Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Isa Berdosa?

Orang Muslim penasaran mengapa Al-Quran dan Hadis tidak menyatakan bahwa Nabi Allah, Isa tidak dinyatakan berdosa sedangkan Muhammad berdosa? Mereka kemudian merekayasa Alkitab. Teks yang selalu dipakai adalah Lukas 11:1-4 (Biasanya orang Muslim hanya mengambil ayat 4 saja) dan Matius 6:5-13 (Orang Muslim hanya mengambil ayat 12 saja). Kita perlu mencermatinya secara benar. Apakah betul Yesus berdosa.

Lukas 11:1-4 “Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-muridNya kepadaNya: “Tuhan ajarilah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya”. Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa katakanlah: Bapa, dikuduskanlah namaMu; datanglah KerajaanMu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukup dan ampunilah kami akan dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”

Dari teks tersebut dapat kita lihat dengan baik.

a. Seorang murid meminta Yesus mengajari mereka berdoa.
b. Murid itu tidak mengatakan: Tuhan ajarilah ‘aku’ berdoa tetapi ‘kami’. Murid itu juga tidak mengajukan pertanyaan: “Tuhan ajarilah bagaimana kita berdoa”
c. Yesus menjawab sesuai dengan permintaan itu: “apabila KAMU berdoa.”
d. Jadi yang berdoa adalah ‘kamu’ (para murid) dan bukan kita. Artinya Yesus sendiri tidak terlibat sebagai subyek (yang berdoa) di dalam doa tersebut. Karena Yesus tidak terlibat di dalamnya, maka kata ‘ampunilah kami’ tidak termasuk Yesus. Di sini, Yesus tampil sebagai seorang guru yang memberi petunjuk praktis bagaimana seharusnya para muridNya berdoa. Jadi, Yesus sama sekali tidak menyatakan bahwa diriNya berdosa. Hanya orang Islam saja yang mengatakan bahwa Isa Almasih berdosa.

Bagaimana dengan teks Matius 6:5-15?

Matius 6:5-15 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik….Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah namaMu, jadilah kehendakMu, di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat (Karena Engkaulah yang mempunya Kerajaan dan kausa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin).”

Kita tahu bagaimana posisi antara “Pengajar” dan “Murid” dalam peristiwa di atas dan dalam keseharian hidup kita.

1. Jika salah seorang murid mengatakan “kami” tentu itu maksudnya seorang murid dengan murid lainnya. Mustahil seorang murid mengatakan ‘kami’ dengan maksud bahwa ‘guru’ termasuk di dalam ‘kami’.
2. Demikian juga kalau guru mengatakan ‘kamu’ itu berarti ia menunjuk kepada ‘hanya para murid’. Mustahillah guru memakai kata ‘kamu’ dengan maksud bahwa dirinya termasuk di dalam ‘kamu’.
3. Jadi, dengan memakai kata ‘kami’ oleh murid dan ‘kamu’ oleh ‘guru’ itu berarti ‘guru’ tidak termasuk di dalamnya.
4. Seandainya Yesus bermaksud menyatakan diriNya adalah berdosa, maka Ia harus memakai kata ‘kita’. Matius 6:5 seharusnya berbunyi: “Dan apabila kita berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik” Jadi, Yesus sama sekali tidak berdosa

Teks lain yang dipakai oleh orang Islam untuk menuduh Yesus berdosa adalah Markus 10:18.

“Jawab Yesus: “mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain daripada Elohim saja”


Orang yang berpikiran pendek akan mengatakan: “Kalau demikian Yesus berdosa”. Mengapa disimpulkan secara demikian? Ingat! Teks tersebut sama sekali tidak memberi indikasi bahwa Yesus berdosa. Teks menampilkan dua hal penting:

Pertama; Yesus bertanya. Ia bertanya: “Mengapa engkau katakan Aku baik?”. Jadi, Yesus meminta alasan dari lawan bicaranya. Yesus meminta pertanggunganjawab dari orang yang mengatakan diriNya baik. Nyatanya orang tersebut tidak memberikan jawaban atau alasan: mengapa ia mengatakan bahwa Yesus adalah baik.

Kedua, Yesus memberi penegasan/pernyataan bahwa tidak seorang pun yang baik selain daripada Elohim saja. Nah, Yesus dikatakan baik, padahal hanya satu saja yang baik yaitu Elohim maka kesimpulannya yang sangat logis yaitu: “Yesus adalah Elohim”. Apakah dia (orang yang memberi gelar kepada Yesus) percaya dan mengimani bahwa Yesus adalah Elohim, atau Putera Elohim? Jika orang itu percaya bahwa Yesus adalah Elohim, atau Putera Elohim, maka dia nantinya HARUS mengikuti apa yang dikatakan Elohim. Karena demikianlah duduknya perkara, maka teks Mrk 10:18 tidak dapat dipakai untuk membuktikan bahwa Yesus berdosa. Sebaliknya teks tersebut dapat dipakai untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Elohim sendiri. Yesus tampil mengajak lawan bicaraNya untuk berpikir secara matang sebelum mengemukakan sebuah pendapat. Di akhir kisah, orang itu tidak mau mengikuti tuntutan Sang Putera Elohim. Jadi, pernyataan “Guru yang baik” dari orang tersebut sama sekali tidak berbobot dan Yesus tahu akan hal itu. Orang yang mengatakan “Guru yang baik” hanya mau membeberkan (pamer) segala kebaikan dirinya, tetapi tidak megikuti perintah Elohim, dan hal itu tidak cukup menyelamatkan dirinya. "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Kita baca teks Markus 10:17-31 secara lengkap berikut ini:

10:17. Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 10:18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. 10:19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!" 10:20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." 10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." 10:22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. 10:23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." 10:24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. 10:25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." 10:26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" 10:27 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah." 10:28 Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" 10:29 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, 10:30 orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. 10:31 Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."

Mari kita analisis sejumlah teks yang dirasa perlu.

1. Ayat 17. 10:17. Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

2. Gelar: “Guru yang baik” hanya 2x dipakai dalam keseluruhan Alkitab, itu pun terdapat dalam ceritera yang paralel (Markus 10:17 dan Lukas 18:18). Itu berarti gelar Guru yang baik tidak biasa di kalangan para murid inti (kedua belas rasul). Pemakaian 2x ini mengingatkan kita kepada “Kebaikan” yang dibawa oleh Yesus di satu pihak , dan “Penolakan” dunia (seorang yangdatang kepada Yesus)

3. Sebaliknya gelar “Guru” dikenakan kepada Yesus sebanyak 43x: dalam Matius sebanyak 7x, Markus 12x, Lukas 19x, Yohanes 5x.

4. Pemakaian 43x dapat dikatakan lambang Sang Guru berpuasa selama 40 hari dan empat malam, dan 3 hari dalam alam maut. Pemakaian 7x oleh Matius menegaskan kesempurnaan hukum yang dibawa oleh Sang Guru. Penggunaan 12x oleh Markus menegaskan Pengajaran Sang Guru kepada kedua belas rasul. Pemakaian 19x oleh Lukas adalah gabungan 7+12 adalah lambang pengajaran Sang Guru yang sempurna akan diteruskan oleh para rasul. Pemakaian 5x oleh Yohanes melambangkan salah satu hal pokok yang harus diwartakan oleh para rasul yakni Yesus adalah Roti Hidup (Ekaristi). Pemakaian 5x mengingatkan kita pada mujizat penggandaan 5 roti dan 2 ikan dalam Yohanes 6:1-15 (dimana mujizat ini adalah satu-satunya mujizat yang tercatat dalam keempat Injil).

5. Teks 10:25. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Apa maksudnya? Ini adalah bahasa simbol. Yahwe dapat membuat seekor unta melintasi lobang jarum karena keutamaan yang dimiliki oleh unta tersebut: taat pada tuannya, melintasi padang gurun, memikul beban berat milik tuannya, sabar dan tabah menjalani tugasnya, secara singkat unta melayani tuannya dengan segenap apa dimiliki dalam dirinya. Yahwe tidak dapat melakukan tindakan yang sama terhadap manusia karena ia tidak memiliki keutamaan seperti yang dimiliki oleh unta. Karena Kerajaan Sorga itu bukan milik manusia, tetapi milik Elohim semata, maka orang yang mau ke sana ibarat melintasi lobang jarum (artinya mustahil dapat dilakukan oleh manusia). Walaupun demikian, manusia dapat melintasinya dan masuk ke dalam sorga kalau manusia mau menerima karunia, atau rahmat dari Elohim. Karunia atau Rahmat yang paling agung dari Elohim kepada manusia adalah PutraNya sendiri. Orang dapat masuk sorga kalau ia mau menerima dan percaya pada Yesus. Percaya dan menerima Yesus berarti melakukan segala sesuatu yang Yesus perintahkan. Salah satunya adalah melepaskan segala harta milik dan kemudian mengandalkan Dia saja dalam perjalanan hidup ini. Orang yang menerima dan percaya kepada Yesus tidak perlu takut bahwa dia telah kehilangan segala-gala demi Yesus, sebab semuanya itu akan dikembalikan dengan bungannya yang berlimpah-limpah.

6. Ayat 10:31 “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." Siapakah yang terdahulu? Mereka adalah orang-orang Yahudi yang pertama-tama mendapat tempat di hati Elohim, dan kepada merekalah pertama-tama Putra Elohim diutus tetapi mereka ini telah menolak tawaran dari Yahwe dengan menolak Yesus. Rahmat itu akhirnya jatuh ke tangan bangsa-bangsa lain, bangsa-bangsa yang tadinya tidak mengenal Yahwe. Mereka inilah yang justru kemudian masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Perlu kami ingatkan bahwa Alquran sendiri tidak pernah menyatakan bahwa Isa Almasih adalah orang berdosa. Orang Islam yang menuduh Isa Almasih berdosa dengan sendirinya menentang Alquran. Alquran justru menegaskan bahwa Isa Almasih adalah seorang laki-laki yang suci.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More