Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Muhammad Bermuka Masam (dan Kafir?)

[80.1] Dia (Muhammad) BERMUKA MASAM DAN BERPALING, [80.2] karena telah datang seorang buta kepadanya. [80.3] Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). [80.4] atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? [80.5] Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, [80.6] maka kamu melayaninya. [80.7] Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). [80.8] Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), [80.9] sedang ia takut kepada (Allah), [80.10] maka kamu mengabaikannya. [80.11] Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, [80.12] maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, [80.13] di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, [80.14] yang ditinggikan lagi disucikan, [80.15] di tangan para penulis (malaikat), [80.16] yang mulia lagi berbakti. [80.17] Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?


Ahmed Deedat, membela nabi Muhammad dengan menuduh beliau sebagai orang yang kehilangan kesadarannya ketika si buta datang. “Rasuullah secara tidak sadar merasa kesal (cemberut) karena adanya interupsi dalam ceramahnya”. (The Choice, hlm. 135). Pembaca yang cermat akan melihat bahwa Ahmed Deedatlah yang kehilangan kesadarannya ketika dia menulis tentang nabinya. Mungkin karena terlalu bersemangat untuk membela sang nabi agung. Teks di atas sama sekali tidak ingin melaporkan bahwa Muhammad sedang memberi ceramah, tetapi Allah menegur Muhammad yang bermuka masam ketika seorang buta datang kepadanya. 

Teks menunjukkan kepada kita bahwa seorang nabi yang bernama Muhammad tidak senang kalau ada orang buta datang kepadanya. Muhammad menunjukkan ‘muka masam’ sebagai tanda ketidaksenangan yang ada dalam hati dan budinya. Ia berpaling dan tidak mau bertemu dengan orang buta. Muhammad menolak orang buta, tetapi orang kaya yakni orang yang serba merasa cukup justru diterimanya dengan hati senang. Muhammad mengabaikan orang orang yang mau bertobat kepada Allah. Ini adalah salah satu sifat dan sikap khas nabi agung. Itulah sebabnya Allah memperbaiki sikap nabi dan berkata: sekali-kali JANGAN DEMIKIAN…Binasalah manusia, alangkah amat sangat kekafirannya”. Karena Muhammadlah satu-satunya manusia yang menolak orang buta, maka Muhammad pasti binasa karena amat sangat kekafirannya. 

Berbeda dengan Muhammad yang menolak orang buta yang datang kepadanya, Yesus justru mencari dan menyembuhkan orang-orang seperti itu.

1. Sikap Yesus terhadap orang buta. 

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya." Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu." Maka meleklah mata mereka”. (Matius 9:27-30)

2. Sikap Yesus terhadap orang bisu. 

“Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: "Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel." Tetapi orang Farisi berkata: "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan." Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” (Matius 9:32-36)

3. Sikap Yesus terhadap orang lumpuh. 

“Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat." (Markus 2:2-11)

4. Sikap Yesus terhadap orang berdosa (kafir). 

“Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:10-13)

Ketika berhadapan dengan orang-orang KAFIR dan BERDOSA, Allah dan Muhammad mengandalkan ancaman kutuk, (laknat, sumpah serapah, kebencian), pedang dan neraka, sedangkan Yesus dan Yahwe Tuhan Elohim mengandalkan undangan menerima berkat (dan rahmatNya), pengampunanNya, kasihNya dan pertobatan dari para pendosa dan sorga. Tak satu pun tokoh dunia yang pernah hadir dalam sejarah umat manusia yang seagung Yesus, semulia hatiNya yang suci dan kudus, belaskasihanNya yang tak terkira. Dia adalah Tuhan dan Guru, Penyelamat dan Penebus, Sahabat dan Kebenaran. 



0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More