Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Muhammad & Paulus

Muhammad menyebarkan agama Islam (sebahagian besar) disertai dengan pedang.

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat 9:5).

Ia mencaplok negeri orang kafir dan membunuh semua orang yang dijumpai yang tidak sepaham dengan dia. Reputasi Muhammad ini kemudian dipuji oleh Al-Quran sebagai lelaki teragung yang pernah ada dalam sejarah manusia. Demikian Muhammad menyebarkan ajaran Allahnya.

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman…”(Surat 9:14).

Allahnya Muhammad benar-benar menginginkan agar ajaran agamaNya disebarkan melalui perang. Tampaknya perang adalah kesukaan Allah. Ia tidak berbeda jauh dengan Kaisar Nero pada jaman Gereja Perdana di wilayah kekaisaran Roma dahulu. Lihat pernyataanNya berikut ini:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk” (Surat 9:29).

Muhammad berkata:

“Aku diperintahkan untuk memerangi ornag-orang kafir, kecuali jika mereka sudi bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kemudian mereka mendirikan salat dan membayar zakat. Apabila mereka sudah menjalankan semua itu, maka jiwa dan harta mereka aku lindungi, kecuali yang dipungut untuk kepentingan Islam maka Allah-lah yang menentukan perhitungannya” (Hadis Al-Bukhari no.25)

Berbeda dengan Muhammad, Paulus mewartakan ajaran Tuhannya dengan cara yang lain sekali. Paulus menyebarkan ajaran Tuhannya dengan membagikan karunia rohani. Jauh dari ancaman, kekerasan dan pedang

“Aku berdoa, semoga dengan kehendak Elohim aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu. Sebab aku ingin melihat kamu untuk MEMBERIKAN KARUNIA ROHANI KEPADAMU guna menguatkan kamu, yaitu supaya aku ada diantara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama; baik oleh imanmu maupun oleh imanku “ (Rom1:10-12).

Muhammad memakai cara Allahnya yang haus darah, sedangkan Paulus memakai cara Tuhannya yang butuh (haus) kepercayaan umatNya. Tuhan dari Paulus menghendaki manusia percaya kepadanya. Tuhan itu hanya “butuh” atau “haus” iman dari umatNya. Tidak lebih. Jika umatNya telah percaya maka segala sesuatunya menjadi mudah. Bandingkan pertobatan Kepala Penjara di Filipi berikut ini.

“Tuan-tuan apakah yang harus aku (Kepala Penjaran di Filipi) perbuat, supaya aku selamat? Jawab mereka (Paulus dan Silas): “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya….Dan ia sangat bergembira bahwa ia dan sisi rumahnya telah menjadi percaya kepaa Elohim”. (Kis 16:30.-32.34).

Di sini Penulis Kisah Rasul menyamakan percaya kepada Yesus sama dengan percaya kepada Elohim; dengan kata lain Yesus disamakan dengan Elohim (Bandingkan antara Kis 16: 30-31 dengan Kis 16:34). Satu hal lagi dapat kita tuliskan di sini mengenai pemberitaan Paulus.

“…Dengan pertolongan Elohim kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Elohim kepada kamu dalam perjuangan yang berat. Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. Sebaliknya karena Elohim telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Elohim yang menguji hati kita. Karena kami tidak pernah bermulut manis, hal itu kamu ketahui, dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi, Elohim adalah saksi, juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. TETAPI KAMI BERLAKU RAMAH DI ANTARA KAMU, sama seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawat anaknya. Demikianlah kami dalam KASIH SAYANG YANG BESAR AKAN KAMU, bukan saja rela membagi Injil Elohim dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi” (1Tes 2: 2-8).

Jadi, Paulus memberitakan ajaran Kristen dengan kasih dan cara hidup yang baik, saleh dan patut, sedangkan Muhammad memberitakan ajaran Islam dengan kekerasan dan sikap hidup yang jauh dari kepantasan (termasuk memiliki bini dan gundik yang berkelimpahan, mengawini isteri anak angkatnya sendiri dan lain sebagainya).

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More