Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

MARYAM DAN ISA ANAK ALLAH MENURUT ALQURAN


Alquran menjelaskan banyak hal tentang Maryam. Dalam kaitan dengan itu, secara tidak langsung Alquran menyatakan dengan baik bahwa ISA ALMASIH adalah ANAK ALLAH, TUHAN YANG MAHA ESA.
 

1.         [3.33] Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), [3.34] (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [3.35] (Ingatlah), ketika istri Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitulmakdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

Komentar
  1. Alquran menyebut dirinya sebagai kitab yang terperinci, tetapi di sini tidak disebut siapakah Istri Imran (Ibu dari Maryam).
  2. Keluarga Imran melebihi segala umat. Kalimat dalam kurung “di masa mereka masing-masing” adalah tambahan dari komentator Muslim belakangan, artinya tidak asli dari Alquran.
  3. Buah kandungan Istri Imran (Maryam) menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat.
  4. Bapa-bapa Gereja awal menegaskan bahwa Ayah Maria (bunda Yesus) bukan Imran tetapi Yoyakim dan ibunya adalah Anna.

2.   [3.36] Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk."

Komentar
Dalam ayat ini ada indikasi bahwa Maryam mempunyai keturunan. Isi perkataan istri Imran ini tidak logis. “Dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu”. Kalimat siapakah ini? Apakah dari istri Imran? Tentu tidak!. Kemungkinan sangat besar dari mulut kompilator Alquran. Kalau dari mulut istri Imran seharusnya berbunyi: “Dan Engkau lebih mengetahui apa yang kulahirkan ini”. Jika dipertahankan dari mulut istri Imran: “Allah mengetahui apa yang dilahirkannya itu”, maka bukan istri Imran yang melahirkan Maryam tetapi Allah. Lebih dari semuanya itu, surat 3:36 di atas menegaskan bahwa Alquran tidak murni dari Allah, nyatanya perkataan istri Imran termuat juga di dalamnya. Itu berarti sabda (perkataan) istri Imran dijadikan firman Aulloh juga.

3.         [3.37] Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Komentar
  1. Tuhan menerima keluh-kesah istri Imran
  2. Maryam dididik dengan pendidikan yang baik
  3. Maryam dipelihara oleh Zakaria
  4. Maryam tinggal di mihrab (ruang Maha Kudus)
  5. Allah sendiri yang memberi Maryam makanan
  6. Allah memberi rezeki kepada orang yang dikehendakiNya saja.

Semua hal yang dikemukakan oleh Alquran dalam ayat ini tidak sesuai dengan kebiasaan orang Yahudi tempat dimana Zakaria dan Maria hidup.  Muhammad atau Aulloh tidak tahu tradisi keagamaan dan kesukuan Yahudi. Zakaria tidak menetap di Bait Allah di Yerusalem, jadi mustahil ia merawat Maria di sana. Kitab kutip hasil penelitian Robert Morey:
 “Muhammad terjebak dalam ketidaktahuannya akan tradisi ritual dan kesukuan yahudi. Zakaria tidaklah tinggal di Bait Allah di Yerusalem, jadi tidak mungkin dia merawat Maria di sana. Dia, sebagai seorang Imam, dipilih oleh rakyat untuk melayani (secara bergiliran dengan undi) di bait suci Yerusalem tersebut hanya untuk sementara waktu! (Lukas 1:5-40). Tak seorang pun dalam keadaan apa pn tinggal dalam ruang Maha Kudus; hanya imam agung saja yang diperbolehkan memasukinya sekali dalam setahun pada Hari Penebusan Dosa, dengan membawa kurban untuk menebus dosa (1 Raja-raja 8:6.8.9; Imamat 16:2.32.33; Ibrani 9:7)! Zakaria tidak memelihara Maria, karena Zakaria berasald dari suku Lewi (Ibrani 7:14), sedangkan Maria dari sku Yehuda. Terlebih lagi, Zakaria hidup di Yehuda, sedangkan Maria tinggal di Nazaret dengan selisih jarak sehari penuh perjalanan. Jadi, tampaklah seluruh wahyu Muhammad sungguh tidak lulus fakta-fakta kultural!”

4.   [3.42] Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). [3.43] Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk. [3.44] Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.


Komentar
Allah tampaknya perhatian banget pada Maryam. Maryam dipilih, disucikan, dilebihkan atas segala wanita di dunia. Istri Muhammad tidak diperlakukan seperti itu, apalagi ibunya (Muhammad). Ibu Muhammad tidak sempat ‘ditobatkan” diislamkan oleh Aulloh dan Muhammad. Keselamatan jiwanya masih simpang-siur. Jika ibu yang melahirkan orang seagung Muhammad tidak diperhatikan oleh Aulloh, apalagi orang yang sekadar mengikuti Muhammad. Camkanlah itu dengan baik, Anda yang mengikuti Muhammad.! Muhammad diingatkan untuk mengetahui bahwa berita tentang campurtangan Allah kepada Maryam merupakan berita ghaib (luar biasa, mujizat). Berita ghaib itu harus dikenang, diambil pelajarannya.

5.         [3.45] (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), [3.46] dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh."


Komentar
Aulloh sendiri yang menggembirakan Maryam dengan kelahiran seorang anak. Bukan anak seperti Muhammad, tetapi anak yang luar biasa. Anak itu menjadi orang yang terkemuka di dunia dan di akhirat. Betapa terberkatinya ibu anak itu. Anak Maryam sekalipun masih bayi, tetapi sudah bisa berbicara. Ini luar biasa karena tidak sesuai dengan perkembangan manusia pada umumnya. Anak itu pun termasuk orang yang saleh (suci, dekat dengan Allah, tanpa dosa, berperilaku baik dan benar). Alquran tidak pernah menyatakan bahwa Muhammad adalah orang yang saleh.

6.         [3.47] Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia.

Komentar
Maryam tampil sebagai orang yang tidak pernah disentuh seorang laki-laki. Dengan lain kata, anak yang akan dikandungnya berasal dari Allah sendiri. Allah sendirilah “ayah” anak itu, atau Allah sendirilah “suami” Maryam. Berbeda dengan anak Maryam, (Isa Almasih), Muhammad sama sekali lahir dari seorang perempuan yang bersuamikan manusia. Paling sedikit, Muhammad ada karena telah terjadi gelojak birahi antar suami dan istri. Artinya, Muhammad ada karena ‘dosa’. Ingat orang yang nikah secara kafir, bagi Islam haram hukumnya. Padahal junjungan mereka, Muhammad, berasal dari orang tua yang kafir hingga akhir hayat mereka. Jika demikian, maka Muhammad, menurut hukum Islam, adalah anak haram (lahir di luar nikah Islam). Satu-satunya cara untuk memulihkan status hukum perkawinan orang tua Muhammad adalah dengan menganggap bahwa pernikahan di luar Islam (atau sebelum Islam hadir) halal hukumnya. Jika demikian, maka konteks budaya Arab, [yang selalu digembar-gembor sebagai bangsa biadab sebelum Islam oleh komentator Islam modern ] adalah halal juga. Nah, tidaklah tepat kalau dikatakan Muhammad datang memperbaiki bangsa Arab.

7.         [4.156] Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),

Komentar
Alquran Allah ini membela Maryam dengan kebencian pada orang Yahudi. Dari dahulu sampai sekarang, orang yahudi tidak pernah menuduh Maryam berbuat zina. Darimanakah Alquran mendapat informasi miring ini? Alquran hanya mengada-ada. Yang pasti Maryam orang suci dan dilindungi oleh Tuhan sendiri. Ia dilindungi pula dari tuduhan palsu.

8.         [5.75] Al Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).

Komentar
Maryam adalah seorang yang sangat benar. Beda sekali dengan istri-istri nabi. Mereka bertugas mempersiapkan perbekalan untuk keberhasilan sang suami (Muhammad) menggorok leher orang kafir di medan pertempuran. Muhammad salah dalam memberi laporan tentang anak Maryam. Anak Maryam (Isa Almasih) tidak hanya seorang rasul. Isa Almasih memakan makanan, tetapi itu tidak menjelaskan bahwa Dia hanya seorang rasul. Seharusnya Muhammad menjelaskan mengapa Isa Almasih yang yang memakan-makanan berasal dari “Kalimatullah” dan dari Ruh Allah”?. Mengapa hanya dialah rasul yang memakan makanan berasal dari “Kalimatullah dan Ruh Allah” sedangkan yang lainnya memakan makanan tetapi tidak berasal dari “Kalimatullah dan ruh Allah”? Jadi, Isa Almasih tidak hanya seorang rasul yang memakan makanan. Dia lebih dari seorang rasul, dia tidak sama dengan rasul pada umumnya. Dia berasal dari “Kalimatullah dan Ruh Allah” sedangkan yang lainnya berasal dari tanah. Semua rasul yang lain mati dan dikuburkan, sedangkan Isa Almasih diangkat langsung oleh Allah ke sorgaNya. 

9.         [5.110] (Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."

Komentar
Lihat uraian tentang Isa Almasih menurut Alquran. Maryam disebut orang yang mendapat ni’mat Allah. Maryam selalu disebut bersamaan dengan putranya untuk menjelaskan bahwa Maryam tidak mempunyai suami. Kebiasaan di daerah Timur Tengah, seorang anak selalu disebut dengan nama ayahnya. Isa Almasih tidaklah demikian. Ia sering disebut dengan nama ibunya.



10.       [5.112] (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: "Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?" Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman". [5.113] Mereka berkata; "kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu". [5.114] Isa putra Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama".  [5.115] Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang siapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia".

Komentar
  1. Pengikut Isa meminta makanan sorgawi
  2. Isa meminta pengikutNya bertaqwa kepada Allah
  3. Hidangan sorgawi menentramkan hati
  4. Hidangan sorgawi sebagai tanda bahwa Isa telah berkata benar
  5. Isa berdoa dan Allah mengabulkannya
  6. Hari turunnya hidangan dari langit sebagai hari raya bagi semua orang sezaman Isa dan bagi orang sesudahNya
  7. Hidangan dari langit sebagai tanda kekuasaan Allah
  8.  Orang yang masih kafir sesudah diturunkannya hidangan darilangit akan disiksa dengan siksaan yang luar biasa

Kisah di atas mengacu pada perayaan ekaristi sebagai roti hidup sebagaimana tercatat dalam Alkitab (Yohanes 6:25-59). Perayan itu sebagai tanda kekuasaan Allah. Siapa pun yang tetap kafir setelah datangnya ‘perayaan ekaristi’ itu akan disiksa. Alquran melaporkan bahwa Isa meminta pengikutNya agar percaya kepada Allah, sedangkan Alkitab memberi tahu kita bahwa Isa Almasih meminta para pengikutNya untuk percaya kepadaNya sebagai “makanan sorgawi yang tidak akan binasa”. Putra Maryam ini benar-benar luar biasa. Allah sungguh memperhatikan Dia. Doanya dikabulkan dan melakukan banyak tanda dan mukjizat di depan mata murid dan pengikutNya.

11.       [5.116] Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?" Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau.  Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib".

Komentar
Allah bertanya kepada Isa mengandaikan Dia tidak tahu apa yang telah dikatakan dan dibuat oleh Isa. Jawaban Isa lebih masuk akal. “Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya”. Tanya jawab antara Allah dan Isa Almasih ini hanya mau mengecek fakta di lapangan (karena Allah tidak tahu): apakah Isa Almasih pernah meminta dirinya dan ibunya (Maryam) dijadikan Tuhan selain Allah oleh manusia. Hasilnya: “Tidak! Isa tidak pernah meminta hal itu!”. Teka-teki dalam diri Allah, terjawab sudah. Isa Almasih menyadari betul bahwa manusia tidak mungkin dapat menjadikan dia dan ibunya sebagai Tuhan. Isa Almasih tidak mungkin mengajukan suatu permintaan yang konyol. Fakta ini menepis anggapan orang Islam yang mengatakan bahwa orang Kristen telah menjadikan Isa Almasih sebagai Tuhan selain Allah. Jadi, Alquran sendiri memberi kesaksian bahwa manusia tidak dapat membuat Isa Almasih menjadi Tuhan. Namun, apa jadinya kalau setiap saat orang Islam menuduh orang Kristenlah yang membuat Isa Almasih menjadi Tuhan? Sangat mungkin mereka dilaknati Allah sebab mereka “suka mengajukan tuduhan palsu di hadapan Allah, Hakim Maha Mengetahui. Mereka kalah telak dihadapan pengadilanNya. Kemudian kita bertanya: “Apakah Allah dapat menjadikan Yesus sebagai Tuhan? Apakah Allah dapat menjadi manusia.  


12.       [5.117] Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

Komentar
Isa Almasih menyadari bahwa jawaban dalam Surat 5:16 tidak cukup. Ia perlu menegaskannya lagi. “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka [jadikan aku dan ibu ibuku dua orang tuhan selain Allah] kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku [mengatakan] nya yaitu: ”Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu” Frasa dalam surat ini agaknya diambil oleh Muhammad dari Alkitab Ulangan 6:4 dan Markus 12:29-30 lalu diletakkan dalam mulut Isa Almasih. Hal yang penting kita perhatikan adalah setting pernyataan Isa Almasih ini. Pernyataan Isa Almasih ini pasti bukan ketika ia masih hidup, tetapi setelah Ia mati dan bangkit. Perhatikan! “Maka SETELAH Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu”. Pernyataan Isa Almasih ini menggugurkan polemik dalam pandangan Islam yang menyatakan bahwa Isa Almasih sampai sekarang belum mati, tetapi masih hidup jiwa dan raganya di sisi Allah.

13.       [19.16] Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur'an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, [19.17] maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.”

Komentar
  1. Maryam menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur.

  1. Allah mengutus RohNya (Kami mengutus Roh Kami kepada Maryam
  2. Roh Kami (Roh Allah) menjelma di hadapan Maryam manusia yang sempurna

Alquran sebagai kitab yang terperinci dan menjelaskan segala sesuatu ternyata tidak terperinci dan tidak menjelaskan secara jelas mengenai surat 19:116-117 ini. “Maryam menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur”. Tidak ada hal yang dapat kita ketahui tentang “suatu tempat di sebelah timur” itu. Pernyataan ini mengindikasikan ketidaktahuan Muhammad mengenai tempat tinggal Maryam selama waktu ia mengandung Isa Almasih. Alkitab jelas memberi tahu kita bahwa selama mengandung Putranya, Maryam tinggal di Nazaret (Lukas 2:4). Pada point 2, “Kami mengutus Roh Kami”. Pernyataan Alquran yang satu ini membuat pakar-pakar Islam pusing tujuh keliling. Mereka berpendapat bahwa Roh [Kami] berarti “Malaikat” sesuai dengan surat 19:19. Tetapi dalam tradisi keagamaan manapun tidak pernah menyamakan begitu saja antara Roh dan Malaikat (Roh Allah sama dengan Malaikat Allah). Point 3 dengan sendirinya membantah desas-desus pakar Islam itu. “Roh Kami (kalau benar Roh sama dengan Malaikat, maka Malaikat Kami) menjelma menjadi “manusia sempurna”. Kalau benar bahwa Yesus hanya jemaan malaikat Allah, maka ia akan kembali ke asalnya (kembali menjadi malaikat). Faktanya, Yesus dalam pandangan Islam adalah manusia biasa, hanya seorang rasul bagi bani Israel yang hingga hari ini masih hidup jiwa dan raganya di sisi Allah. Lagi pula, faktanya “malaikat” itu memberi seorang anak laki-laki yang suci. Bagaimana harus didamaiakan bahwa “malaikat” itu menjelma menjadi manusia, sekaligus memberi seorang anak lelaki yang suci? (Surat 19:19) Apakah Maria mengandung anak kembar? Pakar lainnya berpendapat bahwa kata “Roh” itu tidak lebih dari “perkataan” Allah. Pendapat itu ditepis oleh kata “mengutus”. Bagaimana mungkin Allah mengutus “kata/kalimat”. Prinsip yang lebih masuk akal: sesuatu/seseorang dapat diutus mengandaikan sesuatu/seseorang itu adalah pribadi. (lihat komentar atas surat 19:19) Kalau dikatakan “Roh Allah” itu berarti “Pribadi Allah”, pribadi yang berhakikat Allah, beresensi dan bereksistensi Allah. Karena Dia berpribadi Allah, maka sangatlah gampang baginya menjelma menjadi manusia. Adakah sesuatu yang tidak mungkin bagi Allah? Bukankah Dia Mahakuasa? Putra Maryam ini memang unik dan amat mengesankan bagi semua umat manusia.


14.       [19.18] Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa".

Komentar
Dalam ayat pendek ini, Maryam ditampilkan sebagai sosok yang berlindung pada Allah. Maryam percaya bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Pemurah. Orang harus percaya akan pernyataannya (Maryam) jika orang itu adalah seorang yang bertaqwa. Tak seorang pun kaum Muslim mengingkari hal itu. Mereka sangat yakin bahwa Maryam adalah orang yang sangat taqwa dan apa yang dikatakannya pasti benar. Hal itu dapat dicari persamannya dalam Alkitab (Lukas 1:46-56).

15.       [19.19] Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci". 

Komentar
Malaikat Jibril tampil sebagai utusan Tuhan untuk memberi seorang anak laki-laki yang suci kepada Maryam. Fakta ini menyangkal anggapan Islam bahwa Malaikat Allah (=Roh Allah) menjelma menjadi manusia. Malaikat memberi seorang anak laki-laki yang suci. Jadi, ada tiga oknum dalam peristiwa itu: malaikat, anak laki-laki yang suci dan maryam. Jadi, tidak benar kalau dikatakan malaikat menjelma menjadi manusia yang sempurna, yang benar adalah malaikat memberi seorang anak lelaki yang suci. Haruslah disimpulkan bahwa Jibril datang (diutus Allah) kepada Maryam untuk memberitahu bahwa ia akan mengandung Roh Allah (seorang anak laki-laki yang suci/Anak Allah). Mengapa harus diberitahu? Tujuannya agar Maryam tidak panik (dan lebih jauh lagi), agar Maryam tidak boleh mengugurkan kandungannya. Bagi orang Yahudi, seorang perempuan yang hamil di luar nikah harus dirajam hingga mati. Tidak heran kalau Maryam protes! Bagaimana akan ada anak lelakibagiku, pada hal tak ada lelaki yang menyentuhku dan aku bukan pezina. Maryam menyadari bahwa hamil di luar nikah sah beresiko nyawa terancam.

16.       [19.20] Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!"
Komentar
  1. Maryam bertanya tentang kemustahilan yang justeru akan terjadi padanya. Maryam berpikir bahwa peristiwa kehamilan hanya mungkin terjadi jika sebelum ada hubungan suami isteri.
  2. Maryam menyatakan dirinya bukan seorang pezina

17. [19.21] Jibril berkata: "Demikianlah. Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan."

  1. Maryam akan mengandung karena campurtangan Awlah sendiri
  2. Buah kandungan maryam adalah TANDA bagi manusia dan RAHMAT dari Allah sendiri
  3. Keputusan Allah mutlak akan terjadi


18. [19.22] Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.

  1. Maryam mengandung
  2. Maryam menarik diri ke tempat yang jauh [tidak disebutkan ke mana]
  3. Allah mengaku bahwa Alquran itu memuat Sabdanya dengan keterngan-keterangan yang terperinci. Ayat ini membuktikan bahwa ternyata Alquran tidak terperinci. Seharusnya Allah memberitahu ke Maryam mengungsi.


19. [19.23] Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata:"Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan".

Komentar
  1. Rasa sakit akan melahirkan, ini sesuatu yang wajar
  2. Ia bersandar pada pohon kurma sesuatu yang tidak lazim pada zaman itu bahwa seorang perempuan pergi melahirkan bayinya ke sebuah pohon. Ayat ini terkesan sebagai mitos belaka
  3. Tampaknya Maryam sedemikian fustrasi saat melahirkan anak. Ia dipertontonkan oleh Alquran sebagai orang yang kurang percaya kepada Allah
  4. Maryam merasa dirinya sebagai orang yang tak berarti, sesuatu yang tidak logis sebab bukankah malaikat Allah atau Allah sendiri telah membuatnya mengandung
  5. Maryam merasa dirinya dilupakan? Oleh siapa tidak diterangkan



20. [19.24] Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. 

Komentar

  1. Cara Allah menyelesaikan persoalan Maryam tidak logis
  2. Apa pengarunhnya anak sungai bagi orang yang melahirkan?
  3. Maryam tidak sedang mengeluh karena kehausan, tetapi sakit bersalin. Seharusnya Allah mendatangkan tabib atau dokter


21. [19.25] Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.

Komentar

  1. Cara Malaikat menyelesaikan persoalan Maryam juga tidak benar
  2. Maryam tidak sedang lapar tetapi merasa sakit bersalin
  3. Bahwa Maryam merasa diri lebih baik mati daripada menanggung penderitaan. Malaikat sudah tahu bahwa Maryam bersedih hati, tetapi cara dia menghibur Maryam adalah dengan memberi buah kurma. Persis cara seorang guru TK mengatasi muridnya yang menangis

22. [19.26] Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini". 

Komentar
  1. Makin kacau cara Allah yang satu ini menyelesaikan persoalan umatnya.
  2. Maryam sedang hendak melahirkan, eh malah disuruh makan dan minum serta bersenang hati.
  3. Disuruh makan dan minum, tetapi jika bertemu dengan orang lain, Maryam harus berdusta bahwa Ia sedang berpuasa untuk tidak berbicara.
  4. Bukankah dengan demikian Maryam sudah menyangkal puasanya dari percakapan dengan orang lain, jika ia berbicara atau memberitahu bahwa dirinya sedang berpuasa.
  5. Allah yang satu ini agak aneh.

23. [19.27] Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

Komentar

  1. Lihatlah betapa kacaunya tulisan Allah ini
  2. Ia tidak melaporkan bagaimana peristiwa kelahiran itu sendiri
  3. Tidak juga dijelaskan apakah Maryam melaksanakan perintah Allah tadi
  4. Apakah Maryam sudah bertemu dengan seseorang untuk memberitahukan bahwa ia sedang berpuasa?
  5. Jika hal itu tidak terlaksana, maka sesungguhnya Allah tadi TIDAK TAHU bahwa pada hari dimana Maryam melahirkan anaknya akan bertemu dengan seseorang atau tidak. Bagaimana mungkin Allah memberi perintah: “Jika kamu melihat seorang manusia…dstnya” kalau ternyata Allah tahu bahwa Maryam tidak mungkin bertemu dengan seseorang? Perintah itu mengandaikan bahwa Allah sudah tahu bahwa Maryam nantinya akan bertemu dengan seseorang.

[19.28] Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina",

Komentar
  1. Ayat ini jelas salah TOTAL.
  2. Maryam bukan saudara perempuan Harun
  3. Harun adalah saudara Musa. Kita tahu bahwa ia mempunyai saudari yang bernama Miryam. Muhammd sepertinya salah nguping.
  4. Harun dan Maryam hidup pada zaman yang berbeda
  5. Mayam baru lahir berates-ratus tahun setelah Haun wafat.
  6. Ayah Maryam bukan seorang jahat
  7. Ibu Maryam bukan seorang pezina


[19.29] maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?"

Komentar
  1. Jawaban dari Maryam atas komentar dari kaumnya hanya menunjuk kepada anaknya yang masih dalam ayunan
  2. Kaumnya Maryam menyatakan diri tidak dapat berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan
  3. Mitos alquran ini benar-benar amburadul


[19.30] Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.

Komentar
  1. Jawaban Isa ini sangat mustahil
  2. Seorang anak kecil yang masih dalam ayunan menyebut dirinya sebagai hamba Allah
  3. Muslim percaya bahwa Isa adalah 100% manusia dan hanya utusan Allah
  4. Bagaimana manusia yang sedemkian masih bayi tetapi sudah tahu bahwa dirinya adalah hamba Allah? Allah saja dia belum tahu.
  5. Orang Muslim percaya bahwa “Allah” tidak sama dengan Tuhannya orang Yahudi, padahal Maryam dan Isa diakui oleh Muslim adalah orang Yahudi. Koq malah Isa sudah dapat menyebut dirinya sebagai hamba Allah?
  6. Lebih aneh lagi, anak kecil yang masih dalam ayunan itu sudah diberi Alkitab[Injil], padahal dia belum bias baca tulis? Tidak ada catatan yang membuktikan bahwa pada zaman Isa, anak-anak kecil yang masih dalam ayunan sudah dapat membaca, apalagi membaca Kitab Allah.
  7. Allah yang tidak dikenal oleh orang Yahudi itu malah mengangkat bayi yang masih dalam ayunan menjadi nabi. Sesuatu yang luar biasa.
  8. Nabi yang dimengerti oleh orang Muslim tentu berbeda dengan pengerti nabi yang dipahami oleh orang non Muslimer. Contoh pengertian apa itu nabi adalah seperti Muhammad.

[19.31] dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

Koemntar
  1. Jika antara ayat yang satu dengan ayat yang lain saling terkait dalam konteks yang sama, maka konteks pembicaraan Isa ini adalah masih sekitar masa bayinya
  2. Juga masih berkaitan dengan pertanyaan kaum Maryam tadi.
  3. Isa yang masih dalam ayunan itu ternyata sudah tahu bahwa ia diberkati dimana saja ia berada,
  4. Isa yang masih dalam ayunan itu diperintah untuk mendirikan salat, menunaikan zakat selama hidup.

[19.32] dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. 

Komentar
  1. Isa yang masih dalam ayunan itu diperintah untuk berbhakti kepada ibunya, ini menarik tidak diperintahkan untuk berbhakti kepada Allah yang mengutus dia sebagai nabi
  2. Anak kecil Isa itu ternyata sudah tahu bahwa Allah tidak menjadikan dirinya seorang yang sombong
  3. Isa, anak kecil itu adalah orang yang TIDAK CELAKA
  4. Kita dapat memahami [walaupun tidak selalu setuju] semua yang dikatakan oleh Isa anak yang masih dalam ayunan itu SUNGGUG-SUNGGUH diberi karunia YANG SANGAT LUAR BIASA oleh Allah. Hal yang sama sekali tidak dinyatakan oleh Allah dalam lembaran-lembaran Alqurannya


[19.33] Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".


  1. Isa, anak kecil yang masih dalam ayunan itu berharap kesejahteraan dilimpahkan kepadanya kapan dan dimanapun
  2. Anak yang masih dalam ayunan itu, Isa berharap kesejahteraan dilimpahkan kepadanya pada hari Ia DILAHIRKAN, pada hari Ia MENINGGAL, pada hari Ia DIBANGKITKAN HIDUP KEMBALI. Ini semua adalah jawaban dari seorang anak kecil Isa, yang masih dalam ayunan ibunya.


[19.34] Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.

Komentar

a.        Perkataan anak kecil yang masih dalam ayunan, Isa itu ternyata: MENGATAKAN PERKATAAN YANG BENAR
b.       Ada orang yang berbantah-bantah tentang kebenaran anak kecil, Isa itu. Ini luar biasa.
c.        Siapakah mereka? Yakni orang-orang Yahudi, kaumnya Maryam.


[19.35] Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia.

Komentar

  1. Allah yang satu ini benar-benar pengecut.
  2. Allah menyebabkan Maryam mengandung.
  3. Anehnya, Allah SWT itu tidak mengakui bahwa buah kandungan Maryam adalah anaknya. Lalu ditimpakan kepada siapa?
  4. Apakah Dia mau supaya Maryam dituduh sebagai pezinah?
  5. Allah tidak konsisten, Dia telah membuat Maryam bersedih hati, malu karena dituduh berzinah.
  6. Maryam tidak bodoh. Tentu ketika dia ditanya oleh kaumnya, “Ini anak siapa, siapa bapanya dll”, apa jawaban Maryam? Maryam akan menjawab dengan sangat mantap: “Anak Allah. Allah adalah Bapanya. Allahlah yang membuat saya mengandung anak ini.” Itulah satu-satunya jawaban yang logis untuk kaumnnya Maryam.
  7. Jadi, Isa anak kecil yang membela ibunya dengan sangat fasih ADALAH ANAK ALLAH.
  8. Jika Allah itu adalah TUHAN YANG MAHAESA, maka ISA adalah PUTERA TUHAN YANG MAHA ESA.


[19.36] Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.

Komentar
  1. Sesungguhnya Allah itu adalah Tuhan
  2. Jadi, Isa yang dikandung karena Tuhan itu adalah ANAK TUHAN
  3. Sembahlah Dia, Tuhan yang telah membuat Maryam mengandung anakNya, Isa
  4. Itu adalah JALAN YANG LURUS, yakni TUHAN YANG MEMPUNYAI ANAK
  5. Kita tahu dari ceritera di atas bahwa proses bagaimana Tuhan mempunyai anak bukan melalui hubungan biologis, tetapi melalui SABDANYA.

[66.12] dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.

Komentar
  1. Adalah lebih logis kalau ayat ini diletakkan di awal percakapan Maryam dengan malaikat.
  2. Maryam puteri Imron? Imron adalah salah seorang imam yang bertugas di Bait Allah di Yerusalem, jadi dia bukan ayah dari Maryam.
  3. Ayat ini menjelaskan bagaimana Allah membuat Maryam mengandung AnakNya.
  4. Caranya: Ia meniupkan RohNya. Kata dalam kurung [“ciptaan”] adalah penipuan yang dibuat oleh Muslim. Dalam teks Alquran asli tidak ada kata itu. Dari Roh Kami itu sama dengan dari Roh Allah, jika kata “Kami” adalah Allah. Kata kami itu hanya dapat dialamatkan kepada Allah sebab hanya Roh Dia yang dapat berubah menjadi SEORANG ANAK MANUSIA.
  5. Anak yang dikandung Maryam itu MEMBENARKAN KALIMAT-KALIMAT TUHANNYA. Maksud dari perkataan ini ialah bahwa SABDA ALLAH “TERGENAPI dan MENJADI’ dalam Isa Dengan kata lain, ISA itu adalah SABDA ALLAH YANG MENJADI MANUSIA. Ini tidak sama dengan membenarkan kitab-kitab Tuhannya.  
  6. “dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya”. Isa berfungsi menyatakan dua hal pokok: membenarkan Kalimat-kalimat Allah DAN membenarkan kitab-kitabNya. Membenarkan kitab-kitabNya itu berarti  rujukan apakah sebuah Kitab diwahyukan dari Allah atau tidak adalah tergantung apa yang dikatakan oleh Isa. Ini logis sebab Isa adalah ANAK ALLAH itu sendiri. Mengabaikan bahwa Isa adalah Anak Allah adalah PENOLAKAN TERHADAP KESELURUHAN WAHYU YANG DITURUNKAN OLEH BAPANYA.

2 komentar:

suatu perbahasan yg terlalu bodoh..

Bodoh keterlaluan kau nak ....ga sesuai nama blog ini akal budi Islam...tapi hasil tulisan kayak sampah haha

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More