar jangkauan pemikiran dan anggapan umum bahwa Dia Yang Maha Kuasa adalah Tuhan Yang Berbelaskasih. Dia berbelaskasih baik kepada orang kafir, maupun kepada orang beriman; Dia baik entak kepada orang kaya maupun miskin. Dia tidak pernah berniat untuk mengunci mati hati orang kafir sehingga tidak dapat lagi beriman kepadaNya. Dia membuka hatinya untuk semua manusia yang diciptakanNya. Tetapi dari teks yang sudah kita lihat itu, kita tidak dapat mengharapkan sesuatu yang meyakinkan: apakah Allah mempunya niat untuk menyelamatkan orang berdosa. Bandingkan pernyataan Alkitab berkut ini:

“Naikkanlah permohoan, doa syafaat dan ucapan syukur…Itulah yang baik dan berkenan kepada Elohim, Juru Selamat kita, yang MENGHENDAKI SUPAYA SEMUA ORANG DISELAMATKAN DAN MEMPEROLEH PENGETAHUAN AKAN KEBENARAN” (1Tim 2:1-4).

Selanjutnya Alkitab berbicara tentang Elohim yang tidak berkehendak murka terhadap umatNya. Perhatikan baik-baik:

“Elohim tidak menghendaki kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia” (1Tes 5:9-10).

Bagi Tuhan, manusia adalah obyek kasihNya. Kasih itu harus Ia nyatakan. Manusia bukan tempat dimana Ia harus merealisasikan murkaNya.

“Karena begitubesar kasih Elohim akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orng yang percaya kepadaNya TIDAK BINASA melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

6. Soal Sunat. Umat Perjanjian Lama (Yahudi) meletakkan sunat sebagai ikatan perjanjian antara Yahwe dan Manusia. Ketika Muhammad datang; ia langsung mengadopsi terang-terangan keyakinan Yahudi itu. Muhammad melakukan itu untuk menegaskan kepada orang Yahudi bahwa dirinya hanya sebagai seorang yang memberi peringatan dan bukan seorang yang datang membawa ajaran baru. Alquran sendiri tidak pernah memerintahkan Muhammad untuk disunat. Berbeda dengan Muhammad yang lekat dengan tradisi Yahudi; yang walaupun dirinya bukan orang Yahudi; Yesus tidak lagi mewajibkan pengikutNya untuk sunat. Sunat fisik (memotong kulit kulup pada penis) tidak perlu. Perjanjian tidak lagi diletakkan pada alat kelamin; tetapi lebih pada komitmen hati mau percaya kepada Yesus. Yesus adalah ikatan perjanjian yang tak mungkin lagi dapat dibatalkan.

7. Soal Selibat. Kita tahu Muhammad sekurang-kurangnya memiliki 9 isteri. Satu diantaranya berasal dari isteri anak angkatnya. Dengan itu Allah mengijinkan perkawinan “semenda” garis lurus; sesuatu yang merupakan skandal dalam dunia kekritenan. Dunia Yahudi menolak “selibat” dan kenyataan ini dilanjutkan oleh Muhammad. Bahkan, status poligami mendapat bentuknya yang paling “revolusioner” karena merupakan kehendak Allah. Berbeda dengan Yahudi dan Islam; Yesus membawa suatu perubahan yang revolusioner. Tuhan tidak hanya ‘bangga’ dengan kehidupan “menikah” tetapi juga “bangga” dengan orang yang selibat demi KerajaanNya.

8. Soal Makanan Haram. Orang Yahudi melarang memakanan makanan tertentu; mislanya tidak boleh makan daging babi. Kebiasaan ini tidak pernah berubah. Islam datang dan tetap mempertahankannya. Dengan itu kita tahu, lagi-lagi Muhammad, menyontek kebiasaan Yahudi. Sekalipun orang Yahudi, Yesus tidak pernah melegalkan haram daging babi. Yesus merombak dan menegaskan bahwa semua makanan, daging, maupun buah telah diciptakan untuk dimakan. Yang diharamkan oleh Yesus adalah hati yang busuk; jiwa yang dirasuki oleh semangat balas dendam; pikiran yang merancang pembunuhan manusia demi nama Allah. Jika kita memakai sesuatu yang telah disediakan oleh Tuhan untuk kita; maka secara tidak langsung kita telah menghormati dan memuliakan Dia yang telah menyediakannya sesuatu itu bagi kita. Sebaliknya apabila kita memakai apa yang tidak disediakan oleh Dia; maka kita sebenarnya telah menghina Dia.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More