Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Menafsir Alquran

Pendebat Islam menafsirkan Alquran mereka sekenanya saja. Salah satu contohnya adalah tafsiran atas surat 4:159, 

“Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” 

“Nya” dalam kata “kematiannya”; ditafsirkan oleh pendebat Islam sebagai Isa. Padahal “nya” tidak harus diartikan secara demikian. “Nya” di sini justeru merujuk kepada Ahli Kitab. Jika “nya” ditujukan kepada “Isa” itu berarti Alquran mengakui bahwa Isa telah mati. Menurut Islam, Isa telah mati. Jadi, “nya” dalam kalimat itu adalah “Ahli Kitab”.
Oleh karena sabda Allah dlam Alquran berlaku sepanjang zaman, dan para Ahli Kitab dari dahulu sampai sekarang masih tetap ada, itu berarti Alquran tetap mengakui keimanan para Ahli Kitab kepada Isa. Alquran tetap menganjurkan hingga hari ini agar Ahli Kitab untuk tetap beriman kepada Isa sampai mereka mati. Jadi, teks ini secara tidak langsung menolak semua Ahli Kitab untuk mengikuti Muhammad. Adalah berdosa kalau ada ulama yang ceroboh dengan berusaha mengislamkan Ahli Kitab. Mengapa berdosa? Karena mereka menentang Alquran mereka sendiri. 

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More