Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Menodai Allah

Selebaran tadi selanjutnya menulis: “Dengan segala kerendahan hati kami ingin mengingatkan saudara-saudara Nasrani bahwa saudara menodai kesucian dari Tuhan Allah kita karena Tuhan Allah itu Maha Suci jadi Ia lepas dari sifat dan nafsu duniawi hal ini dikarenakan saudara menganggap Allah memiliki anak yaitu Nabi Isa yang juga termasuk Rasul pilihan dalam agama Islam”. Penulis selebran itu memiliki keyakinan tersirat tanpa ia sadari bahwa kesucian Tuhan Allah dapat dinodai. Paham seperti itu justeru kontradiksi dengan gagasan penulis sendiri bahwa Tuhan Allah Maha segalanya. Bagaimana Ia dapat dikatakan Maha segala-galanya, Maha Sempurna, tetapi serentak kesuciannyNya dapat dinodai oleh manusia? Ternyata ada ‘suatu ruang’ dalam Allah dapat diganggu gugat oleh manusia. Dengan apakah manusia dapat menodai kesucian Allah? Jawaban yang mereka kemukakan amat gampang sekaligus naif: “Isa adalah anak Allah”. Jika 1000 kali Anda berkata: “Isa Almasih Anak Allah”, maka dapat dibayangkan seberapa parah kesucian Allah ternoda. Tetapi sebenarnya bukan menodai Allah, tetapi menodai anggapan, tepatnya menghanculeburkan pemikiran Alquran, Muhammad dan Islam yang menyatakan bahwa Allah tidak dapat mempunyai anak. Mengapa demikian, sebab jika Allah tidak dapat mempunyai anak, maka itu berarti Dia terbatas dan bukan Mahakuasa. Tetapi karena Islam mengakui bahwa Allah adalah Mahakuasa dan Segalanya, maka Allah dapat mempunyai anak. Orang Kristen ngotot mengatakan bahwa manusia adalah anak-anak Allah. Dengan itu mau dikatakan bahwa manusia adalah milikNya. Tetapi masalahnya tak sesederhana itu. Orang Islam berpikir bahwa kalau Allah mempunyai anak, maka itu berarti Ia mempunyai Istri. Jika Allah beristri, itu berarti Ia melakukan hubungan suami istri. “Menjijikkan”!, kata mereka. Gagasan anak Allah diredusir hanya sebatas hubungan seksual-biologis. Segala sesuatu dapat dikatakan “anak” kalau sebelumnya terjadi hubungan seksual. Gagasan semacam itu benar-benar aneh, bukan? Tetapi itulah yang ada dalam benak kaum Muslim tercinta, dan mereka memaksa semua orang menerima pemikiran konyol itu. Bandingkan sejumlah kalimat berikut ini: anak bangsa, anak emas, anak kunci, anak pantai, dll. Semua gagasan itu tidak ada kaitannya dengan hubungan seksual-biologis, bukan? Tidak ada kait mengait sedikitpun dengan hal-hal yang erotis-sensual. Jadi, gagasan “Putra Yahwe” tidak menodai kesucian Allah, sebaliknya menegaskan KemahakuasaanNya. Ungkapan: Yesus adalah Putera Yahwe tidak berkaitan dengan hubungan intim suami istri, tetapi terkait dengan relasi kasih personal antara Yahwe dan Yesus yakni kesatuan hakikat antara Yesus dan Yahwe.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More