Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

AYAT-AYAT NISTA : ASBABUN NUZUL SURAH AT TAHRIM



Oleh: Pod-rock
Disusun dari banyak sumber,
terutama Ibn Sa’d, Tabaqat Vol 8: p.195.

Dari Surah At Tahrim;
dikisahkan kembali dengan gaya tulisan bertutur
yg seawam mungkin, dengan penyesuaian bahasa
yang dibuat sedemikian rupa agar para penggemar
novel roman picisan bisa ikut menikmati



Dirumah Hafsa

Malam itu tiba gilirannya Hafsah utk ditiduri oleh sang Nabi. Babunya Maria orang koptik (hadiah dari Raja Alexandria) sedang membereskan ranjang yang nanti akan kami pakai berindehoi. Maria adalah gadis remaja yang sangat semok dan berdada padat, wajahnya sangat cantik, kecantikan mesir yang luar biasa, intinya Maria itu Beddable (bahasa indonesianya sulit, kurang lebih ‘sepertinya enak ditiduri’). Maria mudah sekali membangkitkan birahi lelaki manapun yang menatapnya, apalagi jika bibirnya sudah setengah terbuka sambil matanya melirik manja.

Sialnya, Maria sedang semok-semoknya ketika sang Nabi masuk kamarku. Sang nabiku yang mengaku dikaruniai nafsu birahi 30 orang lelaki oleh Auwloh (Bukhari Vol.1, Buku 5, No.268), yang ‘katanya’ mampu menggilir 9 istrinya dalam satu sore saja. Mulut sang nabi langsung menganga, dagunya jatuh kedada hinggak ujung jenggotnya hampir menyentuh pinggakng, air liurnya hampir menetes menyentuh jenggot kalau saja dia tidak cepat-cepat menyeruputnya kembali. Kulihat jubah di bagian bawah pusarnya ada sesuatu yg menyembul tegak berdiri.
Sang Nabi mengelus-ngelus jenggot kambingnya yang mulai beruban, ini kebiasaan dia ketika sedang mencari akal. Lalu dia berkata : “Hafsa, pergilah kerumah ayahmu, Umar, katanya ia ingin bertemu denganmu.” Hafsa yang sudah bersiap dan sudah menghabiskan parfum cap “Onta Dua Anting” dipenjuru tubuhnya terkesiap, meski dia heran kok sang nabi bisa jadi pesuruh ayahnya? Tapi dia pergi juga ke rumah ayahnya.


Dirumah Umar

Umar ternyata tidak ada dirumah ketika Hafsa sampai dirumah ayahnya itu.

Hafsa: “Mom, daddy kemana?”
Mom: “Dia lagi ke padang Al Manasi dekat Baqia utk be’ol (buang air besar)”
Hafsa: “Ngapain kesana jauh-jauh, biasa juga dibelakang rumah”
Mom: “karena itu merupakan sunnah nabi, be’ol-lah ditempat sang nabi be’ol” (catatan: hadis yang memerintahkan ini sekarang telah hilang karena dulu dimakan onta, jadi anggakp saja ini hadis Dhaif).
Hafsa: “Saya tunggu deh”
Mom: “Kayaknya lama kalo daddy beol disana. Karena habis beol dia suka ngintip istri-istri sang nabi”.
Hafsa: ”Haah??!! Ngintip istri-istri nabi? Buat apa?”
Mom: “utk meyakinkan para istri itu pake jilbab sesuai dengan perintah surah AL AHZAB ayat 59 (33.59) waktu beol. Kamu tahu nggakk ayat ini diturunkan oleh Auwloh pada sang Nabi atas saran ayahmu sendiri, banyak saran-saran ayahmu yang sepenujuan dengan perintah Auwloh”

* Bukhari Volume 8, Buku 74, Nomor 257:
diriwayatkan Aisha: Umar bin Al-Khattab suka berkata pada sang Nabi “Perintahkan istri-istrimu memakai hijab” tapi sang nabi tidak melakukannya. Istri-istri sang Nabi suka buang air besar malam hari hanya di padang Al-Manasi. Suatu kali Sauda, anak dari Zam’a kesana dan Sauda ini perempuan yang tinggi. Umar bin Al-Khattab melihatnya ketika Sauda sedang BAB dalam sebuah kelompok, dan berkata, “Aku mengenalimu O Sauda!” (karena dia lebih tinggi dari yang lain). Dia (Umar) ingin sekali ada perintah Ilahi mengenai Hijab ini. Jadi Auwloh menurunkan ayat hijab 33.59 (Lihat Hadis vol.1 no.148).

* Bukhari Volume 1, Book 8, Number 395:
Diriwayatkan Umar (bin Al-Khattab): Auwloh setuju dengan ku dalam tiga hal dan penurunan ayat-ayat, salah satunya ayat tentang hijab bagi perempuan (33.59).


Hafsa: “Well, saya nggak bisa nunggu lama-lama. Sekarang giliran malamku dengan sang Nabi, mom tahu sendiri kalo dia ditinggaklkan terlalu lama dia suka memulai sendirian. Pasti dia sudah telanjang bulat diranjang sekarang.”

Sang Nabi Memang Telanjang Bulat Diranjang,

...Tapi Tidak Sendirian!!

Ketika Hafsa kembali kerumahnya dan lewat dibawah jendela diluar kamarnya dia mendengar dengusan nafas, mirip seperti lenguhan onta sedang birahi ditambah dengan seruan-seruan “subhanallah, alhamdulillah, auwlohuakbar!” Dia kaget karena hafal dengan lenguhan ini dan Hafsa bukan orang bodoh, tidak mungkin ada onta dikamarnya, lagipula tidak mungkin onta berseru alhamdulillah!, pastilah ini sang Nabi yg sudah memulai sendirian tanpa dia. Sambil senyum-senyum kecil dia masuk kekamar, dan terperanjat. Ternyata sang nabi sedang menggenjoti babunya Maria. Hafsa langsung naik pitam (temperamen Hafsa memang menurun dari daddy-nya, Umar) dan mulai berteriak-teriak histeris pada sang nabi.

Hafsa: “rasulullah!! Pembohong! Penipu! Kau tipu aku ke rumah daddy hanya karena ingin menggagahi babuku?!!!”

Nabi: “Hafsa, hati-hati kau bicara, sopanlah sikit! Ingat AL AHZAB ayat 32 ‘Hai istri-istri Nabi, ucapkanlah perkataan yang baik pada sang Nabi’”

Hafsa: “Aku akan bicara baik-baik jika nabi juga berhenti bertindak tidak baik!!”.

Nabi: “bersetubuh dengan budak perempuan bukanlah perbuatan tidak baik. Auwloh telah membuat mereka halal bagiku.”

Surah AL AHZAB ayat 50; “Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu hamba sahaya yang kamu miliki”

Hafsa: “Masa bodoh siapa yang dihalalkan bagimu dan siapa yang diharamkan. Nabi mau bersetubuh dengan onta betina juga aku tidak peduli, tapi jangan dilakukan diatas ranjangku dan dimalam giliranku.”

Nabi: “Tenang! Hafsa, Tenang! Saya beritahu sesuatu. Jika kau rahasiakan kejadian ini, cukup kita bertiga saja yang tahu, jangan beritahu lagi siapa-siapa, saya bersumpah demi Auwloh tidak akan menyentuh Maria lagi seumur hidupku. Tolonglah, dinginkan kepalamu dulu. Minum air kencing onta atau air dingin sana!”

Untuk menyenangkan hati Hafsa sang Nabi bersumpah demi dewa bulan Arab yg bernama Auwloh itu utk mengharamkan Maria bagi dirinya asal Hafsa tidak menceritakan apa yang disaksikannya itu pada orang lain.

Hafsa (sambil masih ngos-ngosan marah): “Oke!! Kebetulan aku ingin pipis juga..”

Sebenarnya sang nabi curiga kenapa Hafsa begitu cepat setuju dan langsung keluar rumah? Tapi dia pikir masalah nanti dipikirkan nanti saja, sekarang yang penting gimana caranya melanjutkan yang tadi terinterupsi. Kembali dia mengelus-ngelus jenggotnya, tanda mencari akal. Sekonyong-konyong dia menjentikkan jarinya diatas kepala sambil menyeringai lebar. Eureka!!! Mendapat akal rupanya!

Sementara itu Hafsa juga tidaklah kepingin pipis, tapi dia duduk dulu dibalik pintu rumahnya, berpikir keras, sebenarnya Hafsa berjanji akan melaksanakan permintaan nabinya yaitu tidak membicarakan hal ini pada orang lain, tapi rasa kecewa dan cemburu sudah begitu berkecamuk didalam hatinya sehinggak dia tidak sanggup menyimpannya. Setelah beberapa lama lalu ia menuju ke rumah Aisha, dia tahu aisha benci pada Maria babunya itu, karena Maria lebih cantik dari dirinya.

Memberitahu Aisha sama saja dengan memberitahu wartawan gossip infotainment jaman sekarang, tidak berapa lama seluruh istri nabi sudah mengetahuinya, kemudian istri-istri nabi ini sepakat untuk mendiamkan sang nabi. Mereka juga sepakat untuk memakai Maghafir jika sang Nabi mendekati mereka. (Maghafir adalah sesuatu yg manis rasanya tapi baunya tidak sedap, Nabi tidak suka segala sesuatu yang baunya tidak sedap. Itu sebabnya ia sangat suka pakai parfum). (Tentang Maghafir, lihat: Sahih Bukhari vol.6, buku 60. nomor 434; Vol.7 BUku 63, nomor 192)


Turunnya Ayat Suci AT-TAHRIM Ayat 1 & 2

Sesudah puas menumpahkan gundah gulananya pada Aisha, Hafsa kembali kerumahnya dan memergoki kembali sang Nabi sedang menggumuli Maria. Bangkitlah kembali emosinya:

Hafsa: “Rasulullah! Bah, ingatanmu pendek sekali rupanya. Baru saja kau bersumpah tidak akan menyentuhnya lagi, baru saja kau bersumpah demi Auwloh akan mengharamkan Maria bagimu. Tapi buktinya manaaa???”

Maria yang kaget dan ketakutan karena dipergoki untuk kedua kalinya langsung minggat kedapur sambil menggusur pakaiannya yang berserakan dilantai.

Nabi: “Ya itu benar, tapi setelah kau pergi Auwloh memarahiku, Auwloh bilang ‘Muhammad, kenapa kau larang dirimu sesuatu yang kuhalalkan bagimu hanya demi memuaskan hati istrimu belaka?”

Surah AT TAHRIIM ayat 1 (66.1): “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Auwloh menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Auwloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Hafsa terdiam, dia tidak bisa berbuat apa-apa jika nabinya mulai menyebut-nyebut Auwloh, hatinya sangat takut akan Auwloh, ia ingin sekali menyenangkan hati Auwlohnya, apapun hal yang harus ditanggungnya, begitupun para muslim lain, sama sepemikiran dengan Hafsa. Tapi lalu Hafsa teringat sesuatu.

Hafsa: “Tapi bukankah kau telah bersumpah demi Auwloh. Bagaimana dg sumpah yang kau ucapkan itu?”

Nabi: “Auwloh membatalkannya, katanya Auwloh mewajibkan kamu untuk membebaskan diri dari sumpahmu.”

Surah AT TAHRIIM ayat 2 (66.2): Sesungguhnya Auwloh telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Auwloh adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Lagi-lagi Hafsa terdiam karenanya. Jika melawan Auwloh, siapa yang bisa?? Hafsa hanya bisa terduduk lesu diranjangnya, ketika sang Nabi menghampirinya, masih bertelanjang bulat.

Sementara secara tidak sadar menghitung genjotan sang nabi: “satu, dua, tiga dst” Hafsa juga berusaha berpikir keras sambil memainkan jenggot beruban yang menjuntai diatas dadanya. Dia berpikir sebaiknya aku berkomplot bersama Aisha dan yang lainnya untuk membuat kapok si lelaki cabul ini. Dengan ide ini Hafsa menjadi bersemangat untuk cepat-cepat mengakhiri genjotan nabinya dan agar bisa cepat-cepat membuat sang Nabi tertidur sehinggak dia bisa keluar menemui Aisha untuk merencanakan tindakan selanjutnya.


Auwloh Menjadi Mata-Mata Bagi Sang Nabi

Esok paginya ketika sang Nabi kembali dari sholat Subuh, para istrinya memandang dia dengan sinis dan benci, mereka semua tidak menjawab salamnya sama sekali, padahal selalu mereka yang memberi salam terlebih dahulu dengan semangat.

Nabi kita juga tidak goblok-goblok banget, dia langsung tahu Hafsa mulutnya telah bocor, Hafsa telah melanggar janjinya utk tidak bicara, Hafsa telah menceritakan kejadian kemarin malam pada istri-istrinya yg lain. Istri-istrinya yang kebetulan membenci Maria karena kecantikannya dan karena rasa suka Muhammad terhadapnya. Sang Nabi ngambek dan langsung menghambur masuk rumah Hafsa.

Nabi: “Kau janji utk merahasiakan kejadian semalam, Aku percaya padamu, tapi ternyata kau menyebarkannya!”

Hafsa (sambil kaget dan ketakutan): “Tahu darimana O Sang Nabi?”

Nabi: “Auwloh memberitahuku”

Surah At Tahriim ayat 3 (66.3); Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Auwloh memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Auwloh kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Auwloh Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".

Hafsa gemetar karena ketakutan. Selain takut oleh Auwloh ia lebih takut lagi akan kemurkaan sang Nabi. Dia sadar sejauh mana murka sang Nabi berakibat pada manusia. Teringat olehnya para lelaki yang dipancung, para perempuan yang dirajam. Hafsa sama sekali tidak tahu bahwa Auwloh sang Nabi mau juga bertindak sebagai mata-matanya dan mengadukan rahasia para istrinya, pembicaraan intim dan gosip-gosip para istrinya.


Istri Yang Tidak Menurut Akan Dibakar Api Neraka

Sang nabi yang murka lalu mengumpulkan semua istri-istri pembangkangnya dan lalu ia berkhotbah menyampaikan pesan dari Auwlohnya yang baru saja dia terima, masih hangat, kalo roti sih baru keluar dari oven.

At Tahriim ayat 4 dan 5 [66.4]; Jika kamu berdua bertobat kepada Auwloh, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Auwloh adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.

[66.5] Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.


Pesan itu merupakan hukuman mati bagi para istrinya yang ketakutan. Perceraian berarti mati kelaparan karena tidak ada seorangpun lelaki dimuka bumi ini boleh menikahi bekas istri sang nabi. Karena perempuan tidak diperkenankan mencari nafkah sendiri maka diceraikan sang nabi sama saja menghukum mati mereka.

Sang nabi melanjutkan Khotbah sucinya:

[66.10] Auwloh membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Auwloh; dan dikatakan (kepada keduanya); "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)".

[66.11] Dan Auwloh membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim",


Istri para nabi sendiri yaitu Nuh dan Lut, masuk neraka karena tidak menurut. Sedangkan istri Firaun, sang calon neraka, malah masuk surga karena menurut pada Auwloh.


Bulan Madu Satu Bulan Penuh Dengan Maria

Semua istri-istrinya mulai meratap ketakutan. Mati kelaparan terasa lebih mengasyikan dibanding dibakar selamanya dalam api neraka. Mereka merangkul kaki sang nabi dan memohon ampunan sang baginda. Nabi yang maha murah hati lalu menjadi tergerak hatinya dan kasihan pada mereka. Ia lalu memutuskan untuk menerapkan klausul abstensi dari ayat 4.34 (Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.)
Bisa saja dia menceraikan mereka semua lalu mencari gantinya dengan jumlah yang lebih banyak lagi seperti disarankan Auwloh atau memukuli mereka asal tidak pada wajah mereka saja.

Tapi karena sang Nabi adalah tauladan bagi manusia semesta alam dan maha murah hati maka dia hanya menerapkan klausul pisah ranjang selama sebulan dengan istri-strinya. Dan sebagai gantinya dia secara khusus diharuskan selama sebulan itu tinggal bersama sang pembokap, Maria Orang Koptik, itu untuk mengajari istri-istrinya dan membuat mereka malu atas tingkah laku mereka yang kurang ajar pada sang playboy arab, muhammad.

Bukhari Vol.3, Buku 43, Nomor 648:
Sang nabi tidak mendatangi istri-istrinya karena rahasia yang Hafsa beberkan pada Aisha, dan dia berkata tidak akan menemui mereka selama satu bulan karena marah pada mereka ketika Auwloh membatalkan sumpahnya yang mengharamkan Maria baginya.


Auwloh juga memutuskan utk menambahkan penderitaan para istri tersebut dengan membuat Maria hamil dan melahirkan anak lelaki yang dinamakan Ibrahim, anak lelaki yang sangat didambakan oleh sang Nabi dan tidak bisa dilakukan oleh istri-istrinya.

Ada hadis dan kisah-kisah lain dibelakang hamilnya Maria ini, konon Ibrahim bukanlah anak dari Muhammad, tapi anak seorang budak mesir lain. Budak mesir yang menghamili Maria belakangan dibunuh oleh Umar. Tapi itu cerita lain lagi.

Catatan:
Beberapa sahabat belakangan mengarang riwayat hadis lain tentang turunnya surah ini untuk melindungi nama baik sang Nabi. Mereka mengarang kisah dan katanya ‘Madu’-lah (honey) bukan Maria yang menjadi Sumpah untuk diharamkan oleh sang Nabi, ada kisah lain yang mengatakan Sang nabi pisah ranjang selama 30 hari (sebenarnya 29 hari, karena pada hari ke 29 dia tidak tahan utk menemui aisha, aisha bilang ‘Kau bersumpah tidak akan menghampiri kami selama satu bulan, hari ini baru hari ke-29 karena aku juga menghitungnya’ dan kata nabi ‘satu bulan juga ada yang 29 hari’) karena Hafsa meminta uang padanya. Tentu saja semua kisah menggelikan ini tak masuk akal, kenapa madu dan uang ujung-ujungnya bisa jadi bulan madu dengan Maria selama sebulan??? Ini yang dikatakan Ibn Saad dalam Tabaqat:

“Waqidi menceritakan pada kita Abu Bakar bercerita bahwa Rasulauwloh bersetubuh dengan Maria dirumahnya Hafsa. Hafsa berkata pada sang nabi, O Rasul Auwloh, kau melakukannya dirumahku dan pada giliranku? Nabi berkata, jaga kata-katamu dan biarkan aku pergi karena kau telah mengharamkannya bagiku. Sumpah itu demikian, Demi Auwloh aku tidak akan menyentuhnya lagi. “
[Tabaqat volume 8, hal.223. Diterbitkan oleh Entesharat-e Farhang va Andisheh Teheran 1382 solar h (2003) diterjemahkan oleh Dr. Mohammad Mahdavi Damghani]

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More