Blogroll

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat [Ibrani 11:1]. Ia mencahayai dan membaharui akal budi. Akal budi yang diterangi iman mendorong manusia memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna [Lih Roma 12:2]

Tuhan Unik dalam Sifat-sifatNya

Tuhan Yang Maha Kuasa benar-benar unik dalam dzat dan sifatnya. Tak ada cara apapun untuk membandingkanNya, atau dapat dibandingkan, dengan dzat atau sesuatu yang lain yang kita tahu atau dapat kita bayangkan”, tulis Mr Deedat. Pernyataan Mr Deedat ini bertentangan bagaimana Allah memperkenalkan diriNya melalui lukisan 99 sifatNya yang tertera dalam Al-Quran. Artinya pemberian nama, atau pelukisan sifat itu adalah cara untuk melukiskan siapa Allah itu. Jadi, Allah dapat di kenal dan dilukiskan, sekurang-kurangnya Dia dapat ditahui kenal melalui sifat-sifatnya. Lagi pula bagaimanakah kita dapat mengatakan sesuatu itu unik kalau sedikitpun kita tidak tahu dan sedikit pun tidak ada sesutu yang dapat melukiskan tentang Dia, walau hanya dalam bentuk analogia. Dzat seperti apakah itu? Kalau Anda tidak dapat mengetahui bagaimana caranya melukiskan dzat “Kuda Terbang”, kami dapat memahami persoalan Anda. Anda tntu saja tidak dapat mengetahui dan bahkan hanya sekadar membandingkan dengan sesuatu yang lain karena “Kuda Terbang” memang tidak eksistensial. Anda dapat menggambarkan “Kuda Terbang” dengan 99 sifat yang agung tetapi jika Anda tidak mengetahu dzat apakah kudang terbang itu, maka nama-nama yang Anda berikan menjadi sesuatu yang tidak releva. Dapat Anda memberi nama kepada sesuatu yang tidak eksis? Mustahil Anda dapat memberikannya. Seorang ibu dapat memberi nama anaknya Si Polan, Si Fulan hanya karena apa yang dinamakan itu itu ada. Jika Allah itu tidak dapat dikenal maka kecuali melalui namanya, maka itu menyalahi penalaran sederhana sekalipun. Sesuatu diberi nama karena dikenal BUKAN sesuatu diberi nama karena tidak dikenal. Namun demikian ini persoalan orang Islam berkaitan dengan Allahnya yang tidak dapat dikenal. Tidak demikian dengan Tuhannya orang Kristen. Dia dapat dikenal. Ia bercakap-cakap dengan umatNya. Ia dapat dibandingkan atau digambarkan, atau dilukiskan secara analogia dengan segala sesuatu yang sesuai.  Bagi orang Kristen segala nama atauapa pun yang diatributkan kepada Tuhan, itu tidak menggambarkan Tuhan secara keseluruhan, tetapi dengan pelukisan itu, orang Kristen dapat mengenal Tuhannya.

a. Nama-nama Yang Paling Indah
“Dia-lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang memiliki Segala Keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan” (QS Al-Hasyr:23). Ini adalah sebagian nama Allah. Muslim amat bangga dengan semua kata-kata itu. Namun jika Anda mengajukan pertanyaan kepada Muslim: tunjukan kepada kami dalam hal apakah Anda mengalami Allah adalah Raja, atau Maha Sejahtera, Keamanan, Perkasa dan lain-lain? Umumnya Islam tidak akan menjawab sebab mereka memang tidak mengalaminya. Kalau mereka tidak mengalami apa yang mereka namakan, maka apakah nama-nama itu masih berguna? Ini sama dengan: orang Muslim beranggapan bahwa uang satu milyar yang ada dalam ide lebih besar daripada uang seribu perak yang ada di tangan setiap Muslim.  Mengapa nama-nama itu dikenakan untuk Allah? Mr Deedat menjawab karena Allah unik dalam dzatNya. Tak ada cara apa pun untuk membandingkannya dengan dzat atau sesuatu yang lain. Mr Deedat mencatat: Nabi Shallallahu Alihi wa Sallam tersebut telah memberi kita 99 sifat. Tetapi yang membuat daftar tersebut merupakan mujizat dan bersifat ketuhanan adalah satu yang dihilangkan dari daftarnya”. Kata “Bapa”, itulah mujizat!”. Penting diingat bahwa  nama-nama itu diberikan oleh Muhammad untuk Allah. Artinya Allah tidak mewahyukan namaNya. Ini mempertegas bagaimana Muhammad sangat anti dengan orangYahudi dan trutama Kristen. Namun orang Kristen harus bersyukur karena secara demikian kita makin tahu bahwa Allah tidak sama dengan Yahwe. Allah bukanlah “AKU ADALAH AKU ADA”. Lalu dari mana Muhammad mendapatkan nama-nama itu? Tidak ada yang baru dari nama-nama itu. Semua ada dalam Alkitab. Ingat untuk Dia yang adalah Sang Ada, essensinya adalah serentak eksistensinya. Aku adalah Aku Ada yang mana orang Israel menyebutnya dengan Yahwe atau Elohim.   

b. Bapa di Sorga
Kita beruntung karena kita tidak lagi menjadi hamba di hadapan Tuhan. “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat  karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu” (Yoh 15:15) Ini amat berbeda dengan Muslim yang selamanya menjadi hamba Allah. Kita dapat merasakan perbedaan itu. Jika sebelum Kristus datang, kita adalah hamba, namun setelah Ia lahir, hidup, wafat dan bangkit, serta mengajarkan kita tentang BapaNya, kita serta-merta menjadi orang merdeka. Kita dapat mengetahui bahwa kita tidak sedang percaya kepada Dia yang jauh dari kita, kita tidak beriman kepaa Dia yang kita kenal hanya lewat namaNya. Kita sungguh bersentuhan dengan Dia yang telah menyembuhkan luka kita, Dia yang telah mengangkat kita menjadi anak-anakNya. Bapa adalah Raja segala bangsa. “Besar dan ajaib segala pekerjaanMu ya Tuhan Elohim, Yang Maha Kuasa! Adil dan benar segala JalanMu, ya Raja segala bangsa. Siapakah yang tidak takut ya Tuhan dan yang tidak memuliakan namaMu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datangdan sujud menyembah engkau sebab telah nyata kebenaran segala penghakimanMu” (Why 15:3-4). Bapa adalah Raja yang membebaskan hutang dosa kita. “Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belaskasihan akan hamba itu sehingga Ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya” (Mat 18:23). Seorang hamba tidak pernah menjadi anak, seorang hamba tidak pernah menjadi pemilik, seorang hamba tidak pernah menjadi tuan. Seorang hamba tidak akan pernah menjadi satu keluarga Yahwe. Hamba tetaplah orang luar. Seorang hamba tetaplah menjadi pribadi yang tidak merdeka. Kita telah menjadi anak karena Dia yang sulung telah mendamaikan kita dengan BapaNya. Agama selain Kristen tetap menjadi orang luar ketika mereka berhadapan dengan Sang Ada. Mereka tetap menjadi pengemis yang meminta-minta. Mereka semua, terutama Islam akan tetap menjadi orang upahan yang berperilaku budak. 

c. Satu-satunya Anak Keturunan, Dan lain-lain
Muslim menolak bahwa “Yesus adalah Putera Elohim”. Beginilah Mr Deedat mengungkapkan kebenciannya: “Menurut Islam ini adalah pengucapan yang paling buruk, mensifatkan kepada Tuhan sebuah sifat hewan, fungsi seks hewan yang lebih rendah.”  Kita tidak perlu cemas dengan kebencian seperti itu. Walaupun demikian, Muslim setuju bahwa semua kita ini dapat dikatakan sebagai putera Tuhan, tetapi itu hanya “dibuat” (maksudnya hanya kiasan saja) dan bukan “anak keturunan” (sungguh-sungguh sebagai putera Tuhan). Dengan itu Muslim mengaku bahwa Yesus anak Tuhan sama seperti manusia seumumnya. Pemahaman  Anak “keturunan” menurut Muslim adalah hasil aktifitas seksual dan ini perkataan yang paling buruk. Jika seperti itu, memang benar. Namun apakah orang Kristen bermaksud seperti itu? Sama sekali tidak. Tak ada satu pun catatan Alkitab atau dogma, atau teologi Kristen yang memahami ataumengajarkan bahwa “Yesus adalah hasil aktifitas seksual Tuhan Yang Maha Kuasa. Satu-satunya teologi yang berbicara tentang Yesus sebagai hasil aktifitas seksual Tuhan adalah Muslim (khususnya Mr Deedat), atau tuduhan dari Muslim. Muslim menuduh dan hidup dalam tuduhan itu. Dan itulah kesulitannya mengapa Muslim hidup dalam kebencian yang kronis terhadap orang Yahudi dan Kristen. Mereka tidak mau mengerti dan tidak mau mendengar orang Kristen. Muslim menciptakan sebuah teologi yang seolah-olah berasal dari teologi Kristen, padahal mereka sendiri yang mengembangkannya. Mereka sendiri pulalah yang membantahnya. Tetapi akibatnya? Orang Kristen dicaci maki dan disumpah serapah. Aneh!  Manusia sejak dicipta (manusia pertama Adam) sesungguhnya anak/putera Tuhan juga. Ia berbeda dengan “keputeraan” Yesus sebab ia dibentuk dari debu tanah. Keturunan “debu tanah” ini memang tidak pernah sungguh-sungguh putera Tuhan. Anak-anak debu tanah itu hanya “dijadikan” anak-anak Tuhan. Sebaliknya Yesus lain. “Kata malaikat itu kpadanya: “Jangan takut hai Maria sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan di hadapan Elohim. Sesungguhnya engkauakan mengandung dan akan melahirkan seoranganak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akanmenjadi besar dan akan disebut Putera Elohim Yang Maha Tinggi. Dan Yahwe Elohim akan mengaruniakan kepadaNya tahta Daud, bapa leluhurNya dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaanNya tidak akan berkesudahan. Kata Maria kepada malaikat itu: Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum (tidak mengenal) suami?” Jawab malaikatitu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmudan kuasa Elohim YangMaha Tinggi akan menanungi engkau; sebb itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus Anak (Putera) Elohim” (Luk 1:30-35) Yohanes mencatat: “Padamulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengn Elohim dan Firman itu adalah Elohim. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Elohim. Segala sesuatudijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia” (Yoh 1:1-4).Kami sadar bahwa  dogma ini menyakitkan hati jutaan Muslim. Namun sakit hati itu di luar maksud kami. Kami tidak akan berhenti mewartakan bahwa Yesus adalah Putera Elohim dan Tuhan hanya karena Muslim merasa tersakiti. Kami hanya meneruskan dan mengimani apa yang telah diajarkan oleh Yesus sendiri, diteruskan oleh para rasulNya dan kini diemban oleh Gereja. Adam dari debu tanah. Dialah manusia pertama. Dari Adam lahirlah manusia. Bapa dari manusia adalah Adam. Seluruh anak Adam adalah “anak manusia” kemudian  “dijadikan” anak Elohim; tetapi Yesus adalah Anak Elohim yang kemudian dilahirkan  sebagai sungguh manusia. Yesus sendiri menyatakan diriNya sebagai Putera Elohim (lih Yoh 3:16-18). Hanya Yesus sendirilah yang sungguh-sungguh Putera Elohim. Jadi, Elohim adalah Bapa dari Yesus. Tidak heran Yesus menyebut Elohim dengan kata Bapa. Itulah sebabnya Muhammad tidak berani mencantumkan “Bapa” dalam 99 sifat Allahnya. Bapa adalah khas sebutan Yesus untuk Elohim. Tidak ada yang lain mampu menyebut Elohim sebaga bapanya kecuali sebagai kiasan saja.  

d. Perubahan Ma’na (Makna)
“Bapa adalah khas sebutan Yesus untuk Elohim”. Kalimat ini membuat berang Mr Deedat. Dia kemudian mengklaim bahwa “kata yang terhormat “Bapa” menjadi terkontaminasi oleh kepercayaan”. Maksudnya, kata “Bapa” kini bermakna kotor dan tercemar; sama seperti kata “gay” yang tadinya berarti baik (senang dan riang gembira), kini berubah menjadi homoseksual (dalam pengertian yang paling buruk). Apa pun yang ada dalam benak Muslim tentang kata “Bapa” itu adalah persoalan mereka. Bagi orang Kristen pemakaian kata “Bapa” untuk Elohim tidak bermakna sebagaimana dimengerti oleh Mr Deedat. Jika Muslim memahaminya sebagai sesuatu yang buruk dan melecehkan Allah, maka jangan dikenakan untuk Allah. Kata sebagai kata bermakna tidak lebihdari arti aslinya. Namun sebuah kata sebagai bentuk ungkapan dan komunikasi dirin dan apa yang ada di luar diri, pasti mengalami perubahan. Makna sebuah kata bisa ke menjadi bermakna buruk, tetapi bisa juga menjadi bermakna lebih baik. Ini tergantung dari “untuk mengungkapkan apa” maka kata itu dipakai. Jika kata “Bapa” tadinya terhormat, lalu kata yang sama dikenakan untuk Elohim, dalam hal kata itu menjadi buruk dan tercemar? Kata itu menjadi tercemar ketika “otak orang muslim” menghubungkan kata “Bapa dengan kelamin”. Ini berbeda dengan pikiran orang Kristen yangmenghubungkan kata “Bapa dengan kasih, perlindungan” dan sebagainya. Anda dapat merasakan sendiri perbedaan carapikir antara orang Kristen dengan orang Islam. Muhammad datang terlambat. Ia kalah cepatdengan Yesus. Itulah sebab Mhammad dan Muslim selalu terbelakang dan tertinggal jauh dari orang Yahudi dan Kristen.
          
e. Rabb Atau Abb
Apakah seseorang menggunakan kata Rabb atau Abb untuk Tuhan bukanlah hal yang penting jika itu menyangkut kata sebagai kata. Kata tanpa roh yang terkandung di dalamnya adalah kata-kata yang mati. Roh apa yang membuat sebuah kata menjadi kata yang bermakna adalah Roh Kebenaran; maksudnya “kata” mengungkapkan sesuatu yang “benar”. Jika kita memakai kata “Ujang” untuk “seorang pemuda yang belum beristri”, itu berarti kata “ujang” diberi makna terhadap pemuda Minang. Ada pemberian “makna tertentu” kepada sebuah kata. Pemberian makna itulah yang jauh lebih penting. Muslim bangga dan menjadikan 99 nama Allah sebagai mujizat hanya karena Muhammad tidak memakai kata “Abb” dalam perbendaharaan keagamaannya. Terlalu naïf untuk mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Muhammad adalah mujizat. Mengapa? Jika kata “Ujang” dipakai oleh orang Padang untuk menggambarkan “seorang pemuda yang belum beristri” lalu seorang Bengkulu datang ke Padang memakai kata yang sama (Ujang) untuk menggambarkan “seorang gadis yang belum bersuami” tentu orang Padang mengalami kesulitan untuk memahami maksud orang Bengkulu tersebut. Ia terpaksa mengeluarkan kata “Ujang” dari perbendahaarn kamus Bengkulunya, kemudian mencari kata yang lain. Tidak mungkin kata “Bapa” dipakai untuk menggambarkan “Allah” dan Yahwe/Elohim. Jadi, sangat masuk akal. Muhammad mengeluarkan kata “Abb” dari pendedahaaran keagamaanya karena “Allah tidak sama dengan Bapa”. Allah adalah Dewa sesembahaan orang kafir Arab pra Islam; yang kemudian diislamkan oleh Muhammad, sedangkan Abb adalah Yahwe Elohim Israel. Jadi, apa yang dilakukan oleh Muhammad adalah sbuah mujizat.

f. Menyelesaikan Perdebatan
Kiranya sebuah perdebatan yang baik menghasilkan sebuah solusia atas suatu masalah. Argmen-argumen yang kami ketengahkan di sini ditulis untuk memperlihatkan bahwa apa yang dikemukakan oleh Mr Deedat sama sekali tidak berdasar. Ia tidak lebih dari seorang pendusta yang mengelabui para pembacanya, terutama umat Muslim. Mata Mr Deedat tertutup dan telinganya bisu ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa Kitab Suci Al-Quran tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh dunia dewasa ini. Al-Quran mungkin dapat menyelesaikan masalah perceraian, masalah poligami (poliandri dan poligini) secara verbal (memberi kesan bahwa masalahnya selesai tetapi sebenarnya tidak). Namun Al-Quran sama sekali tidak dapat tegak berdiri ketika berhadapan dengan para kritisi Kristen, Al-Quran bungkam terhadap masalah terorisme (sebaliknya menciptakan terorisme), ia tidak mampu menyelesaikan konflik bersaudara yang terjadi antara Negara-negara Islam sendiri. Al-Quran tidak mampu meredam kebencian orang Muslim terhadap orang Yahudi dan Kristen; Al-Quran tidak sanggup menenangkan Muslim yang sangat anti terhadap Negara Amerika dan Eropa.

  
g. Panggilan Ke Swaziland
Ada sebuah anekdot: Anak gadis Pak Ustad terkenal saleh dan taat beribadah. Shalat lima waktu dijalani dengan setia. Sikapnya terhadap orang tua dan lingkungan juga baik. Anehnya, suatu hari ia melaporkan dirinya bahwa ia sering muntah-muntah dan ternyata sudah hamil. Pak Ustad sangat heran dan terkejut. Ia menduga bahwa terjadi suatu mujizad pada anaknya. Ia mencoba memeriksakan anaknya ke dokter kandungan. Kemudian Pak Ustad memberi penjelasan panjang lebar tentang anaknya dan merasa sangat kaget ketika mengetahui anaknya hamil, padahal anaknya sering memakai jilbab.  Pak Dokter  kemudian memeriksa si gadis dan hasilnya luar biasa. “Anak Bapak’, demikian kata Pak Dokter kepada Pak Ustad, “memang memakai jilbab, tetapi ia tidak memakai celada dalam”. Pak Ustad langsung tertegun. Mr Deedat terlibat dalam masalah janda di Swaziland. Menurut ceriteranya, ia terlibat menyelesaikan masalah janda di sana; terutama masalah yang berkaitan dengan aktifitas kelamin. Muslim rata-rata ahli di bidang itu. Kami sarankan, jika Anda mengalami problem sekitar “kelamin” panggilah Pak Ustad,   atau Pak Haji di tempat terdekat Anda. Dia akan memberikan solusi yang terbaik. Orang-orang Muslim senang dengan tampilan lahiriah. Mereka suka pamer bahwa mereka sedang puasa, mereka suka berteriak di toa-toa besar di tengah kota bahwa mereka sedang shalat (sembahyang). Mereka memaksa orang-orang non Muslim untuk memakai Jilbab. Mereka juga suka menyelesaikan persoalan rumah tangga “tetangga”, tetapi mereka tidak mampu menyelesaikan masalah keluarganya. Kalau orang Kristen Barat bercerai, maka mereka pantas dicela, namun kalau orang Muslim bercerai mereka malah bergembira. Mereka beranggapan bahwa perceraian adalah cara yang terbaik untuk menyelesaikan persoalan keluarga dan cara yang terbaik untuk memperoleh sorganya Allah.   Mr Deedat mampu menyelesaikan persoalan “janda’ di rumah “tetangga” tetapi ia tidak mampu menyelesaikan “pelacuran” di “rumahnya” sendiri. Ini benar-benar luar biasa.

h. “Perjanjian Terakhir”
Bagaimanakah “Perjanjian Terakhir” itu berbicara tentang “pelacuran’ dalam rumah tangga Islam? Sebuah pelacuran adalah pemaksaan identitas agama terhadap orang lain; pemaksaan sebuah undang-undang keagamaan (Islam) terhadap umat non Muslim; pengusiran (pembunuhan) terhadap orang-orang Kristen (dan non Muslim lainya) dari daerah-daerah mayoritas Muslim, pembakaran terhadap gereja-gereja; penolakan terhadap kepemimpinan seorang non Muslim (Kristen) di negara-negara mayoritas Muslim, penolakan teologis terhadap kepemimpinan politik seorang perempuan; penolakan terhadap kebebasan berekspresi, berkumpul dan berpendapat dan lain sebagainya. “Pelacuran-pelacuran” tersebut harus diselesaikan oleh Al-Quran. Semua hal yang dapat kita sebut itu (dan masih banyak masalah lainnya) adalah masalah dalam rumah tangga Islam dan Al-Quran, kitab “Perjanjian Terakhir” itu dimintakan pertanggungjawab atasnya.     

i. Sidik Jari Tuhan.
Apa pentingnya Al-Quran mengatur para perempuan yang baru saja ditinggal mati oleh suami. Mengapa ia begitu menaruh perhatian terhadap kasus-kasus seperti itu. Seorang yang sedang berduka dan ditinggal oleh suaminya; memang lebih baik dia segera menikah agar kesedihannya segera berakhir. Namun itu bukanlah solusi yang terbaik, jika tidak sebaiknya dia menahan nafsunya untuk tidak segera menikah lagi. Seseorang yang segera menikah setelah ditinggal mati suaminya tidak akan membahayakan Anda dan tidak pula akan mengganggu masyarakat luas. Jika Anda adalah seorang janda yang ingin menikah lagi, ya menikahlah. Tak peduli apakah Anda baru ditinggal mati satu hari oleh pasangan Anda.  Hal itu tidak membuat Anda berdosa hanya karena belum genap 3 atau empat bulan berselang dengan kematian pasangan Anda. Apa yang membuat Anda berdosa adalah kalau Anda merebut suami atau istri (pasangan) orang lain. Apa yang membuat Anda berdosa adalah kalau Anda menikah secara tidak halal. Apa yang membuat Anda berdosa adalah kalau Anda hanya menginginkan harta dari pasangan yang Anda nikahi. Apa yang membuat Anda berdosa adalah kalau Anda menikah secara ganda (poligami) dan berlaku tidak adil terhadap pasangan Anda. Jadi, Anda sama sekali tidak berdosa hanya karena belum genap waktu 3 atau empat bulan rentang waktu dari kematian pasangan Anda. Anda dapat melihat apakah rentang waktu itu yang membuat Anda berdosa atau tidak berdosa dalam sebuah perkawinan. Anda juga dapat menilai: apakah “waktu” menjadi fokus perhatian Tuhan yang Maha Tinggi dalam kasus tadi? Anda dapat menjawabnya secara jujur.  Ingat: dalam kasus kawin setelah ditinggal mati oleh pasangan Anda; penyelesaian yang ditawarkan oleh Al-Quran sama sekali tidak memberi bobot nilai teologis yang dapat dipertanggungjawabkan. Jadi, Surat Al-Baqara 234. 228.235 yang didert-deretkan oleh Mr Deedat sama sekali tidak memberi bekas sidik jari Tuhan. Anda ditantang untuk menulis surat semisal Al-Quran. Setelah Anda menulis denga baik dan bahkan melebihi mujizat Al-Quran; Mr Deedat lantas berkata: “Mereka telah melakukan plagiat terhadap kitab suci Al-Quran dengan mencuri kata-kata dan rangkaian kata bahkan gaya bahasa, tanpa melupakan bismilah”.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More