Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Isa Membawa Pedang?

Orang Muslim selalu beranggapan bahwa Isa juga membawa misi pedang dan api permusuhan. Kalimat ini biasanya mereka pakai untuk membela diri dan agar tidak malu muka dengan begitu maraknya aksi teror yang dibuat oleh orang Islam dewasa ini. Untuk membenarkan pernyataannya, orang Muslim mengutip Alkitab.

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Matius 10:34-6).

Apakah betul Yesus membawa pedang? Jika ya, apakah yang Ia perbuat dengan pedang itu? Jika tidak, lalu apa yang Ia maksud dengan pedang itu? Pedang yang Yesus bawa tentu bukan pedang yang dapat membunuh tubuh, seperti pedang yang dipakai oleh Muhammad. Yesus berasal dari roh dan karenanya Ia tidak mungkin datang dengan disertai dengan membawa pedang. Sebab kalau pedang yang dia pakai adalah pedang yang dapat membunuh tubuh (semisal parang, celurit, peling, tombak dll), maka seharusnya ada informasi yang akurat. Nyatanya dalam keseluruhan Alkitab tidak ada kisah dimana Yesus memakai pedang yang Ia bawa itu untuk membunuh tubuh atau melenyapkan nyawa manusia. Jadi, kita langsung dapat melihat bahwa pedang yang dimaksud oleh Yesus bukan pedang manusiawi, tetapi pedang sorgawi. Pedang sorgawi itu adalah sabda dan roh yang menyertai setiap orang yang percaya. Kami telah banyak menerima laporan bahwa setiap orang Muslim yang mau menjadi Kristen; mereka justeru ditindas, dianiaya (fisik maupun psikis-mental). Firman Yesus benar-benar memisahkan mereka dari orang-orang yang selama ini dekat dengan kehidupan mereka: ayah, ibu, saudara, menantu, mertua dan sebagainya. Tidak ada damai (dalam arti yang paling mendasar) antara orang yang percaya kepada Yesus dengan orang yang tidak percaya kepadanya. Ingat, sekali lagi: tidak ada damai antara orang yang percaya dan orang yang tidak percaya. Damai sejati hanya dimiliki keika seseorang memilih Yesus Kristus sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidupnya. Kebenaran memisahkan seseorang untuk disucikan dari apa yang kotor dan najis-kafir. Orang-orang yang bertobat tersebut dimusuhi oleh keluarga seisi rumahnya dan bahkan tetangganya.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More