Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Ahmed Deedat: LIMA PULUH RIBU KESALAHAN

Para pendebat Muslim menduga bahwa Alkitab penuh dengan kesalahan-kesalahan dan kontradiksi-kontradiksi. Menurut Mr Deedat, ada kurang lebih lima puluh ribu kesalahan dalam Alkitab. Kita sepatutnya bertanya: siapakah yang berhak menyatakan bahwa Kitab Tuhan salah atau benar? Siapakah yang berhak memberi takaran/kriteria salah atau benar? Apakah Mr Deedat atau Tuhan sendiri? Kesalahan umum manusia adalah melihat Tuhan menurut prasangka manusia itu sendiri. Manusia berpikir dan meletakkaaan apa yang dia pikirkan kepada Tuhan. Yang benar adalah manusia mendengarkan Tuhan. Manusia harus bertanya: apa maksud Tuhan dengan segala sesuatu yang terkesan salah dan kontradiktif itu?. Membaca Alkitab tentu tidak sama dengan Anda membaca Ilmu Sejarah, tentu tidak sama juga ketika membaca Buku Matematika, tentu tidak sama juga ketika membaca Filsafat, Ekonomi dan lain sebagainya. Ketika Anda membaca Alkitab, maka Anda harus mengedepankan pertanyaan ini: apa kehendak Tuhan melalui buku yang sedang Anda baca? Mengapa kehendak Tuhan yang ditanyakan? Sebab buku yang Anda baca diinspiraasikan dan dikehendaki oleh Dia dan ditulis ke dalam bahasa manusia oleh mereka yang Dia pilih. Hanya Dia pulalah yang tahu apa maksud tulisanNya. Adalah sangat penting kita harus mengetahui maksud pengarangNya.  Itulah sebabnya kita tidak memiliki otoritas apa pun untuk mengatakan bahwa Alkitab memiliki kesalahan atau kontradiksi. Nah, kepada siapakah kita dapat berkonsultasi tentang maksud Yahwe tersebut? Kita dapat berkonsultasi kepada siapa yang Tuhan percayakan menulis maksudNya. Dalam hal ini kita dapat berkonsultasi kepada Matius, Markus, Lukas dan Yohanes serta pencatat-pencatat lainnya.

a. Diperanakan, Bukan Dibuat

Pikiran Muslim selalu dikacaukan dengan seksualitas manakala mereka berbicara tentang anak. Jika Yahwe mengatakan bahwa Yesus adalah anakNya, maka bagi Muslim itu berarti Yahwe mempunyai Istri kemudian mereka melalukan hubungan seksual. Istrinya mengandung lalu melahirkan Yesus. Pikiran seperti itu memang tidak tepat. Kita akan melihat sejumlah pernyataan Yahwe dalam Alkitab tentang Yesus. “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan” (Mat 3:17//Mrk1:11//Luk 3:22). Yahwe mengatakan bahwa “Anak yang Kukasihi” diperanakan. “Ia (Yahwe) berkata kepadaku: AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini” (Mzr 2:7). Orang-orang Kristen diberi tugas untuk menyampaikan berita itu sampai akhir zaman. Yesus diperanakkan oleh Yahwe Tuhan. “Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita telah digenapi Elohim kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti ada tertulis dalam Mazmur kedua: “AnakKu engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini. Elohim telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan Ia tidak akan diserahkan kembali kepada kebinasaan” (Kis 13:32-34). Penulis Ibrani tidak lupa mencatat hal yang penting itu. “Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakana: AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini dan “Aku akan menjadi BapaNya, dan Ia akan menjadi AnakKu?” Dan ketika Ia membawa pula AnakNya yangsulung ke dunia, Ia berkata: Semua malaikat Elohim harus menyembah Dia” (Ibr 1:5-6). Umat Kristen tidak membuat Yesus menjadi Anak Elohim tetapi elohim sendiri. “Demikian pula Kristus tidak memuliakan diriNya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman: “AnakKu engkau. Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini…Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang dideritaNya dan sesudah ia mencapai kesempurnaanNya, Ia menjadi pokok keselamatan yangabadi bagi semua orang yang taat kepadaNya” (Ibr 5:5-6.8-9). Jadi, bukan orang Kristen yang membuat Yesus menjadi diperanakkan oleh Elohim, tetapi Elohim sendiri. Apa yang dikatakan oleh Al-Qurannya Muhammad adalah salah alamat. “Dan mereka berkata, “Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai ) anak. ‘Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak” (Al-Quran – Maryam (19):88-92). Kami tidak mengenal Awlohnya Muhammad, jadi bagaimana kami dapat mengatakan Allah mempunyai anak? Kalau Elohim, Tuhan kami mengatakan bahwa Ia mempunyai Anak, lalu apa urusan Muhammad terhadap Elohim? Kami tentu tidak dapat membuat manusia menjadi Tuhan, tetapi Dia dapat membuat diriNya menjadi manusia. Kalau toh Dia mempunyai Anak, bukankah Dia Maha Kuasa? Perkataan yang membuat langit terpecah adalah kalau manusia membuat dirinya menjadi Elohim.
 
b. Kekacauan Umat Kristen

Umat Islam selalu menuduh bahwa orang Kristen menyembah tiga Tuhan. Tuduhan itu merupakan akibat buruk perkataan dan dari salah tafsir atas kata-kata Muhammad dalam Al-Quran. “..Dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa…” (Al-Quran An-Nisa’ (4):171). Orang Kristen tidak percaya kepada tiga Tuhan. Kredo orang Kristen adalah “Aku percaya akan SATU Elohim (Tuhan)…” Jadi, siapakah yang mengatakan Tuhan itu tiga? Tidak lain dan tidak bukan adalah Mauhammad melalui Al-Qurannya. Bacalah ayat di atas sekali lagi: “(Tuhan itu) Tiga”. Tunjukkan kepada kami orang Kristen, di manakah dokumen resmi, atau ayat Alkitab, yang mengatakan bahwa Tuhan itu tiga? Muslim tidak akan mampu membuktikannya sebab memang tidak ada ajaran seperti itu. Yang adalah tuduhan dari Al-Quran, Muhammad, Awloh dan Muslim terhadap orang Kristen. Sifatnya adalah tuduhan. Siapakah yang kacau: Kristen atau Islam? Bapa , Putera dan Roh Kudus adalah satu; Tuhan Yang Maha Kuasa (bukan Awloh). “Ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu”  (1Yoh 5:7). Al-Quran sejak awal ditulis oleh orang yang tidak mengerti Sesembahan Kristen, maka dalam segala segi argumentasinya sangat kacau balau. Al-Quran tidak layak disandingkan sebagai bacaan keagamaan mana pun.

c. Kenaikan

Peristiwa Yesus terangkat ke sorga hanya dicatat oleh Markus dan Lukas. Umumnya Muslim mempertanyakan mengapa kedua pengarang lainnya yaitu Matius dan Yohanes tidak menyinggungnya, padahal peristiwa itu sedemikian penting dalam Kekristenan. Ini bertentangan dengan peristiwa Yesus menunggang Keledai ketika Ia memasuki kota Yerusalem. Peristiwa tersebut dicatat oleh semua pengarang Injil. Muslim berpikir bahwa kalau tidak dicatat oleh keempat Injil, maka itu berarti peristiwanya tidak terlalu penting. Muslim memperkuat argumennya ketika menduga bahwa Markus 16:9-20 tidak asli dari Markus. Pemikiran orang Kristen tidak seperti itu. Bagi orang Kristen, suatu peristiwa yang dicatat dalam Alkitab dikatakan “penting”  atau “tidak penting” tidak terletak pada “dicatat” atau tidaknya oleh keempat penulis Injil”. Sesuatu itu penting karena memang penting, bahkan kalau pun hal itu hanya disinggung dalam satu ayat saja. Semua ayat yang tercatat dalam Alkitab sama pentingnya, sama kedudukannay sekalipun beberapa ayat tidak dilaporkan oleh smua penulis Injil. Tidaklah penting mempersoalkan apakah Markus 16:9-20 asli ditulis oleh Markus. Yang paling penting adalah apakah peristiwanya benar-benar seperti yang tertulis. Bahkan, tahun penulisannya pun tidak terlalu diprioritaskan. Pokok utamanya adalah apa pesan dari ayat tersebut. Semua penulis Alkitab, menuliskan ceritanya dengan suatu maksud agar iman para pembacanya semakin baik dan mendalam. Peristiwa dalam Markus 16:9-20 adalah benar-benar terjadi. Bagi orang Kristen itu lebih penting daripada mengetahui siapa penulisnya, dan pengertian seperti itu sudah lebih dari cukup. Peristiwa tersebut diukung juga oleh laporan Lukas (Luk 24:50-53 dan Kis 1:6-11).


d. Sirkus Keledai

 Menurut Mr Deedat, peristiwa yang dicatat oleh Matius 21:7; Markus 11:7; Lukas 19:35 dan Yohanes  12:14 adalah sebuah sirkus keledai. Anda seharusnya tahu bahwa Yesus naik Keledai dan Yesus naik ke sorga berbeda dengan Muhammad berkhayal naik ke langit ke tujuh. Peristiwa Muhammad berkhayal menurut Muslim lebih layak dikenang daripada Yesus yang hanya naik Keledai. Namun bedanya, apa yang dikhayalkan oleh Muhammad tidak menjadi kenyataan, sebab faktanya adalah Muhammad mati dan meninggalkan kubur busuk bagi orang Muslim masa kini. Kubur yang berisi bangkai itu terus dijaga dan dijadikan sumber inspirasi untuk pengkhayal langit ketujuh generasi selanjutnya. 

Yesus naik Keledai memasuki kota Yerusalem. Kemudian dengan kuasaNya yang ajaib naik ke sorga. Ceritera tentang Yesus naik ke sorga inilah yang kemudian dimengerti oleh Muhammad sebagai peristiwa dimana Awlohnya hadir menyelamatkan Yesus agar tidak disalibkan. Awloh kemudian menipu orang Yahudi dengan membuat manusia yang diserupakan dengan Yesus. Benar kata kitab Awloh: “Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (Surat 3:54).

e. Tidak Untuk Waktu Lama

Tuduhan orang Islam tidak akan bertahan untuk waktu yang lama. Pedang pena kini akan terus berkelebat. Segala hujatan Muslim akan gugur dengan sendirinya. Islam tidak akan bertahan dalam ketidakwajarannya. Para pakar dan ilmuwan dunia sudah dan akan segera mengangkat pena untuk memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya tentang Islam. Kerancuan yang ditemukan dalam setiap ayat-ayat Awloh, misalnya,  akan terungkap secara tuntas. Klaim bahwa Al-Quran adalah turun langsung dari sorga tidak benar kecuali diturunkan dari tempat di mana dewa-dewa Arab bersidang. Klaim bahwa Allah sama dengan Yahwe Tuhan yang Perkasa sama sekali tidak berdasar. Segala bentuk hujatan Muslim dan Alquran terhadap Alkitab akan menjadi senjata makan tuan seiring perjalanan waktu. Apa yang dibuat dalam tempat yang tersembunyi akan terungkap. Cahaya kebenaran Isa Almasih akan menyertai manusia di setiap segi perjalanan hidupnya.

f. Allah di Dalam Injil Kristen

Alkitab tidak menyisahkan sepotong pun ayat yang merekam jejak Awloh. Muslim berusaha agar nama Awloh juga ditulis dalam Alkitab. Ini sesuatu yang mustahil. Kita tahu bahwa Awloh adalah bahasa Arab, yang menurut Muslim baru muncul saat/setelah Muhammad menerima wahyunya. Tidaklah mungkin para penulis Alkitab, yang umumnya menulis dalam tiga bahasa (Aram, Ibrani dan Yunani) mengenal kata “Awloh/Allah” yang baru muncul abad 5/6. Kita tahu bahwa seluruh Alkitab telah ditulis hingga tahun 120 M. Hal lain yang dapat kita katakan adalah imunitasnya Al-Quran dari hal-hal yang berbau duniawi. Kalau benar bahwa kata “Awloh” telah terutulis dalam Alkitab, itu berarti Al-Quran memplagiat kata itu dari Alkitab. Dengan lain kata, Al-Quran sama sekali tidak murni diturunkan dari Malaikat atau makhluk aneh lainnya kecuali jiblakan dari Kitab agama yahudi dan Kristen. Muslim tentu serba salah untuk membela nabi dan Korannya.

5 komentar:

Muslim tidak akan mampu menulis sebagus dan seargmentatif seperti ini. Mereka mampunya cuma ngeyel minta ini dan itu

yang ngeyel kn kristener

wkwkwkwkwkw!!!!!


Adakah manusia yang tanpa prasangka?
Siapakah manusia yang tanpa prasangka?

Artinya ngaku Islam penuih prasangka. Good....

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More