Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Alquran dan Pembuktian Persamaan

[15.9] Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Salah satu penyebab yang membuat Alquran diyakini sebagai wahyu Allah adalah tidak adanya SAMBUTAN dari manusia atas Pembuktian Persamaan (KONTES MEMBUAT MEMBUAT SURAT SEMISAL ALQURAN) yang ditantang oleh Allah di atas. Pada kenyataannya tantangan Allah itu sudah dijawab oleh pelbagai pakar, tetapi tidak ada kelanjutannya. Orang Islam tidak bersedia menjadi penyelenggara, mungkin karena sulitnya mencari juri dan ketidakrelaan Islam kalau-kalau Alquran malah gagal keluar sebagai pemenang. Allah menantang manusia, sebagaimana dikemukakanNya berikut ini:

1. [17.88] Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". 

2. [2.23] Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

3. [2.24] Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. 

4. [11.13] Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Qur'an itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". 

Jalan Pikiran yang dikemukakan oleh Alquran:

Muhammad : “Saya bersaksi bahwa Allahlah yang menurunkan “Alquran”.
Ahmad : “Saya ragu atas kesaksianmu”
Muhammad : “Buktikanlah kalau-kalau kamu dapat membuat Surat yang serupa Alquran, jika tidak maka Alquran diturunkan oleh Allah.
Ahmad : “Saya tidak dapat membuat Surat yang serupa Alquran”

Kesimpulannya : “Alquran diturunkan oleh Allah”

Catatan atas argumentasi seperti itu:

1. Jika Ahmad dapat membuat Surat semisal (identik) Alquran” maka Ahmad dapat diajukan ke pengadilan sebagai seorang plagiator.
2. Kalau pun Ahmad dapat membuat surat semisal Alquran, hal itu sama sekali tidak dapat mempengaruhi apakah Alquran diturunkan dari Allah atau tidak
3. Jika Ahmad tidak dapat membuat Surat semisal Alquran, hal itu pun sama sekali tidak dapat mempengaruhi apakah Alquran diturunkan dari Allah atau tidak.
4. Jika Alquran benar datang dari Allah, maka Alquran tetaplah dari Allah sekalipun manusia tidak dapat membuat surat semisal Alquran. 
5. Jika memang Alquran pada dasarnya tidak berasal dari Allah, maka Alquran tetap tidak dari Allah, sekalipun manusia dapat membuat surat semisal Alquran.
6. Beban pembuktian seharusnya dikenakan kepada Muhammad sebab dialah yang mengklaim bahwa Alquran datang dari Allah. 
7. Perlu diingat, sesuatu yang sifatnya adikodrati, harus dibuktikan secara adikodrati pula, sesuatu yang berasal dari Allah harus dibuktikan tangan Allah juga.
8. Atas alasan apa: sesuatu yang dari tangan Allah, harus dibuktikan oleh tangan manusia (KONTES TULIS MENULIS ALQURAN?) 

Kita lihat contoh berikut ini:

Andy : Saya telah melihat Allah
Jony : Apa buktinya?
Andy : Buktikanlah kalau-kalau kamu dapat melihat Allah, jika kamu tidak dapat melihat Allah, maka saya benar-benar telah melihat Allah.

Arguemntasi seperti itu sangat naif. Seharusnya, jika Anda mengklaim sesuatu, maka buktikanlah kebenaran atas klaim Anda tersebut. Apakah Muhammad menerima Alquran langsung dari Allah atau tidak, tergantung sejauh mana Muhammad dapat membuktikan kebenaran dari pernyataannya. Pembuktian tidak dibebankan kepada orang yang mendengar pernyataan itu. 

Mari kita lihat sekali lagi contoh berikut ini:

Andy : Ahmad hebat memiliki gundik 22 orang.
Jony : Saya ragu atas pernyataannmu
Andy : Buktikanlah, kalau-kalau kamu dapat memiliki gundik 22 orang. Jika kamu tidak dapat memiliki gundik 22 orang, maka benarlah Ahmad memiliki gundik 22 orang.. 
Nah, kamu ternyata tidak memiliki gundik 22 orang, 
Jadi Ahmad benar-benar memiliki gundik 22 orang.

Bandingkan argumentasi di atas dengan Argumentasi Muhammad untuk membela Alqurannya berikut ini: 

Muhammad : Alquran dari Allah
Kafir : Saya ragu atas pernyataanmu
Muhammad : Buktikanlah kalau-kalau kamu dapat menulis Surat Semisal Alquran dari Allah, jika kamu tidak dapat menulis Surat Semisal Alquran, maka Alquran dari Allah.
Nah, kafir tidak dapat membuat surat semisal Alquran,
Jadi, Alquran dari Allah.

Arguemntasi ala Alquran ini benar-benar dikembangkan oleh seorang yang tidak pernah belajar cara berpikir lurus (logis). Kalau Muhammad menyatakan bahwa Alquran itu berasal dari Allah, dia sendiri harus membuktikannya bahwa Alquran yang dia ajarkan memang benar-benar dari Allah, adikodratif sifatnya. Lawan-lawan Muhammad membutuhkan bukti adikodrati itu (kalau Alquran adikodratif sifatnya), bukan malah menyuruh mereka mengadakan kontes menulis surat semisal Alquran. Muhammad bertanggungjawab secara penuh atas pernyataannya, bukan?. Jika Anda mengklaim telah meraih gelar Dr Hukum dari Universitas Harvad, Amerika Serikat, maka Anda harus membuktikan sejumlah dokumen yang terkait dengan klaim Anda. Bukan malah menantang orang lain untuk memiliki gelar Doktor yang sama dengan Anda.



0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More