Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Kitab Telegram Yang Penuh Mukjizat

Ahmed Deedat [lih bukunya Dilog Islam Kristen] dan  Muslim yakin bahwa Al-Quran adalah kitab telegram yang penuh mujizat. Klaim sejenis ini tentu sah-sah saja.  Namun, sebagai seorang yang berdampingan dengan penganut agama lain, Muslim diharapkan tidak melecehkan kitab agama lain; misalnya agama Hindu, Buhda atau Kong Fu Cu atau Kristen. Sebagai orang Kristen kami berkepentingan untuk menyampaikan pendapat kami atas klaim Muslim karena memang dikait-kaitkan dengan agama dan Alkitab kami. Sebagaimana Muslim jujur mengungkapkan isi hatinya, maka kami berharap bahwa mereka juga jujur mendengarkan alasan-alsan kami.

1. Alkohol dan Judi
Jika Al-Quran melarang penggunaan alkohol, lalu apa kaitannya dengan Alkitab 1Tim 5:23 dan Amsal 31:6-7? Mr Deedat tentu berharap kalau Alkitab dapat dilecehkan maka gengsi Al-Quran menanjak. Mr Deedat berusaha menaikan pamor dirinya dengan memburuk-burukan orang lain?  Ini tidak tepat. Pekerjaan yang sia-sia. Al-Quran melarang pemujanya untuk minum alkohol, tetapi sorganya Allah menyediakan minuman keras. “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah’ Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Kataknlah, ‘ Yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS Al-Baqarah:219). Di jelas sekali meminum alkohol adalah dosa. Kita masih perlu satu surat lagi: “Hai orang-orang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi (berkorban untuk) berhala, mengundi nasip dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) (Surat 5:90-91). Jadi, meminum alkohon itu perbuatan setan. Apa yang dikatakan oleh Al-Quran ini perlu dicatat. Ini penting mengingat Allah sendiri justeru menyediakan khamar di sorga. “Sesungguhya orang-orang yang berbakti itu benar-benar  berada dalam keni’matan  yang besar (surga) mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh keni’matan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adlah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba dan campuran khamarmurni itu adalah dari tasnim, yaitu mata air yang minum daripadanya orang-orang didekatkan kepada Allah” (Surat 83:22-28). Jika Anda masih mau melihat  ayat-ayat lainnya silahkan baca Surat 47:15 dan Surat 76:5,21. Demikianlah Al-Quran yang penuh mujizat itu, kemudian silahkan Anda komentari sendiri ayat-ayat alkohol itu. Izinkanlah kami berceritera tentang bangsa kami.  Pada bulan Oktober 2006 terdapat 8.406 kasus narkoba. Kasus pelajar yang “nge-drug” mencapai 15.101. SLTP 4.012 kasus dan SLTA 11.089 kasus. Pegawai swasta yang “nge –drug” mencapai 8.833 kasus, buruh 3.046 kasus, penganggur 3.885 kasus.  Hitung-hitung totalnya 39.271 kasus. (Kompas Jumat, 15 Desember 2006). Negara kami adalah Negara mayoritas Muslim terbesar di dunia. Ini fantastis. Betapa tidak silahkan Anda hitung berapa jumlah kasus “nge-drug” di Negara Muslim terbesar itu. Ini tidak mengherankan sebab kalau di sorga saja disediakan khamar, mengapa tidak dicoba dari sekarang? Paulus menganjurkan agar Timotius meminum sedikit anggur karena anggur dapat membantu pencernaan. Paulus tidak bermaksud agar Timotius bermabuk ria. Amsal 31:6-7 justeru memperlihatkan kepada kita suatu penghinaan terhadap peminum arak. Para pemabuk anggur adalah orang-orang yang binasa dan akan dibinasakan. Bukan suatu perintah atau anjuran  untuk bermabuk ria; atau peng-halalan pemabuk alkohol. Bagi orang Kristen, anggur tidaklah jahat dalam dirinya sendiri. Siapa yang jahat adalah peminum. Karena itu tidak tepat kalau ada larangan menanam anggur. Apa yang dilarang adalah perilaku manusia.    

2. Bulan Sabit
Al-Quran menerangkan bahwa bulan sabit adalah “tanda waktu” dan “ibadah haji”. Mr Deedat berkata: “Terdapat banyak tahayul sehubungan dengan bulan sabit, seperti yang terdapat pada saat ini”. Pernyataan Mr Deedat ini memberi petunjuk kepada kita mengapa menara-menara Mesjid harus dilengkapi dengan bulan sabit. “Tanda waktu” dan “tanda naik haji” kiranya tidak termasuk dalam pokok iman maupun rukun Islam. “Tanda waktu naik haji” tidak sama dengan “kegiatan naik haji” yang merupakan salah satu rukun Islam. Karena itulah maka tak terhindarkan lagi bahwa pemasangan “bulan sabit” adalah bentuk tahyul yang nyata. Dalam Al-Quran Surat Al-Baqara: 189 sebagaimana dirujuk oleh Muslim tidak terdapat perintah untuk memasang bulan sabit di atas menara-menara mesjid. Pesan telegram yang keliru diterjemahakan?

3. Amal
Amat mudah untuk mengatakan bahwa setiap orang wajib membayar zakat. Wajib hukumnya untuk menolong orang-orang miskin. Namun orang-orang miskin di daerah mayoritas Muslim adalah penderitaan yang tiada akhir. Bangsa kami sangat kaya dengan dengan pelbagai flora dan faunanya; kaya akan hasil laut, kaya akan hasil bumi dan sebagainya. Namun jika Anda pembaca mengetahui Indonesia, maka Anda akan menyaksikan bahwa daerah dimana menjadi pusat-pusat agama Kristen adalah daerah yang terlantar, berikut masyarakatnya yang sangat miskin. Kami sebutkan, kemiskinan yang paling akut dan pembangunan yang paling terbelakang di Indonesia adalah Indonesia Bagian Timur; terutama Papua, Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Kekayaan alam daerah-daerah tersebut tidak kalah melimpahnya dengan daerah-daerah lainnya. Demikian juga daerah-daerah pusat kekristenan lainnya masih miskindan terbelakang; sebut saja Nias, Mentawai dan lain sebagainya. diskriminasi pembangunan sangat kentara. Mengapa demikian? Itu adlah buah dari sebuah pesan yang tidak mirip “telegram”, singkat, padat tetapi tidak selalu jelas. Al-Quran mencatat: “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapak, kau kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya” (QS Al-Baqarah:189). Siapakah orang miskin itu yaitu mereka yang masih termasuk kaum keluarga, kaum kerabatt; maksudnya sesama Muslim. “Ya Rasulullah! Siapakah muslim yang terbaik? “ Beliau menjawab, “Muslim yang lidah dan tangannya tidak menyakiti muslim yang lain” (Hadis Al-Bukhari no 11). Maksudnya: muslim yang terbaik adalah muslim yang kata-kata dan perbuatannya (amalnya) tidak menyakiti Muslim yang lain. Rumusan afirmasi dari kata-kata Rasulullah ini adalah Muslim yang terbaik adalah Muslim yang kata dan perbuatannya menyehatkan Muslim yang lain.  Sesuatu yang membuat Anda sehat adalah bantuan Material (uang, rumah, pakaian, makanan dan sebagainya)

4. Roh
Al-Quran tidak memberi keterangan tentang Roh sebab roh di luar jangkauan pemikiran manusia. Sekurang-kurangnya keengganan Al-Quran untuk memberitahu apa sebenarnya Roh itu memperlihatkan kedangkalan pengetahuan Muhammad. Muhammad selalu mengindar jika ditanyakan tentang hal-hal yang adikodrati. Selain Muhammad menolak mengadakan mujizat, kini dia menolak pula menjelaskan tentang Roh. Allah tidak memberitahu kita apa alasan mengapa Dia menolak memberi keterangan. Allah tidak memberitahu perihal roh, tetapi Dia amat peduli dengan Mariam ibunda Yesus. Ia bahkan menurunkan sebuah surat khusus untuk menghormati Mariam. Surat Mariam mengindikasikan bahwa Muhammad begitu dekat sekte Kristen yang sangat mengangkan Mariam. Tetapi sayangnya, Muhammad bergaul dengan Kristen yang tidak ortodoks sehingga banyak pernyataannya yang tidak sejalan dengan tradisi biblis. Ini sulit dimengerti oleh para pakar Alkitab maupun Al-Quran.

5. Hari Kiamat
Gagasan dan jawaban tentang hari kiamat ini amat tergantung pada jawaban Yesus. Kita tidak terlalu heran. Muhammad mengagumi Yesus, maka dia pasti mengenal siapa Yesus dan bagaimana Yesus menjawab persoalan itu. Al-Quran mencatat: “Mereka menanyakan kepadamu tentang hari kiamat, “Bilakah terjadinya?, Katakanlah, Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Rabbku; tidak seorang pun dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan tiba-tiba” (QS Al-A’raf:187). Ayat ini muncul ketika Muhammad berkonfrontasi dengan orang-orang Kristen. Jawaban Muhammad ternyata bukan sesuatu yang baru, artinya tidak berbeda dengan apa yang telah diucapkan oleh Yesus.Oleh karena itu, orang Kristen tentu lebih tidak berminat lagi untuk mendengarkan perkataan Muhammad. Mereka merasa bahwa Muhammad adalah seorang yang hanya mengekor perkataan Yesus. Sebahagian orang Kristen Arab bahkan merasa bahwa apa yang baru saja diucapkan oleh Muhammad itu adalah suatu upaya untuk meyamakan dirinya dengan Yesus. Muhammd berharap bahwa orang-rang Kristen akan memberinya komentar: “Oh…, Hebat! Dia sama seperti Yesus!”. Sayang harapan itu tidak terwujud. Mr Deedat kemudian membela Muhammad: “Akan berharga ketika membandingkan satu ayat di atas dengan seluruh pasal 13 Injil Markus, yang menggunakan seluruh 37 ayat di sana untuk mendapatkan kesimpulan satu di atas. Sebuah tes sederhana untuk membedakan kitab buatan manusia dari firman Tuhan. Anda akan menemukan Al-Quran bebas dari hiasan tambahan dan pembicaraan yang bertele-tele”. Kami memberi anda sebuah gambaran sederhana. “Apakah air itu?” “Seorang yang pemikirannya dangkal dan praktis akan menjawab bahwa air adalah zat cair”. Namun seorang yang yang benar-benar ahli tentang air, dia tidak akan menerangkan air secara dangkal dan sederhana itu. Anda tidak akan memahami apa-apa tentang air kalau hanya mendapat jawaban bahwa air adalah zat cair. Muncul pertanyaan lanjutan: zat cair itu apa?” Jadi, jawaban pendek dari sebuah pertanyaan tidak selalu baik. Seseorang yang ahli dalam bidangnya, dia akan menerangkan sesuatu secara tuntas. Itulah gambaran yang tertera dalam Markus pasal 13.  Jawaban Allah dalam Al-Quran di atas sepertinya mengalir dari pribadi seorang yang tidak mau mendidik pendengarnya. Jawabannya “ketus” dan “kering”; tidak memberi kelegaan kepada mereka yang bertanya dan mendengar.  

6. Batu Ujian Teologi
Muslim beranggapan bahwa batu ujian teologi adalah “Katakanlah: (wahai Muhammad) “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” (QS Al-Ikhlas:1-4). Menarik bahwa Mr Deedat memberi komentar: “Dengan kekuasaan Allah, secara umum diterima bahwa seorang Muslim yang membawakan empat ayat  di atas dalam teks aslinya, akan memperoleh berkah spiritual tiga kali lebih banyak dari membaca seluruh Al-Quran”. Sayang, Mr Deedat tidak merinci berkah spiritual apakah yang didapat oleh seorang Muslim. Seandainya berkah spiritual berupa kebijaksaan hidup, atau kesalehan hidup pribadi, maka otomatis semua orang Islam seluruhnya telah menjadi bijak dan saleh.. Jika tidak ternyata ada Muslim yang tidak bijak dan tidak saleh,  itu berarti: Muslim tersebut belum membaca sabda Allah itu; ATAU surat 112, yang merupakan sabda Allah itu sama sekali tidak berpengaruh. Jika benar bahwa surat 112 tersebut merupakan inti iman Islam dan surat-surat lain hanya berupa penjelasan, maka pasti semua Muslim telah membacanya. Jika Muslim telah membacanya, maka tentu setiap Muslim telah mendapat berkah spiritual tiga kali lipat. Jika berkah itu telah di dapat, maka semua Muslim adalah bijak dan saleh. TETAPI JIKA ternyata ada seorang atau beberapa orang Muslim yang hidupnya sangat buruk atau jahat, apakah itu karena Muslim tersebut belum membaca surat 112? ATAU surat 112 tersebut tidak sanggup mengubah setiap Muslim menjadi seorang yang bijak dan saleh. Kepada Anda yang adalah seorang Muslim Syiah: apakah Saddam Husein adalah seorang Muslim yang baik dan saleh? Kepada Anda yang adalah seorang Muslim Sunni: apakah Saddam Hussein adalah seorang Muslim yang baik dan saleh? Jika Saddam jahat, itu berarti Surat 112 tidak ada gunanya. Sebaliknya, jika Saddam Husein baik dan saleh mengapa dia dihukum mati dengan cara digantung? Apakah mereka yang membunuh Saddam Hussein adalah Muslim yang baik atau Muslim yang tidak mendapat berkah spiritual? Pilihan lain: Saddam Hussein adalah seorang yang kafir!  Jadi, klaim dari Muhammad bahwa surat 112 memberi berkah spiritual 3 kali lipat dari membaca Al-Quran adalah sebuah imajinasi belaka. Jika demikian, maka klaim bahwa surat 112 sebagai batu ujian sebuah teologi adalah tidak lebih dari sebuah tong kosong yang berbunyi nyaring.

a. Apakah berarti “Yang Maha Esa?”
“Maha” berarti sangat, amat atau teramat, sedangkan “esa” berarti satu, tunggal. Maha Esa berarti “sangat tunggal, amat satu , teramat satu; atau sangat tunggal,  amat tunggal, teramat tunggal. Jika Allah orang Islam dikatakan Maha Esa; maka itu berarti Allah adalah sangat tunggal, amat satu, teramat satu ATAU sangat tunggal, amat tunggal dan teramat tunggal. Atas gagasan tersebut, maka kita dapat mengajukan sejumlah pertanyaan. Pertanyaan pertama? Dapatkah Anda membayangkan “satu” atau “tunggal” di luar konteks ruang dan waktu?  Kami dapat menolong Anda dengan analogi berkut ini: Satu (1) tidak pernah berdiri sendiri. Sebelum satu masih ada nol dan sebelum nol masih ada minus 1. Setelah satu masih ada dua dan setelah dua masih ada tiga. Jika 1 (satu) berada di antara 0 dan 2; maka itu berarti 1 (satu) amat sangat terbatas bukan? Praktis kata “Maha” yang menyertai “Esa” tidak mempunyai bobot filosofis. Kata “Maha” hanya menyatakan kekerdilan gagasan itu, sekaligus hanya menegaskan keterbatasan dari “SATU”.  Kalau sudah “tunggal” apakah masih berarti “Maha Tunggal?” Ini sebuah kerancuan berpikir. Jika Allah adalah Maha Satu; maka itu berarti Allah berada di antara ruang dan waktu dank arena Allah “sangat terbatas”. Karena Allah terbatas maka Allah bukan “Sang Ada” yang oleh orang Israel disebut AKU ADALAH AKU ADA”; ATAU Yahweh. Apalah artinya satu sebagai satu? Sesungguhnya kata “SATU” hanya sebuah ungkapan simbolis dari manusia tentang SANG ADA karena keterbatasan bahasa. Artinya, Sang Ada  adalah Satu sebagai Satu sebenarnya tidaklah tepat seluruhnya. Jadi, ungkapan Dialah Allah Yang Maha Esa bukanlah batu ujian teologi yang serta-merta benardengan sendirinya.

b. Apakah berarti “Allah adalah Tuhan?”. Bagaimana Anda dapat mengerti bahwa “Allah adalah Tuhan?” Kata Tuhan tentu tidak dikenal dalam dunia Arab pra Islam, sebagaimana kata itu dimengerti oleh orang Yahudi dan Kristen. Untuk membenarkan apa yang diberitakannya, sekalgus menarik simpati orang Yahudi dan Kristen, mau tidak mau Muhammad menegaskan bahwa Allah yang aku (Muhamad) sembah adalah sama dengan Tuhan dari orang Yahudi dan Kristen. Kita sedikit merasakan bahwa Muhammad memaksakan ide itu ke dalam cara berpikir orang  Yahudi sekaligus seolah-olah Muhammad benar mewartakan Yahwe. Jadi, ini bukan sebuah karakter untuk batu ujian teologi.
c. Apakah berarti “Bergantung kepadaNya segala sesuatu?”. Ingat dan ini amatpenting agar orang Islam ketahui: Orang Yahudi dan Kristen pada zaman Muhammad sama sekali tidak bergantung kepada Allah. Jadi, klaim Muhammad bahwa kepadanya segala sesuatubergantung adalah tidak benar. “KepadaNya segala sesuatu bergantung” mengandaikan Allah yang diwartakan oleh Muhammad sama dengan Yahweh Israel.  Adalah mustahil segala sesuatu bergantung kepada Allah Yang Esa, Allah yang terbatas. Seorang Muslim harus mengubah gagasan Allah yang Esa terlebih dahulu baru dapat berkata: kepadaNya bergantung segala sesuatu.

d. Apakah berarti “Tidak ada Tuhan selain Allah?”. Kalimat ini agak aneh. Bukankah di atas telah dikatakan “Allah adalah Tuhan, mengapa kini berubah menjadi “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Kini Tuhan disangkal, lalu yang ada tinggal Allah. Bukan Allah adalah Tuhan? Kita makin yakin bagaimana rancunya cara orang Islam berpikir secara teologis. Namun pernyataan “Tiada Tuhan selai Allah” mengindikasikan bahwa Muhammad amatfrustrasi ketika berhadapan dengan orang Yahudi dan Kristen yang menolak ide Allah. Orang Yahudi mengertinya “ya Tuhan”. Sebagaimana nantinya Muhammad menyuruh pengikutnya membunuh orang Yahudi dan Kristen, maka terlebih dahulu dia harus menolak gagasan “Tuhan”. Dengan demikian, ggasan “Tidak ada Tuhan selain Allah” tidak dapat diterima sebagai batu ujian teologi.

e. Apakah berarti “Allah tiada beranak?” Anda mungkin merasa jijik kalau kami katakan bahwa Anda adalah putera Elohim. Kami bisa mengerti mengapa anda yang adalah orang Muslim tidak boleh mnyatakan diri sebagai anak Allah. Dalam diri Allah tidak memiliki kualitas yang memungkinkan Anda disebut anakNya. Seseorang dapat memanggil siapa pun sebagai anaknya kalau dia memiliki kualitas sebagai seorang Bapa. Antara lain dia dapat mencintai Anda secara tulus, dia dapat memberi perhatian dan melindungi Anda, dia memperjuangkan kesejahteraan Anda, dia memperhatikan kesehatan jiwa dan raga Anda; dan segala bobot nilai lainnya. Kalau kita dapat mengatakan kepada kepala Negara sebagai “Bapa Presiden” itu karena beliau memiliki kualitas yang kita sebutkan tadi. Sebaliknya kalau kita katakana kepada kepala Negara sebagai presiden, maka bagaimanakah dia memanggil kita? Tentu “Anak” bukan? Persoalannya adalah “pikiran Anda” tidak cukup luas dan bijak untuk memahami kata “bapa dan anak”. Muslim terlalu kerdil dengan mengatakan bahwa “Bapa”  mengandaikan Dia punya isteri; dan hanya hubungan suami isterilah yang memungkinkan seseorang mempunyai Anak. Demikianlah Muhammad berpikir bahwa kalau kita disebut “anak Allah” maka itu berarti Allah punya istri dan tentu Allah melakukan hubungan seksual sehingga istrinya melahirkan seorang anak. Jadi, kalau demikian, maka agama mana pun tentu menolak gagasan itu. Namun kalau kita sedikit berpikir secara luas, maka sebutan “Anak Allah” bukanlah sesuatu yang menjijikan. Ingat, Yahwelah yang menciptakan manusia. Ini dilanjutkan oleh seorang ayah kita bersama Ibu. Kalau ayah yang menghairkan kita kita sebut Bapa; mengapa Yahwe yang adalah sumber segala yang hidup; yang dari Dia manusia berasal tiba-tiba najis kalau Dia dipanggil Bapa? Jadi, “Allah tiada beranak” tidak dapat dipakai sebagai batu ujian teologi.

e. Apakah berarti “Allah tiada diperanakan?”. Kalau Allah adalah sama dengan Tuhan orang Israel, maka gagasan ini tidak mempunyai bobot teologis karena menarik Allah ke tataran seksualitas.  Pertanyaannya: mengapa kita dapat mengatakan bahwa “Allah tiada diperanakan?” Hal itu mengandaikan apologia terhadap agama atau sekte, atau aliran yang mengajarkan Allah diperanakan. Namun, seluruh agama yang pernah ada tidak pernah mengajarkan bahwa Sang Ada diperanakan. Jika yang dimaksudkan adalah suatu pemikiran falsafati maka apakah gagasan “tidak diperanakan” sama dengan tidak diciptakan? Jika itu yangdimaksudkan oleh Al-Quran, maka mengapa Al-Quran sedemikian bertele-tele untuk menyatakan maksudnya? Jadi, kualitas “tidak diperanakan” tidak dapatdijadikan batua ujian teologi.

f. Apakah berarti “Tiada seorang pun yang setara dengan Dia?” Di sini Allah memberi penegasan bahwa tak seorang pun yang setara dengan diriNya. Apakah itu cukup untuk mengatakan bahwa Allah sama dengan Tuhan Yahwe Tuhan Israel? Tak ada seorang pun yang setara dengan Yahwe Tuhan Israel. Namun dalam hal tertentu Yahwe Israel setara dengan manusia. Dalam hal mencipta Yahwe setara dengan manusia. Namun bobot (kuliatas) mencipta dari Yahwe lebih agung/mulia ajaib daripada manusia. “Menciptanya Yahwe” berbeda dengan “menciptanya manusia” Namun demikian, sudah terkandung di dalamnya ‘suatu kesetaraan’. Manusia adalah gambar Yahwe; artinya ada sesuatu yang sama, atau setara antara Yahwe dan manusia. Itu artinya Allah tidak sama dengan Yahwe Israel. Apa berarti “tiada seorang pun yang setara dengan Dia”? Apakah Dia itu “sosok” yang berada di luar eksistensi manusia? Apakah artinya kalau Dia itu “lebih dekat dengan manusia daripada urat leher manusia itu sendiri”? Pemikiran teologi adalah pemikiran tentang interaksi antara Dia dan manusia. Interaksi mengandaikan “terdapat suatu kesetaraan” sekalipun itu amat kecil. Ada dua subyek yang terlibat di dalamnya dan saling “bergantung”. Ketika “Sang Ada” memakai manusia untuk melaksanakan kehendakNya, apakah kita katakana: Sang Ada tidak dapat melakukannya sendiri sehingga meminta bantuan kita? Haruskah Sang Ada itu dapat berinteraksi dengan manusia karena diturunkannya Al-Quran? Apakah Anda yakin bahwa Muahammad melaksanakan perintah Allah karena Allah tidak dapat melaksanakannya sendiri? Kalau Allah dapat melakukannya sendiri, lalu mengapa Dia harus meminta Muhammad untuk menjadikan manusia masuk Islam? Allah mempercayakan Muhammad karena ada “kesetaraan” antara Allah dan Muhammad. Ingat prinsip ini: Tumbuh-tumbuhan tidak dapat menyuruh binatang-binatang untuk menyediakan makanan baginya. Manusia tidak dapat menyuruh binatang-binatang untuk memasak dan menyediakan makan siang baginya. Seorang manusia dapat menyuruh seorang manusia lainnya untuk menyediakan  sarapan pagi karena ada kesetaraan di dalamnya. Demikianlah Sang Ada dapat memakaia manusia untuk melaksanakan apa yangdikehendakiNya karena ADA KESETARAAN didalamnya. Anda yakin dengan kebenaran ini? Jadi, benarkah tiada seorang pun yangsetara dengan Allah, padahal Allah menyuruh Muhamma melaksanakan kehendakNya?. Allah selalau berkata: “Katakanlah…katakanlah dalam setiap kali mengawali perintahNya. Apa dia sendiri tidak dapat langsung saja menyamaikannya kepada manusia kalau memang tak seorang pun yang setara dengan Dia?  

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More