Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Firman yang terdengar janggal dalam Alkitab


Bagaimana menjelaskan beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh teman dari Islam dimana dikatakannya sebagai “Firman lucu dalam Alkitab”.Firman yang terdengar janggal dalam Alkitab | katolisitas.org
Firman yang terdengar janggal dalam Alkitab | katolisitas.orgAyat – ayat yang disorot adalah sbb :
1. Ul 14:21 Tuhan terkesan meracuni orang asing
2. Kej 3:8-10 Tuhan terkesan tidak tahu karena main petak umpet dengan Adam & Hawa
3. Kej 21:1-2 Tuhan mengauli Sara
4. Kej 6:6-7 Tuhan bisa menyesal & Pilu, bagaimana bisa ? Bukankah Tuhan Maha Kuasa ?
5. Kej 8:21 Bagaimana penulis bisa tahu Tuhan berfirman dalam hati ?
6. Yes 5:26 Tuhan bersuit ( sifat manusia )
7. Yer 25:30 Tuhan mengaum ( sifat binatang )
8. Yes 7:20 Tuhan mencukur
9. Yes 42:13-14 Tuhan memekik, mengerang, megap-megap
10. Hos 3:1 Tuhan menyuruh melacur
Demikian bu, mohon bantuannya yah. Terima kasih. Tuhan memberkati
Melati

Jawaban:

Shalom Melati,
Sebelum saya menjawab pertanyaan- pertanyaan anda, ijinkan saya menyampaikan beberapa point ajaran Gereja Katolik tentang inspirasi dan kebenaran Kitab Suci, seperti yang tertulis dalam Katekismus Gereja Katolik:
KGK 105 Allah adalah penyebab [auctor] Kitab Suci. “Yang diwahyukan oleh Allah dan yang termuat serta tersedia dalam Kitab Suci telah ditulis dengan ilham Roh Kudus”…..
KGK 106 Allah memberi inspirasi kepada manusia penulis [auctor] Kitab Suci. “Tetapi dalam mengarang kitab-kitab suci itu Allah memilih orang-orang, yang digunakan-Nya sementara mereka memakai kecakapan dan kemampuan mereka sendiri, supaya – sementara Dia berkarya dalam dan melalui mereka – semua itu dan hanya itu yang dikehendaki-Nya sendiri dituliskan oleh mereka sebagai pengarang yang sungguh-sungguh.” (Dei Verbum 11)
KGK 109 Di dalam Kitab Suci Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan para penulis suci, dan apa yang ingin diwahyukan Allah melalui kata-kata mereka (Bdk. Dei Verbum 12,1).
KGK 110 Untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan situasi zaman dan kebudayaan mereka, jenis sastra yang biasa pada waktu itu, serta cara berpikir, berbicara, dan berceritera yang umumnya digunakan pada zaman teks tertentu ditulis. “Sebab dengan cara yang berbeda-beda kebenaran dikemukakan dan diungkapkan dalam nas-nas yang dengan aneka cara bersifat historis, atau profetis, atau poetis, atau dengan jenis sastra lainnya” (Dei Verbum 12,2).
Jadi Kitab Suci memang dituliskan atas inspirasi dari Allah sendiri, namun Allah melibatkan kemampuan orang- orang pilihan-Nya untuk menuliskan Sabda-Nya melalui kata- kata manusia. Oleh karena itu, jenis sastra juga mempengaruhi ungkapan- ungkapan yang tercantum dalam Kitab Suci, entah itu bersifat historis, profetis atau puitis.
Selanjutnya dalam mengartikan suatu ayat yang sekilas terlihat ’sulit’, kita harus melihat kaitannya dengan ayat- ayat yang lain dalam Kitab Suci. Katekismus mengajarkan agar dalam menginterpretasikan Kitab Suci maka kita harus:
KGK 112 1. Memperhatikan dengan saksama “isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci“…
KGK 113 2. Membaca Kitab Suci dalam “Tradisi Suci yang hidup dari Gereja secara keseluruhan.”
KGK 114 3. Memperhatikan analogi iman.
Selanjutnya tentang topik prinsip menginterpretasikan Alkitab, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Secara khusus, lihatlah bagian sub-judul ‘Gaya bahasa’, yang menyebutkan penjelasan tentang gaya bahasa simili, metafor, perkiraan, fenomenologi, anthropormofis, hiperbolisme.
Sekarang mari melihat ayat- ayat yang anda tanyakan:

1. Ul 14:21

“Janganlah kamu memakan bangkai apapun, tetapi boleh kauberikan kepada pendatang yang di dalam tempatmu untuk dimakan, atau boleh kaujual kepada orang asing; sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu.”
Orang Israel dilarang untuk memakan hewan yang mati secara natural, bukan karena alasan kesehatan (higienitas), tetapi karena hewan tersebut dianggap ‘najis’ karena jika dimakan tanpa disembelih dahulu dengan ritual tertentu, maka ada resiko darah binatang yang masih ada di dalam daging bangkai tersebut menjadi termakan. Sedangkan bangsa Israel pada jaman PL dilarang untuk mengkonsumsi darah, karena pada darah diyakini ada nyawa (lih. Ul 12:23). Maka larangan untuk memakan hewan yang mati tanpa mereka sembelih ini berkaitan dengan perintah tersebut. Sedangkan secara keseluruhan larangan meminum darah pada PL ini adalah cara Allah mempersiapkan umat-Nya untuk menghargai makna ‘Darah Kristus Sang Anak Domba Paska’ yang justru kita minum, agar kita menerima rahmat ‘nyawa’/ kehidupan yang kekal (lih. Yoh 6:53-56).
Dengan demikian, tidak benar komentar teman anda itu yang mengatakan bahwa Allah sepertinya ingin meracuni orang asing. Allah memperbolehkan agar binatang yang mati secara natural itu diberikan kepada orang asing, karena mereka tidak terikat oleh hukum Musa tentang larangan minum darah tersebut.

2. Kej 3:8-10

“Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?”
Tentang hal ini sudah dibahas secara khusus di jawaban ini, silakan klik.

3. Kej 21:1-2

“TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya. Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.”
Terus terang saja, saya tidak mengerti mengapa dari ayat tersebut di atas, lalu teman anda berkesimpulan bahwa Allah menggauli Sara. Ayat di atas sesungguhnya berhubungan dengan ayat dalam beberapa perikop sebelumnya, yaitu Kej 18:10-14, di mana Allah berjanji kepada Abraham dan Sara bahwa pada tahun berikutnya Sara akan melahirkan seorang anak laki- laki bagi Abraham. Pada saat mendengar janji ini Sara tertawa, karena menganggap tidak mungkin lagi baginya maupun Abraham untuk berhubungan suami istri karena mereka sudah tua. Namun Tuhan mengatakan, tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

4. Kej 6:6-7

“maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN,” Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu… sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”
Pada perikop ini, dipergunakan gaya bahasa antropomorfis, yang artinya menggambarkan Allah dari perspektif manusia, atau menggunakan penggambaran yang umum digunakan oleh manusia. Gaya bahasa macam ini memang digunakan di dalam Alkitab, seperti yang nanti akan timbul lagi pada beberapa ayat yang anda tanyakan. (Silakan membaca kembali link di atas tentang prinsip menginterpretasikan Kitab Suci, terutama di bagian gaya bahasa. Karena dalam Kitab Suci, selain gaya bahasa antropomorfis/ personifikasi dipergunakan juga gaya bahasa simili, metafor, perkiraan/ prediksi, fenomenologi, dan hiperbolisme)
Maka jika dikatakan Allah menyesal, itu adalah untuk menggambarkan, bahwa jika manusia yang ada di posisi Allah, maka ia akan menyesal. Namun sebenarnya, Allah sendiri telah mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi, sebab Ia adalah Maha Tahu, sehingga keputusan-Nya tidak berubah. Tentang Allah yang tidak berubah ini disebutkan dalam Bil 23:19. Jadi ungkapan “Allah menyesal” ini adalah untuk menghubungkan akan apa yang kemungkinan dirasakan oleh Allah, jika ditinjau dari sudut pandang manusia.

5. Kej 8:21

Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia…. Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.”
Teman anda mempertanyakan bagaimana penulis kitab Kejadian tersebut dapat mengetahui, jika Tuhan hanya berfirman dalam hati? Tentu bagi kita yang percaya bahwa Tuhan sendiri yang memberi inspirasi terhadap penulisan Kitab Suci ini, ini tidaklah menjadi masalah. Sebab penulis itu tidak menulis kitab dari dirinya sendiri, tetapi atas pewahyuan dari Allah. Jadi kalau Allah berfirman demikian di dalam Diri-Nya, dan Ia ingin agar firman ini diketahui oleh umat-Nya, maka Ia mewahyukan hal ini kepada sang penulis. Bahwa kemudian penulis mengatakan, “berfirmanlah Tuhan di dalam hati-Nya”; di sini kembali digunakan istilah antropomorfis (dihubungkan dengan istilah yang dipakai manusia), untuk menggambarkan bahwa firman itu dikatakan Allah di dalam Diri-Nya sendiri; karena jika ini terjadi pada manusia, manusia mengatakannya sebagai “berkata dalam hati”.

6. Yes 5:26

“Ia akan melambaikan panji-panji kepada bangsa yang dari jauh, dan akan bersuit memanggil mereka dari ujung bumi…. “
Teman anda bertanya, mengapa Allah dapat “bersuit”. Namun seperti telah dijabarkan di atas, di sini digunakan istilah antropomorfis untuk menggambarkan bahwa Allah sendirilah yang memanggil para bangsa dari segala ujung bumi. Di sini istilah “bersuit” adalah istilah yang sering dipergunakan oleh manusia, yaitu kepala pasukan pada saat mengumpulkan para prajuritnya; atau gembala, yang bersuit untuk memanggil kawanan ternaknya. Jadi istilah ini hanya untuk menunjukkan bahwa Allah sendirilah yang menjadi kepala, atau gembala, dari kawanan umat-Nya.

7. Yer 25:30

“…nubuatkanlah segala firman ini kepada mereka. Katakanlah kepada mereka: TUHAN akan… mengaum hebat terhadap tempat penggembalaan-Nya, suatu pekik, seperti yang dipekikkan pengirik-pengirik buah anggur, terhadap segenap penduduk bumi.”
Istilah “mengaum” di sini berhubungan dengan bagaimana Allah menjaga dan mengembalakan umat-Nya di Yerusalem dan Yehuda, suatu metafor tentang penggembalaan. Ia mengeluarkan “pekik” seperti halnya pekik para pengirik anggur/ para petani para waktu panen. Ini adalah penggambaran metafor tentang akhir dunia nanti, bahwa Pengadilan Terakhir bagi segenap manusia itu serupa dengan masa panen/ masa menuai di mana lalang akan dipisahkan dari gandum (lih. Mat 13:30).

8. Yes 7:20

“Pada hari itu dengan pisau cukur yang dipinjam dari seberang sungai Efrat, yakni raja Asyur, Tuhan akan mencukur kepala dan bulu paha, bahkan pisau itu akan melenyapkan janggut juga.”
Kembali di sini digunakan gaya bahasa antropomorfis, untuk menggambarkan bahwa Allah-lah yang memangkas umat-Nya di Yehuda, dengan menggunakan bangsa Babilonia atas pimpinan Raja Asyur. Lalu istilah mencukur kepala, bulu paha dan janggut, itu adalah istilah metafor/ perumpamaan yang menyatakan akan diusirnya bangsa Israel (seperti halnya rambut yang dipangkas). Hal ini diizinkan Allah terjadi, oleh karena mereka telah berdosa di hadapan Allah, seperti yang disebutkan dalam awal kitab Yesaya (lih. Yes 1). Maka ini merupakan nubuat kehancuran bangsa Israel karena invasi bangsa Asyur/ Babilonia 701 BC, di mana sekitar 200.150 orang Israel/ Yehuda dideportasi.

9. Yes 42:13-14

“TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuh-Nya Ia membuktikan kepahlawanan-Nya. Aku membisu dari sejak dahulu kala, Aku berdiam diri, Aku menahan hati-Ku; sekarang Aku mau mengerang seperti perempuan yang melahirkan, Aku mau mengah-mengah dan megap-megap.”
Pada ayat ini, kembali yang digunakan adalah gaya bahasa antropormofis, untuk menggambarkan sifat Allah dengan istilah manusia. Dalam hal ini, yang ingin digambarkan adalah kesetiaan Allah untuk bertempur membela umat pilihan-Nya yang setia kepada-Nya, yang dipanggil-Nya untuk diselamatkan (lih. Yes 42: 6). Maka penggambaran sebagai seorang perempuan yang melahirkan adalah untuk menggambarkan betapa Allah sangat menantikan saatnya di mana Ia akan memuliakan kembali umat-Nya. Betapa Allah menghendaki kembalinya bangsa Israel, seperti seorang ibu menantikan kelahiran anaknya, dan berjuang untuk melahirkannya.

10. Hos 3:1

“Berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis.”
Teman anda menanyakan, mengapa Allah menyuruh Nabi Hosea melacur; padahal yang melacur itu adalah istrinya, dan bukan Nabi Hosea. Jadi ayat ini maksudnya adalah demikian: Bangsa Israel telah berpaling dari Allah, dengan menyembah allah- allah lain, seperti seorang istri yang telah berpaling dari suaminya. Supaya umat Israel memahami kesalahan mereka yang besar ini, Allah menyuruh nabi-Nya, Hosea, untuk menikahi seorang perempuan sundal (lih. Hos 1: 2). Setelah perempuan itu melahirkan anak- anak bagi Hosea, kembali perempuan itu menjadi tidak setia dan berpaling kepada para kekasihnya (lih. Hos 2:2-13). Namun, Hosea tidak dapat melupakan istrinya itu, sama seperti Allah mengasihi bangsa Israel, meskipun bangsa itu telah “melacur” dengan menyembah allah- allah lain yang disembah oleh bangsa- bangsa di Kanaan. Istilah “menyukai kue kismis” adalah istilah yang mengacu kepada para bangsa penyembah dewa Baal, seperti orang- orang Moab (lih. Yes 16:7). Terlihat di sini bahwa kisah Hosea bukan semata dongeng yang tidak masuk akal, tetapi justru sangat terkait dengan kehidupan bangsa Israel sendiri, yang memang pada waktu itu tidak setia kepada Allah.
Demikianlah sekilas yang dapat saya tuliskan tentang pertanyaan anda. Sebagai penutup saya ingin mengutip kembali apa yang diajarkan oleh Katekismus, tentang bagaimana kita harus menginterpretasikan Kitab Suci agar dapat kita mengerti maknanya:
KGK 111 Oleh karena Kitab Suci diilhami, maka masih ada satu prinsip lain yang tidak kurang pentingnya guna penafsiran yang tepat karena tanpa itu Kitab Suci akan tinggal huruf mati saja: “Akan tetapi Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus dan harus dibaca dan ditafsirkan dalam Roh Kudus itu juga” (Dei Verbum 12,3).
Artinya kita harus membaca dan menginterpretasikannya sesuai dengan tuntunan Roh Kudus yang sama, yang oleh-Nya kitab itu dituliskan. Jika Kitab Suci dibaca tanpa bimbingan Roh Kudus, maka kata- kata yang tercantum di sana hanya merupakan kata- kata belaka, yang bahkan terdengar ‘janggal’.  Namun kalau dipelajari, direnungkan, dilihat kaitannya dengan ayat- ayat yang lain dalam Kitab Suci, maka kita dapat memahami maknanya, dan menemukan di dalamnya pesan yang hidup dari Allah sendiri. Maka penting bahwa sebelum membaca Kitab Suci kita harus berdoa terlebih dahulu. Tanpa doa dan asal membaca saja, dapat mengakibatkan kesalahpahaman, dan inilah yang harus kita hindari.
Semoga kita semua selalu terdorong untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci dan senantiasa dibimbing oleh Roh Kudus agar mampu memahami maknanya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org


Firman yang terdengar janggal dalam Alkitab | katolisitas.org
27 Mei 2010 ... jika pada site lain http://www.sarapanpagi.org/kontradiksi-perjanjian-lama-vt549 -40.html#p1750 bagaimana tanggapan/jawaban menurut ...
katolisitas.org

3 komentar:

Terimakasih banyak atas tulisan ini. Saya merasa terbantu untuk lebih mengenal Islam dan bagaimana menjawab tuduhan-tuduhan Muslim terhadap kekristenan. semoga makin banyak orang beriman tercerahkan.

Mf Bos...dlm tulisan anda mengatakan pengarang injil menulis berdasarkan Inpsirasi yg nota bene berasal dari Tuhan kan !!!


pantaslah jika terjadi banyak kerancuan didalamnya, buktinyata tercampurnya ayat tuhan dgn ayat gadungan nyata2 terjadi dalam injil krn isinya berdasarkan selera si pengarang.

Contoh ;

- Matus si pengarang menceritakan :

Stain berkata, ” yang yang berbaju merah ”

- paulus si pengarang menceritakan :

Stain berkata, ” yang yang berbaju kuning ”

loh kenapa bs berbeda Bos ???


knp demikian,,,,apa terjadi kesalahan tuhan dalam menginspirasikan ayat2nya kpd sipengarang injil ???


Trs klw yg dibawah ini gimna,,,apakah ayat ini juga dinamakan firman tuhan ??? ;

Lukas 1;1-4
(1) Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita,
(2) seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.
(3) Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu,
(4) supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.

Memangnya apa yang anda mengerti dgn inspirasi? Alkitab itu bukan kitab yang turun dari langit seperti alqoran anda (walau sebenarnya coman bohong belaka). Jadi jangan asal ngomong ajalah.....

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More