Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Muhammad Buta Huruf

Kaum Muslim yakin bahwa Muhammad adalah nabi yang ummi. Ummi dalam pengertian bodoh dan buta huruf. Uniknya lagi Alkitab Kristen dipakai untuk membenarkan pernyataan itu. Mereka umumnya memakai Ulangan 18:18. Tetpi semua pernyataan Muslim tersebut mengada-ada sebagai klaim teologis, bukan fakta sejarah.

Klaim bahwa Muhammad tidak dapat membaca dan menulis didasarkan atas sejumlah teks Alquran berikut ini:

QS 7:157-158 “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi …maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang umi …”.

Dan Hadis Al-Bukhari:
“Beliau didatangi Malaikat yang mengatakan “Bacalah”. Rasuuullah Saw menjawab “Aku tidak bisa membaca”. Kata Rasuullah Saw.: “Lalu Malaikat itu memelukku keras-keras sehingga nafasku terasa sesak, kemudian dia melepaskanku, lalu dia katakan lagi, “Bacalah!” Aku menjawab “Aku tidak bisa membaca”. Dia memelukku lagi (kedua kalinya) dengan keras sehingga nafasku terasa sesak, lalu dia melepaskanku kemudian dia katakana lagi “Bacalah!”. “Aku tidak bisa membaca!”. Dia memeluku lagi (ketiga kalinya) dengan keras sehingga nafasku terasa sesak, lalu dia melepaskanku, kemudian dia membacakan…” (Hadis Al-Bukhari no 3, edisi Indonesia).

Hadis itu meyakinkan Muslim seolah-olah benar bahwa Muhammad tidak dapat membaca dan menulis.

Dan QS Al-Alaq (Surat Segumpal Darah/96:1-5) sering dipakai sebagai penguat.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”

Tetapi aneh rasanya kalau teks itu pun dipakai untuk menyatakan bahwa Muhammad tidak bisa membaca dan menulis. Teks itu sebaliknya menegaskan bahwa Muhammad bisa membaca dan menulis. Bagaimana mungkin Allah menyuruh Malaikat Jibril mendatangi Muhammad dan meminta Muhammad membaca? Apakah Allah tidak tahu bahwa Muhammad orang yang buta huruf? Allah Maha Tahu. Tetapi juga bertindak irasional? Nabi besar justru lebih hebat dari Allahnya. Ia lebih rasional. “Aku tidak bisa membaca”. Lha, apa yang mau dibaca? Apa yang disuruh untuk dibaca adalah sebuah tulisan, dan bukan sebuah ungkapan. Lagi pula, Muhammad belum melihat apa yang musti dibaca. Bukankah itulah kali pertama Malaikat kontak dengan Muhammad? Kata-kata yang mau diucapkan itu belum ke luar dari mulut Malaikat. Wajar kalau Muhammad menjawab, “Aku tidak bisa membaca”. Itu tidak berarti bahwa Muhammad buta huruf, atau tidak tahu baca tulis. Kalaupun Malaikat itu berkata “nyatakan” atau “bawakan” atau “ulangi”; Muhammad pasti akan menjawab sama. “Akut tidak bisa “nyatakan”, “bawakan” dan “ulangi”. Sesuatu yang dinyatakan, dibawakan, diulangi mengandaikan sudah ke luar atau meluncur dari mulut Malaikat. Tetapi kalau belum, tentulah Muhammad juga akan menjawab: “Aku tidak bisa mengulanginya”. Jadi, faktanya Muhammad dapat membaca dan menulis. Dia bukanlah orang buta huruf sebagaimana dituding oleh kaum Muslim.

Kalau Anda tidak puas bacalah Hadis Al Bukhari berikut ini:
”Suatu ketika Rasuullah Saw MENULIS SEPUCUK SURAT – atau berhazrat untuk menulis surat- lalu dikatakan kepada beliau bahwa para penguasa tidak mau membaca surat yang dikirimkan kepada mereka kecuali jika distempel. Maka Rasulullah saw menjadikan sebuah cincin perak milik beliau sebagai stempel yang bertuliskan “Muhammad Rasulullah”. Saya melihat seakan-akan ada cahaya putih dari cincin itu di jari beliau” (Al-Bukhari Hadis no. 65 edisi Indonesia).

Hebatnya lagi, Nabi Besar masih berminat untuk menulis wasiatnya meskipun ia dalam keadaan sekarat.

“Ketika sakit Nabi Saw. semakin berat, beliau bersabda, “Bawalah kemari KERTAS TULIS, AKU AKAN TULISKAN UNTUK KALIAN suatu pesan yang kalian tidak akan tersesat dengan berpegang pada pesan tersebut…” (Al-Bukhari Hadis no.114).

Selain itu kaum Muslim tentu sangat tahu isi tulisan tangan nabi berikut ini:

“Kemudian Rasulullah Saw MENGAMBIL SURAT TERSEBUT, LALU MENULIS: “Ini adalah surat perjanjian yang disetujui oleh Muhammad bin Abdullah. Ia tidak membawa senjata senjata ketika memasuki Mekkah kecuali tersarungkan, ia tidak membawa orang Mekkah yang ingin mengikutinya, dan ia tidak melarang sahabatnya untuk tinggal di Mekkah jika ingin”.

Bandingkan dengan pernyataan-pernyataan Alquran berikut ini:

1. An Kabut (Surat Laba-Laba/ 29: 48)
“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur'an) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andai kata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari (mu).”

Perkataan “kamu tidak pernah membaca sebelumnya” mengandaikan Muhammad dapat membaca. Jika Muhammad ternyata tidak dapat membaca, maka pernyataan aneh, dan kalimat yang jauh lebih masuk akal adalah “kamu tidak dapat membaca”. Hal yang sama berlaku untuk pernyataan “kamu tidak (pernah) menulis kitab”. Jadi, Muhammad dapat membaca dan menulis, tetapi dia tidak pernah membaca dan menulis (sebelum Alquran). Bahkan pernyataan sebelumnya bisa mengandaikan bahwa sesudahnya dapat membaca dan menulis. Lagi pula bukankah jika Allah berkata: “Bacalah!” maka orang yang diperintakan akan segera dapat membaca? Adakah sesuatu yang diperintahkan Allah, tetapi tidak terlaksana?

2. Surat Al An’am (Binatang Ternak 6:105.)
“Demikianlah kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan yang mengakibatkan orang-orang musyrik mengatakan: "Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab)", dan supaya Kami menjelaskan Al Qur'an itu kepada orang-orang yang mengetahui.

3. Surat Al An’nam [Binatang Ternak 6.156]
“(Kami turunkan Al Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca."

Pernyataan "Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab) [6:105]". Pernyataan itu keluar dari mulut Allah. Nantinya, ketika Muhammad membacakan lembaran-lembaran Alquran, maka akibatnya ia dituduh bahwa perkataan Muhammad (maksudnya, apa yang dibacakan oleh Muhammad) itu sudah diucapkan sebelum dia menjadi nabi, jadi tidak datang dari Allah. Pernyataan Allah ini merupakan antisipasi agar Muhammad mempersiapkan dirinya dengan baik dan tidak heran. Namun intinya, mengandaikan Muhammad dapat membaca dan menulis. Kalau tidak, maka peringatan Allah itu tidak bermakna sama sekali. Muhammad tidak mungkin dituduh “kamu telah mempelajari ayat-ayat itu dari Alkitab ” kalau ia tidak tahu baca tulis.

4. Surat Al Alaq 1-5 (Segumpal Darah/96:1-5)

[96.1] Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, [96.2] Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.[96.3] Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, [96.4] Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. [96.5] Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Tidak mungkin Allah menyuru “bacalah” kepada orang yang buta huruf. Kedua, jika benar perkataan Allah efektif, “jadilah, maka jadi”, maka serentak saat itu juga Muhammad dapat membaca karena kuasa Allah. Jadi, sebenarnya Muhammad dapat membaca dan menulis.

5. Surat Ali Imran (Keluarga Imran 3: 164)

[3.164] Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Teks ini jelas memberi bukti bahwa sebenarnya Muhammad dapat memabca dan menulis. Apa artinya “MEMBACAKAN AYAT-AYAT ALLAH”. Bagaimana mungkin orang yang tidak dapat membaca dan menulis, tetapi dapat MENGAJARKAN ALQURAN?

6. Surat Al Bayyinah (Surat Bukit 98:2)

[98.2] (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur'an).
Sangat jelas bahwa “membacakan lembaran-lembaran” menunjukkan Muhammad dapat membaca dan menulis. Apa artinya lembaran-lembaran kalau bukan kertas yang berisi tulisan.

7. Surat Al Jumu’ah (Surat Hari Jumat 62: 2)

[62.2] Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.

Amat tidak logis, jika Allah mengutus seorang yang buta huruf kepada orang yang buta huruf. Ibarat orang buta menuntun orang buta. Bagaimana orang yang buta huruf menjadi melek huruf kalau dituntun oleh orang yang buta huruf? Bagaimana ia dapat membacakan ayat-ayat Allah kalau dia buta huruf?. Satu-satunya penjelasan logis adalah Muhammad dapat membaca dan menulis.

Jika argumen-argumen di atas ditolak maka kelihatanlah kontradiksi-kontradiksi antar ayat Alquran sendiri di satu pihak, dan Alquran dengan hadis di pihak lain. Sebaliknya, jika diterima bahwa Muhammad dapat membaca dan menulis, maka gugurlah dogma bahwa Alquran adalah mujizat Allah di satu pihak, kebenaran ayat Alquran dan hadis di lain pihak. Rontoklah pula klaim yang mengatakan bahwa Alquran didesain oleh Allah tanpa cmpur tangan manusia. Yang mana pun dipilih, semuanya membuktikan bahwa kasus Nabi buta huruf yang satu ini membuat Alquran, hadis dan Islam tidak dapat dipertahankan. Islam tidak lebih dari produk kecerdasan manusia.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More