Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Ayat-ayat Pedang Alquan dan BOM Bali


Bali kembali bersimbah darah. Tiga tahun lalu, 12 Oktober, Bali dikagetkan dua ledakan bom dahsyat, darah mengalir, lebih dua ratus jiwa melayang. Cukup lama Pulau Dewata murung, mencoba bangkit kembali, tertatih. Tapi begitu luka mulai mengering, begitu duka perlahan mulai sirna, tahun ini (2005), 1 Oktober (bulan yang sama), Bali terguncang lagi. Dua ledakan bom lagi. Darah lagi. Nyawa lagi. Puluhan.

Polisi, setelah memburu informasi sana-sini, setelah melancarkan penyelidikan terhadap bermacam jejak, kemudian mengumumkan wajah-wajah tersangka yang dikaitkan dengan jaringan aktivis Islam: Jamaah Islamiyah. Ada dugaan, motifnya tak jauh beda dengan Bom Bali I, tiga tahun lalu, yang pelaku-pelakunya semua muslim, terorganisasi rapi dalam jejaring gerakan atas nama perjuangan Islam.

Reaksi yang timbul bisa diduga tentu saja: berbagai kalangan Islam menampik jika dikatakan pelaku tindakan kejam itu dari kalangan Islam. Mustahil, tidak mungkin pelakunya dari Islam, kata mereka, sebab Islam agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan, sedangkan perilaku pembantaian itu sama sekali tidak mencerminkan perikemanusiaan sedikit pun. Mereka lalu memiliki kecurigaan lain: pelakunya mungkin malah tidak beragama: ateis.

Hidayat Nurwahid, mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kini ketua MPR, termasuk yang tidak percaya jika pelaku bom Bali II itu dari Islam. "Kami menolak jika pelaku ledakan bom itu lagi-lagi dituduhkan kepada umat Islam." Ujarnya seperti dikutip berbagai media nasional, sehari setelah peristiwa tragis itu, di Masjid At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. "Itu tidak benar. Islam tidak mengajarkan kekerasan, apalagi yang menimbulkan banyak korban meninggal." Nurwahid mengatakan pula, bukan tidak mungkin ledakan bom di Bali dilakukan orang-orang ateis, tidak beragama yang ingin mencerai-beraikan umat beragama di Indonesia.

Pernyataan Nurwahid ini, meskipun mungkin tidak tepat, sangat bisa dipahami. Di lubuk hati terdalam, Nurwahid barangkali ingin Islam tetap menjadi agama yang ramah dan damai, tidak sebaliknya: agama yang garang dan menyeramkan. Jika dia mengafirmasi keterangan bahwa pelaku bom tersebut dari Islam, dia khawatir bakal menguatkan citra Islam yang garang – sesuatu yang tidak dia kehendaki. Dan lebih celaka lagi, kalau umat Islam mempercayai pula bahwa Islam yang garang itu Islam yang sah, maka semakin buruklah akibatnya: umat Islam yang lain bisa ikut-ikutan meledakkan bom. Nurwahid paham betul akibat-akibat semacam itu.

Namun demikian, pernyataan Nurwahid, dan yang serupa, barangkali hanya efektif untuk sementara saja, untuk menenangkan umat dalam jangka pendek, tapi belum menjawab kegelisahan dan pertanyaan mendasar, yang sebenarnya tersimpan di hati umat Islam sendiri: Benarkah ajaran Islam kita sama sekali tidak membuka peluang sedikit pun pada justifikasi kekerasan? Benarkah semuanya hanya berisi ajaran-ajaran keramahan dan perdamaian? Tapi mengapa begitu banyak pelaku bom yang mengaku muslim dan bertindak atas nama Islam?

Kegelisahan-kegelisahan ini sebenarnya sudah cukup lama terpendam di lubuk sanubari umat Islam sendiri. Dari suratkabar, majalah, televisi, umat mendengar, memperhatikan, menyaksikan betapa para pelaku peledakan-peledakan sebelumnya dengan gigih meneriakkan lafaz-lafaz Islam. Umat tahu, para pelaku ini memiliki pengetahuan Islam yang cukup mendalam, bukan sekadar "muslim KTP".

Umat Islam masih mengingat Abdul Aziz, atau lebih dikenal sebagai Imam Samudra, yang di depan sidang pengadilan terang-terangan menunjukkan dalil-dalil Al-Quran maupun hadis, yang mendukung tindakannya dan kawan-kawannya meremukkan kawasan wisata Kuta, tiga tahun lalu. Begitu pula, ketika sudah divonis hukuman mati pun, Imam Samudra masih teguh dengan dalil-dalilnya. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Tempo, 19 Oktober 2003, dia menyatakan bahwa jihad adalah satu-satunya jalan. Samudra mengutip ayat: "Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah."

Yang dikutip Samudra benar memang ayat Al-Quran, yakni surat al-Anfal (8): 39 yang bunyi aslinya: wa qaatiluuhum haattaa laa takuuna fitnah. Fitnah, lanjut Samudra sembari mengutip seorang ulama klasik terkenal bernama Ibnu Katsir, pertama berarti kemusyrikan, dan kedua, tidak menegakkan hukum Allah. Untuk mengeliminasi fitnah yang berupa dua hal itu, bagi Samudra, bukanlah dengan cara pemilihan umum, juga bukan demokrasi. "Itu konsep Barat dan yang sekarang menjadi dien atau agama baru." ujarnya. Satu-satunya jalan adalah jihad.

Jihad yang dimaksud Samudra tak lain adalah pedang, kekerasan. Menurut dia, umat Islam sekarang banyak yang pengecut karena menyembunyikan hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebutkan sabda nabi (muhammad): Aku diutus oleh Allah menjelang hari kiamat dengan membawa pedang. "Itu hadis sahih," tandas lelaki 33 tahun ini. Samudra tidak ragu-ragu. Jihad fi sabilillah dengan pedang bagi dia, sudah merupakan kewajiban syariat.

Umat Islam se-Nusantara, bahkan mungkin sedunia, menyaksikan bahwa Samudra bukan sekadar muslim biasa, bukan "muslim KTP", dia tahu betul soal ayat dan hadis. Jadi benarkah ajaran Islam sama sekali tak membuka celah bagi kekerasan?

Azyumardi Azra, rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, dalam kolomnya di sebuah harian nasional, lima hari setelah peristiwa Bom Bali II, secara bijak mengajak kaum Muslimin untuk bersama-sama melakukan muhasabah, intropeksi. Sebab, "Dalam kaitan dengan peristiwa-peristiwa teror," tulis Azra, "yang terjadi sejak 11 September 2001, pengeboman di Bali 12 Oktober 2002, peledakan bom di Hotel JW Mariott Jakarta 2003, pengeboman di Madrid 2004, peledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia, Jakarta 2004, dan peledakan di beberapa stasiun bawah tanah London 2005 terbukti melibatkan pelaku beragama Islam."

Orang boleh menyebut mereka bukan muslim, tambah Azra, atau bahkan ateis sekalipun, tetapi faktanya tetap saja: mereka adalah orang-orang muslim, yang bahkan dengan bangga menyatakan, mereka bertindak seperti itu untuk membela Islam dan kaum muslimin.

Azra pun mengajak kaum muslimin melihat kenyataan bahwa meski dinyatakan atas nama Islam dan demi membela Islam, tindakan-tindakan pengeboman semacam itu tidaklah menolong kaum muslim, sebaliknya justru menyulitkan.

Azra mencontohkan, di Bali, pasca peledakan Kuta 2002, kaum muslim di pulau Dewata kian sulit dan tersudutkan. Sebuah penelitian tentang keadaan kaum muslimin pasca bom Kuta mengonfirmasi terjadinya peningkatan kecurigaan dan sekaligus sikap menyalahkan orang-orang Muslim secara keseluruhan.

Dalam kolom yang memang pendek tersebut, Azra tak sempat mengajak kaum muslimin untuk merenungkan teks-teks agama yang kerap diusung para pelaku pengeboman – teks-teks yang kerap disebut ayat-ayat pedang. Ayat-ayat tersebut sering mereka kutip, dan memang benar-benar ada dalam Al-Quran, bukan bikin-bikinan sendiri.

"Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah." (wa qaatiluuhum haattaa laa takuuna fitnah). Ini ayat yang dikutip Imam Samudra, yang nyata dalam surat al-Anfal (8): 39.

Ayat-ayat pedang lainnya mendapat bahasan yang panjang lebar oleh Sayyid Quthb, seorang penulis asal Mesir (1906-1966). Dalam karyanya Fi Zhilalil Quran, juga dalam al-Manhaj al-Ilahi fi Jihad al-Muthlaq, Quthb tak hanya menunjukkan ayat-ayat pedang, melainkan juga mengatakan, jihad dalam arti peperangan merupakan kewajiban yang permanen, bukan insidental atau sementara waktu saja.

"Maka hendaknya berperanglah di jalan Allah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Barangsiapa berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala besar."

"Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah, dan (membela) orang-orang yang lemah laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, yang semuanya berkata: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zalim pendudukan dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau."

"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah."

Kutipan ini bersumber dari surat an-Nisa' (4) ayat 74, 75, dan 76. Ayat 74 dengan tegas menerangkan perintah untuk terjun ke medan perang, dan disediakannya pahala agung nanti di akhirat. Ayat 75 merupakan desakan agar kaum muslim segera turun gelanggang, demi membela orang-orang lemah di Makkah. Sedangkan ayat 76 menegaskan, perang seorang kafir adalah membela syaitan, tapi sebaliknya perang seorang mukmin adalah menghancurkan syaitan-syaitan itu.

Ayat-ayat di atas tidak sekadar memakai kata 'berjihadlah', melainkan 'berperanglah' (qaatiluu). Mengapa perang merupakan kewajiban permanen? Quthb menyangkalk jika kewajiban berperang bersifat sementara dan defensif (sekadar untuk mempertahankan diri). Sebab Islam, kata Quthb, bertugas untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap manusia lainnya. Sebagai gantinya, Islam harus menegakkan prinsip bahwa penghambaan hanya kepada Allah.

Artinya, di mata Quthb, adalah wajib hukumnya menghancurkan sistem pemerintahan atau kekuasaan buatan manusia. Maka itu wajarlah jika Imam Samudra menyebut demokrasi dan pemilihan umum, sebagai sistem buatan manusia, merupakan sistem kafir, sehingga manusia harus dibebaskan dari sistem ini, atau dengan bahasa lebih gamblang: sistem tersebut harus dimusnahkan.

Buat Quthb, hukum yang berhak berjaya hanyalah hukum Allah. Inil hukmu illa lillah, tiada hukum selain kepunyaan Allah – sebuah ayat yang dikutip Quthb dari surat Yusuf (12): 40. Nah, dengan demikian sepanjang Islam memproklamirkan 'yang tegak hanyalah hukum Allah', maka Islam harus memerangi segala hukum lain di luar hukum Allah. Islam tidak menunggu diserang (defensif), tetapi wajib menyerang (ofensif).

Quthb lalu menujuk sebuah ayat – yang sebagian juga dikutip Imam Samudra: "Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya dien (agama, aturan) itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

"Dan jika mereka berpaling, maka ketauilah, bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong."

Ayat yang pertama, yakni al-Anfal (8): 39, dengan tegas memerintahkan perang demi tegaknya aturan atau agama Allah. Sedangkan ayat kedua, yakni al-Anfal (8): 40, memberikan stimulasi bahwa seorang muslim tidak perlu takut menyerang jika 'mereka berpaling' (orang-orang kafir tidak mau tunduk pada Islam), sebab Allah akan menjadi pelindung dan penolongnya.

Jadi, tak perlu heran jika orang-orang semacam Imam Samudra tak pernah merasa gentar sedikitpun, bahkan terhadap ancaman hukuman mati. Dengan memegang ayat ini, mereka percaya betul, Allah senantiasa menolong dan melindungi mereka.

Quthb, dalam memperteguh pendiriannya soal kewajiban berperang yang bersifat permanen, juga menghadirkan, selain ayat-ayat di atas, sejumlah ayat lain. Ayat-ayat ini memakai secara tegas kata 'perangilah' (qaatiluu) dalam bentuk kalimat perintah.

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu …"

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan alkitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk."

"Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya …"

Ayat yang pertama merupakan penggalan dalam surat al-Baqarah (2): 190. Quthb sepakat, ayat ini memang mengandung perintah perang hanya terhadap mereka yang menyerang saja. Akan tetapi, bagi Quthb, dua ayat berikutnya menunjukkan perintah untuk memerangi kaum musyrikin, tanpa kecuali. Yakni surat al-Taubah (9): 29 yang menegaskan perang terhadap orang-orang tak beriman dan surat al-Taubah (9): 36 yang menandaskan instruksi tempur terhadap kaum musyrikin semuanya.

Quthb tidak sepakat dengan orang yang menyatakan perang hanya merupakan kewajiban sementara waktu dan diperintahkan kalau hanya diserang, berdasarkan surat al-Hajj (22): 39, "Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya." Bagi Quthb, sikap damai (tidak berperang) hanyalah sebuah fase sementara. Ayat izin perang ini justru menunjukkan bahwa fase damai telah usai.

Dengan mantap, Quthb mengutip kalimat Ibn Qayyim al-Jauziyyah (1292-1350 M), seorang ulama klasik terkenal, dalam Zaadul Ma'ad. Kata Ibn Qayyim: "Pada mulanya perang itu dilarang, kemudian diizinkan, kemudian diperintahkan (perang) kepada orang-orang yang lebih dahulu memerangi, dan akhirnya diperintahkan memerangi kepada semua kaum musyrik." Sebuah kalimat yang tidak melenceng seincipun dari pendirian Quthb.

Ayat-ayat pedang benar-benar ada. Bukan manipulasi oknum tertentu yang mengatasnamakan Islam. Begitu pula, pemahaman keislaman orang-orang semacam Imam Samudra tak bisa dibilang dangkal. Mereka menemukan akar-akar keyakinannya dalam ayat-ayat Al-Quran, juga pernyataan ulama-ulama pendahulu.

Membingungkan, boleh jadi. Kaum muslim sendiri, yang merindukan agamanya menjadi sumber kedamaian, barangkali sulit mempercayai: jika begitu banyak ayat Al-Quran yang menganjurkan kekerasan, lalu apa artinya Islam sebagai rahmatan lil alamin, pembawa kesejahteraan bagi seluruh alam, seluruh umat manusia, tanpa pandang bangsa, ras, jenis kelamin, bahkan agama?http://indonesia.faithfreedom.org/forum/ayat-ayat-pedang-dalam-quran-t4366/

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More